Ketika Pola Asuh dihadapkan dengan Langkah Mencintai Anak
Sudah sewajarnya jika orang tua memiliki cara yang berbeda-beda dalam mencintai buah hatinya. Namun, pemenuhan tangki cinta menjadi bumerang manakala caranya tidak tepat, misalnya selalu menuruti apapun permintaan anak.
Kebiasaan ini bukan membuat anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh, melainkan bermental peminta. Di samping itu, terlalu memanjakan anak secara tidak langsung sudah menutup kesempatan untuk berkembang secara alami. Sehingga tidak mengherankan jika mereka yang biasa dimanja memiliki kecenderungan egois dan sulit beradaptasi karena terbiasa didengar.
Padahal, anak adalah amanah yang harus dijaga dan dirawat agar tumbuh sesuai dengan fitrahnya. Hal ini berarti bahwa sebagai orang tua, sudah semestinya wajib mendidik dan mencintai anak sesuai dengan porsinya. Dalam kaitannya dengan mendidik anak tentu tidak terlepas dari pola asuh yang mana tidak bisa diterapkan secara sama pada tiap keluarga.
Pola Asuh Metode Unschooling
Sebagaimana dengan berita yang viral di salah satu media sosial. Di mana dalam berita tersebut terdapat sebuah keluarga yang menerapkan pola asuh berbeda pada anaknya.
Disebutkan bahwa Plenger Family memiliki seorang anak bernama Jane. Menariknya, sejak kecil Jane sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dari konten miliknya, dikatakan bahwa Jane selama ini menerapkan metode unschooling – sebuah model pendidikan alternatif yang fokus pada minat dan rasa ingin tahu anak tanpa mengikuti kurikulum sekolah formal. Keseharian Jane bukan hanya seorang konten kreator, melainkan juga seorang pengusaha cilik.
Jane biasa membuat cookies untuk kemudian dijual. Dari penjualan cookies tersebut, Jane bisa membeli apa saja mainan yang dia inginkan.
Tentu saja hal ini menimbulkan kontroversi. Pasalnya Jane adalah anak di bawah umur yang seharusnya menempuh program wajib belajar sebagaimana dicanangkan oleh pemerintah – yaitu 12 tahun dengan tambahan masa pengenalan usia dini di PAUD selama satu tahun. Ayah Jane yang mantan dosen, menekankan bahwa Jane tidak perlu sekolah. Begitu juga ibunya yang pernah menjadi seorang guru, berpendapat bahwa sekolah itu mahal, penuh dengan tekanan akademis dan rentan perundungan. Oleh sebab itu keduanya sepakat untuk tidak menyekolahkan Jane karena hal tersebut juga tak menjaminnya bisa menjadi orang yang sukses.
Karena tanpa sekolah pun Jane mampu berpenghasilan di atas rata-rata tidak seperti anak seusianya.
Dampak Positif Metode Unschooling
Metode unschooling pertama kali dikenalkan oleh Jhon Holt – seorang penulis dan advokat pendidikan alternatif pada tahun 1970-an. Metode ini menekankan bahwa sekolah bukan satu-satunya ruang belajar dan sistem pendidikan formal acapkali mengesampingkan rasa ingin tahu alami anak.
Sejatinya metode ini memiliki nilai positif, mengingat prinsipnya yang child led learning, natural learning atau self directed education bisa lebih memaksilkan potensi atau kreativitas anak, memupuk kemandirian dan rasa percaya diri. Namun tentunya tanpa mengurangi porsi kebutuhan fitrahnya – merasa kompeten, memiliki otonomi dan terhubung dengan lingkungan sekitarnya.
Di sinilah nampak jelas perbedaannya yang mengarah pada kritik sosial. Bahwa kedua orang tua Jane telah membentuknya sedemian rupa tanpa melihat lebih dekat pada Jane. Hak pendidikan yang seharusnya dia rasakan justru terampas lewat jadwal yang dibuat kedua orang tuanya. Begitu pula hak untuk bersosialisasi. Padahal secara prinsip, metode unschooling itu bukan tidak belajar sama sekali, melainkan mengajak anak belajar langsung dalam kehidupan sehari-hari, serta pengalaman nyata dan rasa ingin tahu.
Dari sinilah semestinya pola dan sistemnya diterapkan, agar dalam pelaksanaannya nanti tidak ada yang luput atas perhatian kita pada kebutuhan fitrah anak.
Perlunya Pendampingan Orang Tua yang Tepat
Di usia 12 tahun, komunikasi verbal Jane terkesan kaku dan datar, tidak seperti komunikasi dua arah pada umumnya. Ini menandakan adanya sesuatu yang hilang dalam fase tumbuh kembang Jane – bersosialisasi. Padahal melalui sosialiasi anak akan mendapat banyak pengalaman serta pelajaran berharga. Dan tentu saja sebagai mahluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Selain itu, sebagian besar dari isi konten mengarah pada penekanan nilai yang mengarah pada bagaimana menghasilkan cuan.
Jika hal ini terus dibiarkan, lambat laun Jane akan tumbuh seperti robot yang biasa diprogram oleh pembuatnya. Sementara itu kita tidak pernah tahu potensi besar apa yang sebenarnya Jane miliki sejak lahir. Selain itu, potensi dan minat anak pada umumnya berkembang sesuai dengan ketertarikannya pada suatu hal. Saat anak merasa enjoy sekalipun dilakukan dalam durasi yang lama dan berulang, bisa jadi di sanalah passion sebenarnya. Sebaliknya, jika suatu kegiatan yang dilakukan berulang tanpa menimbulkan kesan sama sekali bahkan timbul kebosanan, bisa dipastikan adanya unsur tekanan di baliknya.
Metode unshcooling bisa lebih maksimal jika pendampingan orang tua mampu menutup celah kekurangannya. Bagaimanapun, anak yang jauh dari interasi sosial rentan menemui keterbatasan dalam latihan interaksi kelompok. Orang tua bisa mengantisipasinya dengan jalan mengikuti komunitas sesama pengguna metode unschooling atau mengajak anak pada kegiatan ekstrakurikuler yang melatih interaksi kelompok. Dengan demikian anak akan tetap terhubung dengan lingkungan sekitar.
Penutup
Pada dasarnya tidak ada pola asuh yang benar-benar sempurna. Apapun metode yang diterapkan sejatinya hak personal sebuah keluarga yang pasti sudah dipertimbangkan dengan matang. Namun dalam pemilihannya tetap harus memperhatikan aspek kebutuhan psikologis anak, agar jika mereka telah dewasa nanti mampu menempatkan diri dan terlibat secara langsung dalam interaksi sosial. Dengan demikian anak akan bertumbuh secara alami bukan semata karena materi ataupun memandang sesuatu dengan nilainya serta dikte orang lain.


