Menulis adalah dunia ide dan kata-kata.
Bisnis adalah dunia strategi dan penjualan.
Sementara berkebun adalah dunia tanah dan tanaman.
Namun semakin saya menjalani semuanya, saya justru menemukan bahwa ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat.
Sebagai penulis, saya terbiasa melakukan riset, membaca peluang, dan menangkap berbagai fenomena yang sedang terjadi di masyarakat. Kebiasaan ini membuat saya lebih peka melihat kebutuhan orang lain.
Dari situlah sering lahir berbagai ide usaha.
Menulis juga melatih saya untuk berpikir kreatif dan visioner. Sebuah ide yang sederhana bisa berkembang menjadi banyak kemungkinan baru ketika kita terbiasa menuangkannya dalam tulisan.
Tidak berhenti di sana, kemampuan menulis juga ternyata menjadi kekuatan besar dalam dunia bisnis.
Karena bisnis tidak hanya soal produk, tetapi juga soal bagaimana kita menceritakan produk tersebut kepada orang lain.
Di sinilah storytelling bekerja.
Tulisan yang baik mampu membuat orang memahami nilai dari sebuah produk, merasakan proses di baliknya, bahkan ikut tergerak untuk mendukungnya.
Hal ini sangat saya rasakan ketika mengembangkan Naisar Garden.
Sebagai seorang penulis, saya tidak hanya menjual sayur atau hasil kebun. Saya menceritakan perjalanan menanamnya, proses panennya, hingga bagaimana sayur tersebut bisa menjadi bagian dari ketahanan pangan keluarga.
Ketika cerita itu disampaikan melalui tulisan, terutama melalui WhatsApp dan media sosial, orang tidak merasa sedang ditawari jualan.
Mereka merasa sedang diajak menjadi bagian dari sebuah gerakan.
Gerakan untuk menanam.
Gerakan untuk kembali menghargai hasil bumi.
Gerakan untuk memperkuat ketahanan pangan dari rumah.
Di situlah saya semakin menyadari bahwa menulis bukan hanya aktivitas intelektual.
Menulis adalah alat untuk membangun gagasan, menggerakkan pasar, dan memperkuat jejaring.
Dan ketika menulis dipadukan dengan dunia usaha serta aktivitas berkebun, lahirlah sebuah ekosistem yang saling menguatkan.
Ide lahir dari tulisan.
Bisnis tumbuh dari ide.
Dan kebun memberi kehidupan nyata bagi semuanya.
MasyaAllah.
Siapa sangka, dari dunia kata-kata, kita bisa sampai pada dunia tanah yang menumbuhkan kehidupan.
