8.7 C
New York
Minggu, Maret 8, 2026

Buy now

spot_img

Ngabuburit Bermakna Bersama Anak-Anak Yatim Imah Seuri

Jumat, 6 Maret 2026, suasana di Kedai Gaza terasa sedikit berbeda. Biasanya tempat ini dipenuhi orang-orang yang menunggu waktu berbuka sambil menikmati hidangan ringan. Namun sore itu, ruang sederhana tersebut berubah menjadi tempat belajar yang hangat tempat di mana ilmu, kepedulian, dan harapan bertemu dalam suasana Ramadhan yang menenangkan.

Beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Program Studi Manajemen Industri Katering, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial datang dengan satu tujuan sederhana, berbagi pengetahuan tentang pengelolaan sampah kepada anak-anak yatim binaan Imah Seuri yang diasuh oleh Kang Zae Hanan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program ngabuburit Ramadhan anak-anak Imah Seuri. Bukan sekadar mengisi waktu menunggu berbuka, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan dan bermakna.

Saya bersama Ibu Sri Kuswayati, yang akrab disapa Ummi Aleeya turut hadir membersamai kegiatan tersebut. Selain bersilaturahmi, kami juga ingin melihat secara langsung aktivitas anak-anak Imah Seuri selama bulan Ramadhan ini. Ada rasa hangat yang selalu muncul setiap kali berada di tengah-tengah mereka.

Kegiatan dimulai pada pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Dua jam yang terasa singkat karena diisi dengan proses belajar yang interaktif dan penuh keceriaan. Setelah sesi berbagi ilmu selesai, kebersamaan pun dilanjutkan dengan buka puasa bersama, sebuah penutup yang sederhana namun sarat makna.

Sejak awal suasana sudah terasa akrab. Teh Neni Hidayah, yang selama ini dengan sabar dan telaten mengatur berbagai kegiatan anak-anak, tampak sigap memastikan semuanya berjalan dengan baik. Di sisi lain ada Teh Nuri, yang hari itu turut membimbing anak-anak dalam memperlancar hafalan Al-Qur’an. Kehadiran mereka berdua seperti tiang penyangga yang menjaga ritme kehidupan di Imah Seuri tetap berjalan dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang.

Acara diawali dengan sambutan dari Kang Zae Hanan, _founder_ sekaligus pembina Imah Seuri. Dalam sambutannya, Kang Zae menyampaikan bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Kehidupan sehari-hari justru menyimpan begitu banyak pelajaran, termasuk dari sesuatu yang sering kita anggap remeh yaitu sampah.

“Jika kita mau melihatnya dengan cara yang berbeda,” kira-kira begitu pesan yang tersirat, “sampah pun bisa menjadi sumber pembelajaran.”

Selanjutnya, para mahasiswa mulai memperkenalkan berbagai jenis sampah kepada anak-anak. Mereka menjelaskan perbedaan antara sampah organic, anorganik serta B3, bagaimana cara memilahnya, serta mengapa pengelolaan sampah menjadi penting bagi lingkungan. Penjelasan yang sederhana membuat anak-anak mudah memahami. Namun bagian yang paling ditunggu-tunggu tentu saja adalah sesi praktik.

Di atas karpet sederhana itu, berbagai bahan bekas mulai ditata: botol plastik, kertas, dan beberapa bahan lain yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai barang buangan. Perlahan-lahan benda-benda tersebut berubah fungsi di tangan anak-anak.

Ada yang memotong botol plastik dengan hati-hati, ada yang menempelkan kertas warna-warni, ada pula yang sibuk merangkai potongan-potongan kecil menjadi bentuk yang unik. Sesekali terdengar tawa kecil ketika mereka saling menunjukkan hasil karya masing-masing.

Sore itu, sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kotor atau tidak berguna. Ia berubah menjadi media belajar bahkan menjadi karya kecil yang membanggakan bagi anak-anak.

Di sela-sela kegiatan tersebut, saya dan Ummi Aleeya juga menyerahkan beberapa buku kepada Teh Neni Hidayah sebagai perwakilan keluarga besar Imah Seuri. Salah satunya adalah buku terbaru kami yang berjudul “Allah Tak Pernah Pergi, Hanya Aku yang Lupa.”  Buku itu kami titipkan sebagai kenang-kenangan sekaligus harapan kecil. Harapan agar buku-buku tersebut dapat menjadi teman baca bagi anak-anak, teman yang mungkin suatu hari nanti membantu mereka memahami kehidupan dengan cara yang lebih bijak dan penuh harapan.

Bagi kami, buku sering kali memiliki cara yang sunyi namun kuat untuk menyentuh hati seseorang. Ia bisa menjadi jendela yang membuka pandangan baru, bahkan kadang menjadi teman yang menemani seseorang menemukan kembali arah hidupnya.

Menjelang waktu magrib, suasana Kedai Gaza semakin terasa hangat. Anak-anak mulai merapikan hasil karya mereka, sementara obrolan kecil terus mengalir di antara para pendamping dan mahasiswa.

Sore itu memberikan pelajaran yang sederhana namun bermakna: sesuatu yang dianggap tidak berguna pun bisa memiliki nilai baru ketika disentuh oleh kreativitas dan kepedulian.

Demikian pula dengan kehidupan manusia. Dengan bimbingan, perhatian, dan kesempatan belajar, setiap anak memiliki peluang yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan penuh harapan.

Ngabuburit sore itu akhirnya bukan hanya tentang menunggu adzan magrib. Ia menjadi tentang kebersamaan, tentang berbagi ilmu, dan tentang menanam benih kebaikan yang semoga suatu hari nanti akan tumbuh jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

“Kebaikan sering tumbuh dari hal-hal sederhana: dari ilmu yang dibagikan, dari tangan yang mau membantu, dan dari hati yang tidak lelah menyalakan harapan.”

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles