Tidak semua perjalanan besar dimulai dari panggung. Sebagian dimulai dari ruang kelas. Dari suara yang pelan, dari langkah yang ragu, dari keinginan sederhana untuk bermanfaat.
Perjalanan itu sedang dijalani oleh Anah Nurhasanah, seorang ibu rumah tangga sekaligus guru yang telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama sembilan tahun. Tinggal di Klari, Karawang, ia tidak hanya mengajar, tetapi pernah dipercaya memimpin sebagai kepala sekolah. Sebuah amanah yang tidak ringan, dan sekaligus menjadi pencapaian yang paling ia syukuri.
Namun di balik perannya sebagai pendidik, ada kegelisahan yang diam-diam ia simpan.
Bukan tentang ilmu.
Bukan tentang pengalaman. Tetapi tentang keberanian untuk bersuara. Ia menyadari bahwa berbicara di depan umum masih menjadi tantangan.
Padahal, di dunia pendidikan hari ini, suara seorang guru tidak hanya dibutuhkan di dalam kelas, tetapi juga di ruang-ruang yang lebih luas.
Keinginan untuk bertumbuh itulah yang membawanya mengikuti Training of Trainer bersama Indscript X JA.
Ia tidak sekadar ingin belajar berbicara.
Ia ingin membangun mentalitas seorang trainer.
Ia ingin menjadi sosok yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi mampu membentuk pengalaman belajar yang mengubah hidup orang lain.
Bagi Anah, pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu. Ia melihat bahwa salah satu persoalan di sekolah hari ini adalah budaya yang belum sepenuhnya kondusif. Lingkungan belajar yang seharusnya menjadi ruang aman, kadang justru menyisakan luka—baik dalam bentuk perundungan maupun relasi yang tidak sehat.
Ia ingin menghadirkan perubahan.
Ia ingin menjadi bagian dari upaya membangun budaya damai di sekolah. Lingkungan yang inklusif. Ruang belajar yang ramah bagi semua. Tempat di mana kekerasan berbasis gender dan bullying tidak lagi menemukan ruang.
Mimpinya tidak berhenti pada pelatihan. Ia ingin membangun ekosistem. Ekosistem guru pelatih.
Karena baginya, pelatihan yang baik tidak berhenti saat sesi selesai.
Ia percaya bahwa pendampingan pasca pelatihan adalah kunci agar ilmu benar-benar hidup dan diterapkan.
Di masa depan, ia ingin bertumbuh menjadi seorang arsitek pembelajaran. Bukan sekadar pemberi materi, tetapi perancang pengalaman belajar yang mampu mengubah cara berpikir dan cara bertindak.
Ketika mengenal gerakan Together Goes to School, ia melihat harapan yang sejalan dengan langkahnya. Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi tentang membangun kesadaran sejak dini. Ia ingin ikut menanamkan kecintaan literasi kepada anak-anak, melalui pendekatan yang praktis dan membumi.
Ia tahu dirinya masih membutuhkan banyak ilmu.
Namun ia telah memiliki bekal yang paling penting: niat, mental, dan kesiapan waktu.
Langkahnya mungkin dimulai dari ruang kelas tetapi dampaknya, ia harap, akan menjangkau lebih jauh karena perubahan besar sering kali dimulai dari satu guru yang berani bertumbuh.


