8.6 C
New York
Senin, Maret 9, 2026

Buy now

spot_img

Menjadi Trainer, Jalan Pengabdian

Radwi Yulias, S.Pd., adalah seorang perempuan dari Sinjai, Sulawesi Selatan, yang memilih tetap berdaya meski kini berperan sebagai Ibu Rumah Tangga. Perjalanan profesionalnya dimulai sejak tahun 2005 sebagai operator komputer di SMPN Kaluku, lalu berlanjut sebagai guru Komputer dan Bahasa Indonesia di SMAN 6 Wajo hingga tahun 2019. Empat belas tahun di dunia pendidikan bukan sekadar rentang waktu, melainkan jejak pengabdian yang membentuknya menjadi pribadi yang matang dalam literasi, inspirasi, dan edukasi.

Bagi Bu Radwi, pencapaian paling membanggakan bukanlah jabatan atau penghargaan, melainkan kesempatan menjadi saluran ilmu bagi murid-muridnya serta konsistensinya melahirkan karya yang mampu menyentuh sisi emosional pembaca. Ia percaya, tulisan bukan hanya rangkaian kata, melainkan jembatan rasa dan cahaya kesadaran.

Keputusannya mengikuti Training of Trainer bersama Indscript X JA lahir dari kerinduan untuk kembali meluaskan kebermanfaatan—meski dari rumah. Ia ingin tetap berdaya dan memberdayakan, membantu anak-anak bangsa tumbuh tidak hanya unggul secara intelektual (IQ), tetapi juga mendalam secara spiritual (SQ), matang secara emosional (EQ), dan tangguh menghadapi tantangan hidup (AQ).

Di fase kehidupannya saat ini, Bu Radwi mencari kedalaman makna. Ia ingin naik kelas—dari sekadar IRT dan pengajar menjadi pendidik sekaligus penggerak. Ia menyadari adanya tantangan mental berupa rasa pesimis terhadap diri sendiri yang ingin ia dobrak. Baginya, meningkatkan kapasitas sebagai trainer adalah keniscayaan di tengah zaman yang terus bergerak. Jika tidak bertumbuh, seseorang akan tertinggal atau bahkan terlindas oleh perubahan.

Sebagai calon trainer, Bu Radwi ingin fokus mendampingi para ibu dan remaja—dua generasi kunci yang menentukan arah masa depan. Ia resah melihat terkikisnya literasi rasa dan moral di era instan ini. Melalui kelas-kelasnya kelak, ia ingin menghadirkan kemampuan fast writing dan fast thinking yang tetap berlandaskan nilai SQ, EQ, dan AQ. Bukan sekadar cepat, tetapi juga dalam, berkarakter, dan berdaya juang.

Dalam 3–5 tahun ke depan, ia bercita-cita melahirkan buku-buku inspiratif serta menyelenggarakan program pelatihan rutin yang menguatkan karakter masyarakat. Keunikannya terletak pada pendekatan accelerated learning dengan sentuhan hati—heart-based approach—yang menjadikan pembelajaran bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga sentuhan nurani.

Goal mengikuti TOT ini mencakup tiga aspek sekaligus:

Personal: menemukan kedamaian dalam berkarya.

Profesional: menjadi Trainer Tersertifikasi.

Finansial: membangun kemandirian ekonomi dari hobi yang dibayar.

Ia ingin membangun personal branding sebagai trainer dan penulis literasi inspiratif berbasis pengembangan diri dengan pendekatan hati. Meski income bukan fokus awalnya, ia menargetkan kemandirian ekonomi yang tumbuh secara organik dalam satu tahun ke depan.

Program yang ingin ia ciptakan selepas TOT adalah kelas “Menulis dengan Hati” dan workshop “Menulis sebagai Obat dan Terapi.” Ia telah memiliki komunitas awal—rekan pendidik, siswa, dan keluarga—yang siap ia rangkul dan kelola.

Tentang program Together Goes To School – Indscript Creative, Ia memahami bahwa gerakan ini adalah aksi sosial nyata melalui workshop menulis, donasi buku, hingga edukasi pengelolaan sampah. Ia melihat urgensinya sangat besar: sekolah membutuhkan figur trainer yang mampu menghadirkan perspektif segar di luar kurikulum formal.

Kerinduannya pada dunia sekolah membuatnya ingin kembali, kali ini dengan bekal baru. Ia ingin menanam benih-benih kebaikan di akar masa depan bangsa. Jika diberi kesempatan mengisi sesi, ia siap membawakan materi seperti “Membangun Karakter Lewat Kata” dan “Menemukan Jati Diri di Era Digital.”

Komitmennya jelas dan tegas. Ia memandang profesi trainer sebagai jalan pengabdian ketiga setelah menjadi guru dan ibu. Ia siap mendedikasikan waktu dan energi di sela peran utamanya sebagai ibu untuk riset mendalam dan pendampingan audiens secara intens.
Tiga tahun ke depan, ia membayangkan dirinya sebagai trainer dan penulis yang kehadirannya selalu dinanti, karyanya menyentuh hati, dan hidupnya dianugerahi keberlimpahan dari berbagai arah.

Satu kalimat yang merangkum jati dirinya:

Ia ingin dikenal sebagai trainer yang tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga menyapa lembut nurani para pembelajarnya.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles