7.5 C
New York
Minggu, Februari 22, 2026

Buy now

spot_img

Bangkit dan Menulis Ulang Hidup: Kisah Lea Lindrawijaya Suroso

Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa “jatuh” dan ada fase berikutnya, ketika ia memilih untuk bangkit. Bagi Ibu Lea Lindrawijaya Suroso, menulis adalah bagian dari kebangkitan itu.

Ia bergabung dengan NJD pada April 2024. Bukan sekadar ingin belajar menulis. Tetapi karena ada satu keinginan yang lebih dalam: menerbitkan buku yang berkisah tentang sepenggal perjalanan hidupnya. Sebuah fase yang tidak mudah. Sebuah fase yang layak dituliskan.

Menulis sebenarnya bukan hal baru bagi Bu Lea. Sejak SMA hingga kuliah, ia sudah akrab dengan puisi, cerpen, dan esai. Dunia kata-kata bukanlah dunia asing. Hanya saja, perjalanan hidup membawanya sempat menjauh.

Kini, hobi lama itu tumbuh kembali. Bukan hanya sebagai kegemaran, tetapi sebagai kemungkinan karier baru.

Namun perjalanan ini tidak sepenuhnya mudah. Bagi Bu Lea, menulis bukan sekadar duduk dan merangkai kata. Menulis adalah proses berpikir dan berpikir yang terlalu dalam terkadang memicu sakit kepala bahkan vertigo. Karena itu ia belajar menyeimbangkan diri.

Di sela-sela menulis, ia memilih dapur sebagai ruang pemulihan. Memasak dan membuat kue menjadi terapi. Ada kehangatan di sana. Ada proses yang konkret. Ada hasil yang bisa langsung dinikmati.

Menulis mengasah pikiran.
Memasak menenangkan jiwa.

Ia menemukan ritmenya sendiri.

Saat ini Bu Lea telah mulai menulis buku, e-book, dan artikel. Namun ia menyadari bahwa dampaknya belum terasa besar. Ia masih berada dalam fase awal kehidupan baru setelah jatuh.

Belum banyak yang tahu.
Belum banyak yang membaca.
Belum ada project besar yang lahir.

Tetapi ia tidak berhenti.

Ia percaya, menulis sangat berpotensi menghasilkan — asalkan disajikan dengan tata bahasa yang logis, runtut, mudah dipahami, dan sesuai dengan target pembaca. Ia terus belajar dengan cara sederhana: membaca banyak tulisan orang lain dan melatih diri menulis tema-tema yang terkait kehidupan sosial di masyarakat.

Ia sadar, menulis itu bukan bakat semata.
Menulis adalah disiplin.

Bagi Bu Lea, menulis memiliki makna yang dalam. Menulis adalah cara mengurangi pikiran yang terasa penuh. Terutama ketika ia melihat berbagai persoalan sosial di sekitar. Kata-kata menjadi jalan untuk meluapkan kegelisahan, sekaligus menata ulang pemahaman.

Ia percaya, untuk menjadi penulis yang baik seseorang harus banyak membaca. Membaca memperkaya wawasan dan menguatkan soft skills yang diperlukan dalam memimpin.

Yang paling indah dari pandangannya adalah ini:

“Menulis bagi saya sama dengan mengajar atau mendidik layaknya seorang guru. Bedanya, yang satu langsung berhadapan dengan siswa, sementara menulis mengajar secara tidak langsung.”

Melalui tulisan, seseorang tetap bisa mendidik.
Melalui tulisan, seseorang tetap bisa meninggalkan jejak.

Baginya, NJD adalah kumpulan orang-orang yang saling belajar dan mendukung dalam perjalanan menuju sukses. Sebuah ruang tumbuh bersama.

Pesannya sederhana namun kuat:

“Mulailah menulis minimal tentang diri Anda. Baik saat gagal maupun saat sukses.” Karena dari sanalah kejujuran lahir.

Ke depan, Ibu Lea ingin menulis Autobiografi Jilid 2 dan sebuah novel.
Ia sudah punya arah. Ia sudah punya mimpi.

Satu kata yang ia pilih untuk dirinya hari ini adalah:

Berani.

Berani menulis lagi.
Berani bangkit lagi.
Berani memulai fase baru.

Dan mungkin, dari keberanian itu, sebuah buku yang menguatkan banyak orang akan benar-benar lahir.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles