Hari ini saya ingin bercerita tentang seseorang yang bagi saya sangat luar biasa. Panggilannya Bundi.
Saya sebenarnya sudah cukup sering melihat beliau. Hampir di setiap komunitas yang berisi para perempuan pejuang, nama Bundi selalu ada. Sosoknya aktif, hadir di berbagai kegiatan, dan selalu terlihat bersemangat.
Namun baru hari ini, dalam pertemuan di acara Bubos, saya memiliki kesempatan untuk duduk dan berbincang lebih lama dengan beliau.
Percakapan kami awalnya sederhana. Saya hanya bertanya satu hal yang selama ini membuat saya penasaran.
“Bundi sebenarnya sakit apa?”
Pertanyaan itu saya ajukan dengan hati-hati. Karena dari luar, Bundi selalu terlihat kuat. Aktif ke sana kemari. Bertemu banyak orang. Bahkan sering menjadi bagian dari berbagai gerakan sosial, namun saya dengar beliau sedang sakit.
Dan, jawaban Bundi benar-benar membuat saya terdiam.
Beliau bercerita bahwa dirinya sudah menjalani 28 kali operasi. Bukan hanya itu. Bundi juga menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang ternyata sudah diganti dengan besi. Ada bagian tubuh yang diperkuat dengan logam, ada bagian yang harus diperbaiki melalui operasi.
Mendengarnya membuat hati saya seperti teriris.
Rasanya ngilu sekali membayangkan bagaimana perjalanan sakit yang harus beliau jalani selama ini.
Namun yang paling mengejutkan bukanlah cerita tentang operasinya.
Yang paling mengejutkan adalah cara Bundi menceritakannya.
Beliau bercerita dengan begitu tenang. Seolah semua itu adalah bagian biasa dari perjalanan hidupnya. Tidak ada nada keluhan. Tidak ada ekspresi kesedihan.
Seolah-olah semua itu bukanlah beban.
Selesai bercerita, Bundi kembali seperti Bundi yang saya kenal. Tersenyum, menyapa banyak orang, berjalan ke sana kemari, dan melambaikan tangan kepada siapa saja yang ia temui.
Di acara Bubos hari ini, saya melihat sendiri bagaimana Bundi dikenal oleh begitu banyak orang.
Ia menyapa dengan hangat, tertawa bersama, dan bergerak dengan penuh energi.
Melihatnya, saya sempat berkata dalam hati. _Ini seperti seorang pejuang yang lupa pada sakitnya._
Bukan karena sakitnya tidak ada. Tetapi karena semangat hidupnya jauh lebih besar daripada rasa sakit itu sendiri.
Bundi memilih untuk tetap bergerak. Tetap hadir. Tetap berkontribusi. Tetap menikmati setiap pertemuan dengan orang-orang yang ia temui.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan seorang pejuang.
Ia tidak selalu bebas dari luka.
Ia tidak selalu bebas dari rasa sakit. Namun ia memilih untuk tidak menjadikan rasa sakit itu sebagai alasan untuk berhenti hidup.
Bagi saya, Bundi adalah pengingat bahwa kekuatan manusia sering kali jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.