Pernah merasa nggak nyaman di rumah sendiri, bahkan menghilangkan kebiasaan baik sebelumnya?
Inilah yang dirasakan oleh seorang ibu saat konsultasi pagi ini. Ya, pagi ini, Ammar Kaayu menerima calon klien untuk konsultasikan kondisi rumahnya. Bukan cuma soal tata ruang, tapi juga soal menemukan kembali ketenangan batin di tengah hiruk pikuk kehidupan.
“Seringkali, tanpa sadar kita menumpuk barang yang justru membuat kita merasa terbebani,” kata saya yang saat ini menangani konsultasi beliau.
Klien pagi ini, mengaku sudah lama merasa tidak nyaman di rumahnya. Tumpukan barang di sana-sini membuatnya merasa sesak dan tidak produktif. Rencananya, ia ingin membeli furniture baru untuk “menyembunyikan” semua kekacauan itu.
“Saya pikir dengan lemari baru, semua masalah akan selesai,” ujarnya. Namun ternyata setelah sesi konsultasi, masalahnya bukan pada kurangnya tempat, tapi pada terlalu banyaknya barang yang tidak berguna yang harus di-decluttering.
Saya kemudian menjelaskan konsep decluttering yang lebih dari sekadar beres-beres. Ini adalah proses memilah barang dengan hati, melepaskan kenangan yang sudah tidak relevan, dan memberikan kesempatan kedua bagi barang-barang yang masih layak.
“Kami membantu klien untuk jujur pada diri sendiri. Apakah barang ini benar-benar masih dibutuhkan? Apakah barang ini membawa kebahagiaan? Jika jawabannya tidak, maka saatnya untuk melepaskannya,” ujar saya.
Ammar Kaayu percaya bahwa setiap orang berhak memiliki rumah yang nyaman dan menenangkan. Dengan jasa decluttering yang personal dan penuh perhatian, kami siap membantu Anda mewujudkan impian tersebut.
Tren Decluttering Mendunia: Lebih dari Sekadar Merapikan Barang
Fenomena decluttering ternyata bukan hanya tren sesaat di Indonesia. Di seluruh dunia, semakin banyak orang menyadari manfaat decluttering bagi kesehatan mental dan kualitas hidup.
Menurut riset yang dilakukan decluttering dapat mengurangi tingkat stres, meningkatkan fokus, dan bahkan meningkatkan kualitas tidur.
Selain itu, decluttering juga menjadi bagian dari gaya hidup minimalis yang semakin populer. Banyak orang mulai mengurangi konsumsi barang dan fokus pada pengalaman daripada kepemilikan.
Minimalisme bukan berarti hidup serba kekurangan, tetapi tentang hidup dengan sengaja dan hanya memiliki barang-barang yang benar-benar kita butuhkan dan cintai, ini yang saya yakini dari waktu ke waktu.


