Menjadi penulis membuat saya memiliki satu kebiasaan yang mungkin tidak semua orang lakukan setiap hari: membaca riset.
Saya terbiasa membuka laporan, membaca data, menelusuri berita, dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia. Dan semakin banyak saya membaca, semakin saya menyadari bahwa dunia sedang menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah krisis pangan.
Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa ratusan juta orang di dunia saat ini mengalami kerawanan pangan. Bahkan angka kelaparan global masih berada pada level yang sangat tinggi. Perubahan iklim, konflik global, serta ketidakstabilan ekonomi membuat harga pangan terus mengalami tekanan.
Setiap kali membaca laporan seperti itu, saya tidak bisa hanya berhenti pada rasa khawatir.
Sebaliknya, saya justru merasa sangat bersyukur berprofesi sebagai penulis.
Karena seorang penulis tidak hanya membaca realitas, tetapi juga bisa menyuarakannya. Seorang penulis bisa mengedukasi masyarakat melalui tulisan. Mengajak orang berpikir. Menggerakkan kesadaran.
Dan dari proses membaca berbagai riset tentang ketahanan pangan itulah saya semakin yakin bahwa solusi tidak selalu harus besar.
Kadang solusi justru dimulai dari rumah.
Dari dapur.
Dari tanah yang kita tanami sendiri.
Itulah yang kemudian melahirkan Naisar Forest Garden.
Awalnya kebun ini hanya saya niatkan untuk memastikan keluarga kami memiliki sumber pangan yang lebih mandiri. Kami menanam sayur, merawat tanah, dan belajar bahwa menanam makanan adalah bentuk ikhtiar menjaga kehidupan.
Namun seiring waktu saya merasa, kebun ini tidak boleh hanya berhenti untuk keluarga kami saja.
Maka kami mulai membuka warung kecil berbasis hasil kebun.
Kami membuat paket sembako sederhana yang bisa dijangkau masyarakat sekitar.
Ada Paket 15 ribu, paket super hemat untuk kebutuhan sekali masak.
Ada Paket 25 ribu, yang paling sering dipilih keluarga kecil.
Ada Paket 50 ribu, untuk kebutuhan satu hingga dua hari.
Dan ada Paket 100 ribu, paket sembako mingguan yang lebih lengkap.
Yang membuat saya bahagia, sayur dalam paket itu berasal dari kebun kami sendiri.
Dari tanah yang kami rawat dengan penuh syukur.
Warung ini juga tidak hanya soal jual beli. Kami bekerja sama dengan Bank Sampah Bersinar, sehingga beberapa kebutuhan bisa ditukar dengan Sampah Berkah yang sudah dipilah sesuai jenisnya.
Bagi saya, semua ini adalah bentuk ikhtiar kecil.
Ikhtiar untuk membangun ketahanan pangan.
Ikhtiar untuk menguatkan masyarakat sekitar.
Ikhtiar untuk menghadapi masa depan dengan lebih siap.
Dan di tengah semua perjalanan ini, saya kembali merasa bersyukur.
Bersyukur karena Allah memberi saya profesi sebagai penulis.
Karena melalui tulisan, saya tidak hanya bisa membaca realitas dunia, tetapi juga mengajak orang lain untuk bergerak bersama.
Dimulai dari rumah.
Dimulai dari kebun kecil.
Dan dimulai dari kesadaran bahwa ketahanan bangsa sebenarnya tumbuh dari dapur-dapur yang tetap menyala.


