Emmy Herlina, berdomisili di Bandar Lampung, adalah seorang ASN yang juga aktif sebagai penulis dan Promotor STIFIn. Dunia kepenulisan bukan hal baru baginya. Sejak kecil ia telah mencintai aktivitas menulis, meski baru menekuninya secara serius sejak tahun 2017. Bagi Emmy, menulis bukan sekadar hobi, melainkan ruang ekspresi, ruang tumbuh, sekaligus ruang penyembuhan.
Perjalanan literasinya telah menorehkan capaian membanggakan. Ia berhasil menembus penerbit mayor melalui buku antologi bersama penulis lain dan pernah dinobatkan sebagai penulis terbaik hingga meraih piala penghargaan. Namun, di balik prestasi itu, ada proses panjang yang tidak selalu mudah.
Keikutsertaannya dalam Training of Trainer bersama Indscript X JA dilandasi satu hal mendasar: keinginan untuk berani. Selama ini, ia telah beberapa kali berbagi secara daring, tetapi belum memiliki keberanian untuk benar-benar melangkah sebagai trainer. Padahal, banyak pihak yang telah memintanya untuk mengisi pelatihan. Ia sadar, untuk naik kelas, ia perlu menaklukkan ketakutan dalam dirinya sendiri.
Tantangan terbesar yang ia hadapi bukan sekadar kurang percaya diri, tetapi juga gangguan kecemasan dan serangan panik yang telah ia tangani bersama psikiater selama empat tahun terakhir. Namun justru dari titik inilah kekuatannya lahir. Ia memahami betul bagaimana rasanya merasa rendah diri, terpuruk, dan berjuang bangkit. Dan dari pengalaman itulah ia ingin membantu orang lain.
Baginya, meningkatkan kapasitas sebagai trainer bukan sekadar soal karier, melainkan panggilan berbagi ilmu. Ia berharap, apa yang ia ajarkan kelak bisa menjadi amal jariyah—kebaikan yang terus mengalir bahkan ketika ia telah tiada. Ia menyadari, jika tidak mengambil langkah ini, mungkin ia akan kehilangan kesempatan untuk benar-benar berkembang sebagai penulis sekaligus pendidik.
Sebagai trainer, Ia ingin memberdayakan perempuan agar berani menuliskan kisah hidup mereka. Ia juga terbuka mendampingi para pelajar. Isu yang paling dekat di hatinya adalah kesehatan mental—depresi, rasa rendah diri, dan krisis kepercayaan diri pada perempuan—karena ia pernah berada di titik itu.
Melalui kelasnya, ia ingin menghadirkan satu pesan penting: menulis adalah terapi. Menulis adalah sarana healing. Ketika nama kita tertera di atas sebuah karya, ada rasa bangkit dan percaya diri yang tumbuh perlahan namun pasti. Dalam 3–5 tahun ke depan, ia ingin melihat lebih banyak perempuan yang berdaya melalui tulisan mereka, lebih mengenal diri sendiri, dan berdamai dengan luka masa lalu.
Yang membedakannya dari trainer lain adalah kemampuannya mengawinkan literasi dengan genetika melalui pendekatan STIFIn. Ia percaya, setiap orang memiliki mesin kecerdasan berbeda. Dengan memahami genetika masing-masing, proses menulis bisa menjadi lebih alami, menyenangkan, dan tepat sasaran.
Goal terdekatnya sederhana namun bermakna: berani membranding diri sebagai trainer, minimal trainer literasi di komunitasnya sendiri terlebih dahulu. Ia ingin membangun personal branding di bidang literasi berbasis genetika yang dapat dipadukan dengan pendekatan kesehatan mental. Soal income, ia memilih tidak menargetkan angka terlebih dahulu. Fokus utamanya adalah keberanian untuk melangkah.
Program yang ingin ia ciptakan setelah lulus dari TOT adalah kelas literasi berbasis genetika—sebuah kelas yang membantu peserta menulis sesuai gaya alami kecerdasannya. Ia pun telah memiliki komunitas yang siap dikelola, yaitu Genetica Literary and Mental Health.
Tentang program Together Goes To School – Indscript Creative, Emmy memahami pentingnya membawa literasi ke sekolah-sekolah untuk menjaga cinta membaca dan menulis sejak usia dini. Ia melihat peluang kolaborasi yang besar dengan menggabungkan program literasi dan pendekatan genetika, sehingga pelajar dapat menulis sesuai gaya belajarnya masing-masing. Ia bahkan telah mencoba materi “Menulis Berdasarkan Genetik” secara online.
Kesiapan materinya sudah ada. Yang sedang ia bangun adalah keberanian.
Ia memandang profesi trainer sebagai bagian dari karier jangka panjang, insyaallah. Untuk saat ini, ia siap berkontribusi secara daring pada malam hari di hari kerja, dan membuka peluang sesi luring minimal sebulan sekali.
Tiga tahun ke depan, ia membayangkan dirinya sebagai penulis yang sekaligus menjadi trainer—mewujudkan “satu bintang terang” dalam dirinya sesuai dengan genetika yang ia yakini.
Satu kalimat yang merangkum visinya:
Ia ingin dikenal sebagai Trainer Genetika Literasi—yang membantu orang menemukan cara menulis terbaik sesuai jati diri mereka.


