2 C
New York
Rabu, Maret 4, 2026

Buy now

spot_img

Dari Iseng Jadi Gerakan: Cerita Bank Sampah Rasamala Menggerakkan Warga

Bank Sampah Rasamala (@banksampahrasamala) berdiri pada 1 Mei 2025, berawal dari keisengan beberapa ibu-ibu di Cluster Rasamala yang bingung harus membuang kardus bekas paket dan botol sabun cuci. Tukang rongsok tidak bisa masuk ke area cluster, sementara truk sampah sering terlambat datang—bahkan pernah lebih dari tiga minggu saat momen Lebaran dan penutupan TPS Sarimukti. Daripada tong sampah rumah cepat penuh, mereka mulai mencari solusi lewat Google dan menemukan konsep bank sampah.

Pada Juli 2025, Bank Sampah Bersinar (BSB) mulai mendampingi. Edukasi gratis kepada warga dan pengangkutan perdana dari Cluster Rasamala dan Scandinavian menjadi titik awal gerakan ini. Awalnya hanya 10–15 warga yang ikut serta, dengan jenis sampah terbatas seperti kardus, botol air mineral, kerasan, dan minyak jelantah. Namun, melalui promosi dari mulut ke mulut, status WhatsApp, grup warga, hingga grup pengajian, partisipasi terus meningkat dan menyebar ke luar cluster.

Kini terdapat 23 nasabah aktif dari luar cluster, ditambah sekitar 50 warga dari total 120 KK yang rutin memilah sampah dari rumah dalam bentuk donasi. Warga langsung memasukkan sampah daur ulang ke bak sesuai jenisnya—mulai dari anak-anak hingga orang tua. Hasil penjualan dikelola secara transparan oleh inisiator dan dilaporkan berkala melalui grup WhatsApp. Dana tersebut kemudian dibagikan kembali dalam bentuk sembako untuk seluruh warga, tanpa membedakan siapa yang menyetor atau tidak. Prinsipnya jelas: program dari warga, oleh warga, dan kembali untuk warga.

Secara ekonomi, hasilnya memang tidak besar—sekitar Rp10.000–Rp50.000 per satu hingga dua bulan bagi yang rutin menyetor. Namun dampak sosialnya jauh lebih terasa. Volume sampah rumah tangga berkurang drastis karena lebih dari 50% penyebab tong penuh adalah kardus, bubble wrap, dan botol plastik. Kini tong sampah lebih didominasi sampah organik.

Kisah inspiratif datang dari Bu Dedeh, seorang ART yang rutin menyetor minyak jelantah dan botol plastik. Dengan rata-rata Rp35.000–Rp70.000 per setoran, ia bisa menambah uang jajan dan membeli kuota internet anaknya. Dari gerakan kecil para ibu, Bank Sampah Rasamala kini tumbuh menjadi budaya sadar lingkungan yang menguatkan kebersihan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles