Infoindscript.com – Jepara, 24 Februari 2026
Banyaknya orang tua yang membagikan aktivitas atau tumbuh kembang anak di media sosial, menjadi kekhawatiran tersendiri. Terutama yang banyak dilakukan oleh mama-mama muda. Fenomena ini biasa disebut dengan sharenting.
Media sosial sudah dianggap sebagai ruang publik yang aman untuk menyimpan berbagai aktivitas anak, berbagi momen kebahagian dan lainnya. Sekilas memang terlihat wajar. Tapi tahukah jika sekali kita upload di media sosial atau internet jejak digital itu akan tetap ada. Bisa bertahan sangat lama dan dapat diakses oleh siapa saja.
Disamping itu pula masih banyak yang beranggapan bahwa media sosial merupakan ruang privat. Dimana kita bisa bebas upload apa saja. Anggapan itu tidaklah salah namun, perlu kita ketahui terutama yang berkaitan dengan aktivitas anak atau keluarga bisa menjadi konsumsi publik. Bahkan bisa disalahgunakan oleh pihak yang kurang bertanggung jawab.
Oleh karena itu, sebagai orang tua harus bijak dalam bersosial media. Jaga privasi anak, jangan sampai kelak anak tahu akan jejak digitalnya yang mungkin tidak sengaja membuat anak malu dan lainnya.
Mengenal Apa Itu Oversharing dan Sharenting
Oversharing di media sosial bisa berdampak pada kesehatan mental anak. Oversharing sendiri merupakan suatu kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan di ranah publik digital. Dalam konteks keluarga, ini bisa terjadi saat orang tua membagikan informasi terlalu banyak tentang detail anak. Seperti informasi tanggal lahir anak, Alamat, lokasi sekolah sampai jadwal harian anak.
Sedangkan sharenting yang merupakan gabungan kata dari “share dan parenting” merujuk pada aktivitas orang tua yang rajin membagikan kehidupan anak di media sosial. Sebagai contoh oversharing dan sharenting yang sering terjadi adalah menggugah foto anak tanpa atau setengah berbusana, bisa juga dalam situasi dan kondisi yang rentan.
Contoh lain adalah menceritakan masalah pribadi anak seperti tantrum, sifat karakternya dan lain sebagainya. Kelihatannya ini seperti biasa saja dan sepele namun, memiliki dampak yang besar di masa depan. Orang tua bisa menganggap hal ini sebagai kenangan atau momen dalam mengasuh anak sewaktu kecil namun, bisa berbeda dipandangan anak. Bisa juga mereka beranggapan ini sebagai aib yang tidak layak untuk dibagikan di ranah pubklik dalam arti di media sosial.
Mengapa Orang Tua sering Melakukan Oversharing?
Ada beberapa alasan mengapa orang tua melakukan oversharing dan sharenting selain untuk menyimpan kenangan di media sosial.
1. Ingin Berbagi Kebahagiaan
Alasan pertama adalah orang tua murni hanya ingin berbagi kebahagiaan tanpa ada maksud lain didalamnya. Banyak orang tua yang ingin mendokumentasikan tumbuh kembang anak dan mereka merasa bahwa sosial media adalah tempat yang tepat untuk menyimpan memori tersebut.
2. Mencari Validasi Sosial
Validasi di dunia nyata terkadang sulit untuk didapatkan. Maka dari itu, ada beberapa orang tua yang berusaha mencari validasi secara online melalui sosial media. Seperti like, komentar positif dan pujian. Tentu tujuannya tidak lain agar dihargai atas usaha yang telah dilakukannya.
3. Kurangnya Literasi Digital
Alasan lainnya adalah orang tua gagal paham atau kurang paham akan literasi digital. Tidak semua orang memahami bagaimana jejak digital itu bekerja dan risiko penyalahgunaan datanya.
4. Tekanan Sosial
Tekanan sosial ini sering muncul dilingkungan sekitar. Entah itu hanya FOMO atau ikut-ikutan, yang jelas jika tetangga atau lingkungan sekitar rumah, ada yang mulai aktif membagikan moment anaknya, maka dorongan untuk melakukan hal yang sama pun semakin kuat agar tidak tertinggal dengan lainnya.
Bahaya Oversharing bagi Anak
Tidak ada yang salah jika kita ingin berbagi momen bahagia di sosial media. Hanya saja kita harus tahu batasannya, apalagi jika hal itu terkait dengan anak. Berikut adalah beberapa dampak atau bahaya oversharing di media sosial bagi anak.
1. Risiko Keamanan
Informasi yang kelihatannya tampak sepele yang diungkapkan baik itu sengaja atau tidak, bisa dimanfaatkan oleh orang atau pihak yang tidak bertanggung jawab. Semisal foto yang diedit dengan tujuan yang tidak pantas, informasi lokasi yang bisa memicu risiko penguntitan dan data pribadi yang bisa digunakan untuk pencurian identitas.
2. Jejak Digital Jangka Panjang
Ketika anak menemukan rekam jejak digital masa kecilnya yang memalukan, hal ini bisa berdampak pada kepercayaan diri anak, reputasi sosial, peluang akademik atau professional di masa depan. Apa yang sudah pernah diunggah ke internet, maka akan sangat sulit untuk dihapus sepenuhnya.
3. Dampak Psikologis
Bagaimana pun anak juga butuh ruang privasi sebagai bagian dari identitas diri. Ketika sejak kecil anak terus di ekspos kehidupannya maka anak bisa tidak memiliki ruang pribadi, malu atau marah karena cerita kehidupannya dipublikasikan hingga bisa tidak percaya sebagai individu yang mempunyai batasan. Efeknya dalam jangka panjang bisa mempengaruhi hubungan orang tua dan anak.
Cara Bijak Berbagi Konten Anak di Media Sosial
Berikut adalah beberapa cara atau aturan yang bisa diterapkan jika ingin berbagi konten anak di media sosial.
- Sebelum mengunggahnya ke media sosial, pikirkan terlebih dahulu jarak jangka panjangnya antara 10-15 tahun ke depan.
- Hindari informasi sensitif seperti nama lengkap, jadwal kegiatan sehari-hari, jadwal penjemputan, hingga data pribadi lengkap.
- Gunakan pengaturan privasi sehingga akun Anda menjadi privat dan Batasi audiensnya
- Hindari memperlihatkan seragam, alamat sekolah, logo hingga nama.
- Jangan lupa untuk meminta izin, jika ingin menguploadnya ke internet dan pilih sudut ruangan yang aman.
Kesimpulan
Mengunggah moment penting anak bukanlah hal yang tidak diperbolehkan. Terutama jika mengunggahnya ke internet atau sosial media, perlu paham aturan agar dampaknya tidak merugikan anak. Tidak melakukannya secara berlebih atau oversharing.


