Naisar Forest Garden pada awalnya hanya kami niatkan untuk memenuhi kebutuhan ketahanan pangan keluarga kami sendiri. Sebuah kebun kecil yang kami rawat dengan harapan sederhana: agar rumah kami memiliki sumber pangan yang lebih mandiri.
Namun seiring perjalanan waktu, kami menyadari bahwa kebutuhan ini tidak hanya milik keluarga kami. Banyak orang di sekitar kita yang juga membutuhkan akses pada pangan yang sehat, terjangkau, dan berkelanjutan.
Karena itulah, Naisar Forest Garden kini berkembang.
Kami tidak lagi hanya berbicara tentang ketahanan pangan keluarga, tetapi juga ketahanan pangan untuk lingkungan sekitar.
Saat ini kami mulai melakukan penjualan hasil bumi dari kebun sendiri, sehingga masyarakat bisa mendapatkan sayuran dan hasil kebun yang lebih segar dan alami.
Kami juga mulai menyediakan sembako murah dan berkualitas dengan harga yang terjangkau. Menariknya, sembako ini tidak hanya bisa dibeli, tetapi juga dapat ditukar dengan “sampah berkah.” Sistem ini dijalankan dengan menyesuaikan jenis dan nilai sampah berdasarkan arahan dari Bank Sampah Bersinar.
Tidak berhenti di sana, beberapa kali kami juga telah membuat paket sembako bekerja sama dengan PUSPA dan Yayasan Halamatul Qur’an, di mana paket tersebut tidak hanya berisi kebutuhan pokok, tetapi juga dilengkapi dengan sayuran segar dari kebun kami.
Bagi kami, ketahanan pangan bukan hanya tentang menyediakan bahan makanan, tetapi juga tentang membangun kesadaran masyarakat. Karena itu, edukasi dan sosialisasi mengenai ketahanan pangan akan terus kami lakukan.
Saya sebagai seorang penulis merasa sangat ingin berkontribusi melakukan edukasi ini melalui tulisan.
Kekuatan seorang penulis adalah menulis.
Maka dengan penuh semangat saya terus melakukan edukasi melalui tulisan-tulisan saya. Karena saya percaya, tulisan memiliki kekuatan untuk membuka kesadaran, menggerakkan pikiran, dan menginspirasi tindakan.
Namun edukasi yang kami lakukan tidak hanya terkait dengan ketahanan pangan. Kami juga ingin mengajak masyarakat mulai bersiap menghadapi berbagai kemungkinan krisis menuju tahun 2030.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah menyiapkan tas darurat di rumah, berisi berbagai kebutuhan paling vital jika suatu saat terjadi kondisi darurat. Selain itu, masyarakat juga mulai diajak untuk melakukan penghematan dan perubahan kebiasaan hidup agar lebih siap menghadapi berbagai situasi yang tidak terduga.
Di rumah kami sendiri, kami mulai melakukan beberapa langkah kecil sebagai bentuk kesiapan. Misalnya, lampu di area luar rumah yang sebelumnya menggunakan listrik kini kami ganti menggunakan tenaga surya. Kami juga mulai menggunakan charger berbasis tenaga surya sebagai alternatif sumber energi.
Langkah-langkah kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama oleh banyak orang, dampaknya akan sangat besar.
InsyaAllah mulai bulan Maret ini, kami juga akan mulai melakukan edukasi secara offline, yang diawali dengan halal bihalal komunitas di bawah naungan INDSCRIPT pada tanggal 24 Maret 2026. Melalui pertemuan ini, kami ingin memperkuat silaturahmi sekaligus membangun kesadaran bersama tentang pentingnya ketahanan pangan dan kesiapan menghadapi masa depan.
Bukan hanya itu, kami juga melibatkan para tukang dari Ammar Kaayu untuk ikut merawat kebun-kebun kami. MasyaAllah, dari sini kami belajar bahwa sebuah gerakan tidak mungkin berjalan sendiri. Ia tumbuh karena kolaborasi.
Kolaborasi ini tidak akan terjalin jika kita tidak memiliki visi yang sama.
Visi bahwa kita ingin tetap kuat, tangguh, dan mandiri, dalam kondisi apa pun.
Kami ingin terus bergerak, terus berkontribusi, hingga Allah meridhai setiap langkah yang kami lakukan, sehingga kami mampu tetap dinamis menghadapi segala kondisi kehidupan.
Alhamdulillah, perjalanan Naisar Forest Garden ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak:
INDSCRIPT Creative, Ammar Kaayu, Sekolah Perempuan, dan Bank Sampah Bersinar.
Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun ketahanan pangan dan kesiapan hidup masyarakat di masa depan.
MasyaAllah.


