Abstrak
Konflik geopolitik antara Israel dan Iran telah menyebabkan volatilitas signifikan pada pasar minyak global, dengan harga minyak mentah Brent dan WTI meningkat tajam sebagai akibat gangguan pasokan melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 % kebutuhan minyak dunia. Lonjakan harga minyak ini meningkatkan tekanan terhadap harga BBM domestik, memperbesar beban subsidi energi, dan mendorong inflasi yang berdampak pada struktur fiskal Indonesia. Artikel ini mengevaluasi dampak kenaikan harga BBM terhadap perekonomian Indonesia melalui proyeksi ARIMA untuk pendapatan per kapita 2030, serta mengusulkan strategi diversifikasi ekonomi sebagai mitigasi risiko. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa tanpa diversifikasi, pertumbuhan pendapatan per kapita dapat melemah menjadi sekitar USD 5.150 pada Tahun 2030 dari yang saat ini USD 5000-6000 Tahun 2026, jika harga minyak terus tinggi. Paper ini mengidentifikasi bahwa pengembangan sektor energi terbarukan, manufaktur berteknologi tinggi, dan ekonomi digital dapat mengurangi ketergantungan pada BBM serta mempercepat pencapaian target ekonomi jangka panjang Indonesia Maju 2030.
Keywords: Konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, proyeksi ARIMA, pendapatan per kapita, diversifikasi ekonomi
Pendahuluan
Perang yang melibatkan Israel dan Iran telah memicu gejolak di pasar energi global dengan kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan yang signifikan. Selat Hormuz, sebagai jalur ekspor minyak utama, secara efektif menjadi titik krisis ketika potensi penutupan dan risiko pengiriman minyak meningkat dalam konflik tersebut, mendorong harga minyak mentah Brent di atas level historis normalnya (lebih dari US$ 75–80 per barel) dan menambah ketidakpastian pasar energi global.
Bagi Indonesia, yang masih bergantung pada impor minyak, lonjakan harga minyak dunia langsung berdampak pada APBN melalui kenaikan biaya subsidi energi dan potensi inflasi domestik.
Metodologi
Pendekatan yang digunakan adalah gabungan analisis proyeksi time-series menggunakan model ARIMA dan kajian kualitatif atas strategi diversifikasi ekonomi.
Data Time Series:,
Data pendapatan per kapita Indonesia periode 2014–2023 (USD) digunakan sebagai variabel dependen untuk membangun model ARIMA.
Model ARIMA dipilih karena kapabilitasnya dalam menangkap pola tren historis untuk memproyeksikan pendapatan per kapita jangka panjang.
Simulasi Skenario:
Proyeksi ARIMA dilakukan untuk menerka nilai pendapatan per kapita pada 2030 tanpa intervensi. Simulasi dampak kenaikan harga BBM diperhitungkan sebagai faktor yang memengaruhi inflasi dan biaya sektor ekonomi, sehingga memodifikasi proyeksi dasar.
Analisis Diversifikasi:
Hasil proyeksi dikaji dalam konteks struktur ekonomi nasional dan potensi diversifikasi di sektor-sektor nonenergi.
Hasil dan Pembahasan
Proyeksi ARIMA Pendapatan Per Kapita
Model ARIMA menunjukkan tren pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia yang meningkat secara moderat pada periode 2024–2030 tanpa gangguan signifikan harga energi. Namun, ketika simulasi faktor harga BBM yang tinggi dimasukkan, laju pertumbuhan diproyeksikan lebih lambat dibanding tanpa dampak tersebut. Ini konsisten dengan risiko inflasi dan tekanan biaya produksi yang bisa menurunkan pertumbuhan real output dan daya beli masyarakat, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1: Proyeksi Nilai Pendapatan Per Kapita saat sebelum dan Setelah Kenaikan Harga BBM Akibat Perang Teluk menggunakan model ARIMA
Keterangan:
- Garis Biru: GDP per Capita dari 2014 hingga 2023.
- Garis Merah: Proyeksi GDP per Capita untuk 2024 hingga 2030 tanpa dampak kenaikan harga BBM dengan nilai ~ USD 6150, masih dibawah USD 10.000.
- Garis Hijau: Proyeksi GDP per Capita untuk 2024 hingga 2030 dengan dampak kenaikan harga BBM hingga di atas 100 USD yang memperhitungkan peningkatan inflasi dan biaya sektor dengan nilai ~USD 5150.
Dampak Kenaikan Harga BBM Akibat Perang Israel vs Iran
Kenaikan harga BBM yang dipicu oleh konflik internasional, seperti Perang Israel-Iran, akan memberikan dampak luas terhadap penerimaan negara, yang pada gilirannya berpengaruh pada keseimbangan fiskal dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kenaikan harga BBM diperkirakan bisa menyentuh di atas USD 100. Secara langsung, dampaknya akan terasa pada sektor penerimaan pajak, PNBP, hibah, dan SDA Investasi.
- Penerimaan Pajak
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) dipengaruhi oleh harga barang dan jasa yang lebih tinggi, yang biasanya mengikuti kenaikan harga energi seperti BBM. Beberapa dampak utama yang dapat terjadi adalah:
- Peningkatan Harga Barang dan Jasa: Inflasi yang tinggi akibat kenaikan harga BBM akan meningkatkan harga barang dan jasa di seluruh sektor ekonomi. Hal ini akan meningkatkan PPN, karena nilai transaksi barang dan jasa yang dikenakan pajak menjadi lebih tinggi.
- Penurunan Konsumsi: Meskipun nominal PPN dapat meningkat, penurunan konsumsi akibat tingginya biaya hidup dan daya beli yang menurun bisa mengurangi basis pajak. Artinya, meskipun harga barang naik, jumlah konsumsi bisa terhambat sehingga potensi pendapatan PPN bisa tergerus.
- Kenaikan PPh Sektor Tertentu: Sektor-sektor yang bergantung pada energi dan bahan bakar, seperti industri transportasi dan manufaktur, akan merasakan peningkatan biaya yang dapat mengurangi margin keuntungan dan akhirnya menurunkan pendapatan PPh bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Kenaikan harga BBM akan mempengaruhi sektor energi dan PNBP Indonesia, yang sebagian besar berasal dari sektor minyak dan gas (Migas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Peningkatan PNBP dari Ekspor Migas: Dengan kenaikan harga minyak global, Indonesia bisa memperoleh penerimaan tambahan dari ekspor migas. Hal ini akan menguntungkan sektor PNBP jika harga minyak global tetap tinggi.
- Penerimaan PNBP dari Sumber Daya Alam (SDA) bisa mengalami fluktuasi yang signifikan, tergantung pada volume ekspor dan kebijakan dalam negeri terkait pajak dan royalti sumber daya alam.
Namun, kenaikan harga BBM juga bisa menekan sektor produksi domestik yang bergantung pada energi, sehingga mengurangi produktivitas sektor-sektor lainnya yang berkontribusi pada PNBP.
- Hibah
Hibah dari pemerintah luar negeri atau organisasi internasional biasanya digunakan untuk mendukung proyek-proyek pembangunan dan reformasi. Beberapa faktor yang akan mempengaruhi hibah akibat kenaikan BBM adalah:
- Ketergantungan pada Bantuan Energi: Beberapa hibah internasional mungkin difokuskan pada proyek energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil. Jika harga BBM terus melonjak, Indonesia mungkin akan semakin bergantung pada bantuan luar negeri untuk mempercepat transisi menuju energi hijau.
- Penurunan Ketergantungan pada Hibah: Kenaikan harga BBM akan menyebabkan pemerintah lebih fokus pada pengelolaan subsidi energi, yang bisa mengalihkan perhatian dari proyek-proyek yang membutuhkan hibah luar negeri, terutama dalam sektor infrastruktur atau pendidikan.
- Sumber Daya Alam (SDA) dan Investasi
Penerimaan dari Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia dipengaruhi langsung oleh fluktuasi harga komoditas energi, termasuk minyak, gas, batu bara, dan produk turunan lainnya. Kenaikan harga BBM akan berdampak pada beberapa hal berikut:
- Peningkatan Penerimaan SDA: Jika harga minyak dan gas meningkat, Indonesia akan mendapatkan lebih banyak pendapatan dari sektor migas, baik melalui royalti maupun pajak ekspor.
- Fluktuasi Investasi: Sektor SDA dan energi terbarukan dapat merasakan dampak positif jika kenaikan harga minyak memacu investasi energi terbarukan sebagai alternatif pengganti energi fosil yang lebih murah. Hal ini akan memperkuat pendapatan negara dalam jangka panjang.
- Ketergantungan terhadap Fluktuasi Harga: Di sisi lain, ketergantungan Indonesia pada harga komoditas yang fluktuatif membuat pendapatan SDA menjadi sangat rentan. Ketika harga turun, sektor ini akan berkontribusi lebih sedikit pada penerimaan negara, yang menghambat pertumbuhan ekonomi.
Dampak Keseluruhan terhadap Penerimaan Negara dan Proyeksi Ekonomi
Secara keseluruhan, kenaikan harga BBM akibat perang Israel-Iran dapat memperburuk defisit fiskal Indonesia, terutama jika dampaknya tidak dikelola dengan baik. Subsidi energi yang meningkat tajam akan membebani belanja negara, sementara penerimaan negara dari sektor pajak dan PNBP mungkin mengalami fluktuasi atau penurunan karena pengaruh inflasi dan menurunnya konsumsi domestik.
Hasil proyeksi ARIMA untuk pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2030 menunjukkan bahwa jika kenaikan harga BBM tidak diimbangi dengan kebijakan mitigasi, maka target pendapatan per kapita Indonesia yang mencapai USD 10.000 akan sulit tercapai. Proyeksi yang realistis menunjukkan pendapatan per kapita sekitar USD 5,150, yang masih jauh dari target.
Konflik di Timur Tengah telah sudah memicu kenaikan harga minyak mentah Brent ke sekitar US$ 80 per barel atau lebih, melampaui asumsi makro APBN dan memicu kenaikan harga BBM nonsubsidi di pasar domestik. Analyst bahkan memperkirakan harga dapat mencapai atau melebihi US$ 100 per barel jika pasokan terus terganggu. Kenaikan tersebut berdampak pada inflasi domestik melalui biaya input produksi yang naik dan memperlebar subsidi fiskal energi bagi pemerintah. Kondisi ini berpotensi memperlemah pendapatan per kapita jika tidak diantisipasi dengan strategi pemulihan yang tepat.
Langkah Kedepan untuk Mengatasi Dampak Kenaikan Harga BBM:
- Diversifikasi Sumber Energi
- Pembangunan Infrastruktur Energi Terbarukan: Mengurangi ketergantungan pada energi fosil dengan mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga nuklir. Ini bisa mengurangi dampak fluktuasi harga BBM terhadap perekonomian.
- Program Pembangunan Energi Hijau: Pemerintah perlu merancang insentif pajak dan subsidi energi terbarukan untuk mendorong penggunaan bioenergi, geotermal, dan energi angin yang lebih stabil harga dan pasokannya.
- Investasi dalam Infrastruktur Energi: Memperkuat infrastruktur pengelolaan energi dan smart grids untuk distribusi energi yang lebih efisien, mengurangi pemborosan energi, dan menurunkan biaya.
- Reformasi Subsidi Energi
- Subsidi Energi yang Tepat Sasaran: Mengurangi subsidi BBM yang tidak tepat sasaran dan mengalihkannya untuk sektor-sektor yang lebih membutuhkan, seperti transportasi publik dan industri kecil. Ini akan mengurangi defisit fiskal yang disebabkan oleh pembengkakan subsidi BBM.
- Penyesuaian Harga BBM secara Bertahap: Mengimplementasikan penyesuaian harga BBM bertahap, di mana harga BBM akan disesuaikan berdasarkan kondisi pasar dan kapasitas ekonomi nasional. Pemerintah harus memastikan bahwa perubahan harga tidak merugikan masyarakat berpenghasilan rendah.
- Penguatan Sektor Manufaktur dan Industri Berteknologi Tinggi
- Insentif untuk Industri Elektronik dan Kendaraan Listrik: Memberikan insentif fiskal untuk sektor industri kendaraan listrik dan elektronik. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan perkembangan industri teknologi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi, mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
- Diversifikasi Sektor Industri: Mengembangkan industri digital dan industri manufaktur berbasis teknologi tinggi yang tidak terlalu bergantung pada energi fosil dan lebih ramah lingkungan, seperti industri robotik dan semikonduktor.
- Reformasi Kebijakan Fiskal
- Reformasi Pajak: Meningkatkan penerimaan pajak dengan memperluas basis pajak sektor digital dan meningkatkan kepatuhan pajak melalui digitalisasi sistem perpajakan. Hal ini akan membantu memperbaiki pendapatan negara yang lebih stabil.
- Efisiensi Pengeluaran Negara: Menurunkan pengeluaran negara pada sektor yang tidak produktif dan fokus pada investasi berkelanjutan, seperti pembangunan infrastruktur hijau dan energi terbarukan yang memberikan manfaat jangka panjang.
- Meningkatkan Ketahanan Sosial dan Ekonomi
- Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM): Mengembangkan pendidikan vokasi yang lebih terfokus pada keterampilan industri masa depan (misalnya, digital literacy, robotik, dan teknologi informasi) untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang lebih terampil di sektor-sektor non‑energi.
- Inklusi Sosial: Mengimplementasikan kebijakan yang memastikan bahwa kebijakan energi dan fiskal tidak hanya menguntungkan segmen ekonomi tertentu, tetapi juga masyarakat berpendapatan rendah. Hal ini akan membantu mengurangi ketimpangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan sosial.
- Stabilitas Makro dan Kebijakan Moneter
- Pengelolaan Inflasi: Bank Indonesia perlu menerapkan kebijakan moneter yang responsif untuk menjaga inflasiagar tetap terkendali tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
- Diversifikasi Cadangan Negara: Memperkuat cadangan negara dalam bentuk cadangan energi dan investasi infrastruktur hijau untuk memitigasi dampak jangka panjang dari kenaikan harga BBM.
Kesimpulan
Krisis geopolitik yang memicu kenaikan harga BBM menyebabkan tekanan fiskal dan ekonomi yang signifikan bagi Indonesia, sebuah ekonomi yang masih tergantung pada impor energi. Proyeksi ARIMA menggambarkan bahwa tanpa strategi mitigasi, meningkatnya biaya energi dapat memperlambat pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia yang ditargetkan untuk mencapai Indonesia Maju 2030.
Dalam menghadapi kenaikan harga BBM yang disebabkan oleh Perang Israel-Iran, Indonesia harus mengimplementasikan kebijakan diversifikasi ekonomi yang melibatkan diversifikasi energi, penguatan sektor manufaktur dan ekonomi digital, serta reformasi fiskal yang fokus pada subsidi energi yang tepat sasaran. Investasi dalam sektor energi terbarukan dan transformasi sektor industri akan mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang rentan terhadap guncangan pasar global. Langkah-langkah ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak eksternal, tetapi juga mempercepat pencapaian target pendapatan per kapita USD 10,000 pada 2030.
Daftar Pustaka
“Impact of the Iran-Israel Escalation on Oil Prices.” Oxford Economics, 23 June 2025, www.oxfordeconomics.com/resource/iran-israel-escalation-pushes-brent-crude-oil-price-higher. Accessed 8 Mar. 2026.
“Harga Minyak Dunia Melonjak Dampak Perang Iran.” ANTARA News, 7 Mar. 2026, aceh.antaranews.com/berita/402219/harga-minyak-dunia-melonjak-dampak-perang-iran-bagaimana-dampaknya-ke-harga-bbm-subsidi. Accessed 8 Mar. 2026.
“Crude Oil Prices Spike as a Broadening Iran War Threatens.” PRPeak, 2026, prpeak.com/national-business/crude-oil-prices-spike-as-a-broadening-iran-war-threatens-both-transport-routes-and-production-11975812. Accessed 9 Mar. 2026.
“Economic Impact of the 2026 Iran War.” Wikipedia, en.wikipedia.org/wiki/2026_Iran_war. Accessed 8 Mar. 2026.


