2.1 C
New York
Sabtu, Februari 21, 2026

Buy now

spot_img

Menulis adalah Jalan Pulang: Perjalanan Maria Ulfa Menjemput Percaya Diri dan Rezeki

Saya selalu percaya, setiap orang yang datang ke Komunitas Nulis Jadi Duit membawa satu benih. Ada yang membawa benih mimpi. Ada yang membawa benih luka. Ada yang membawa benih keberanian yang masih sangat kecil, tapi ingin dirawat.

Ibu Maria Ulfa datang pada Mei 2024 dengan benih itu.

Ia sudah lama mencintai dunia literasi. Hobi membaca, sesekali menulis, bahkan pernah terlibat dalam buku antologi bersama Lingkar Pena. Tapi ia tahu, mencintai saja tidak cukup. Ia ingin lebih. Ia ingin pintar menulis. Ia ingin mampu menjual buku. Ia ingin suatu hari punya buku solo dan e-book yang produktif.

Itu keputusan sadar.

Dan saya selalu tersenyum ketika seseorang masuk komunitas bukan sekadar ingin “bisa”, tapi ingin “bertumbuh”.

Di awal perjalanannya, Bu Maria Ulfa punya ekspektasi sederhana namun kuat: ingin punya tulisan yang bisa dibagikan kepada teman-temannya, ingin menerbitkan buku solo, ingin karyanya menjadi sesuatu yang bernilai. Namun momen yang membuatnya benar-benar yakin bahwa ia berada di tempat yang tepat adalah ketika ia mulai terlibat dalam buku-buku antologi yang temanya begitu relate dengan dirinya. Ditambah lagi, setiap kali ia mendengarkan para mentor berbagi, ia merasa seperti sedang ditempa.

Menulis bukan hanya soal teknik. Menulis adalah soal mental.

Dan mental itulah yang sedang ia bangun.

Sejak bergabung, beliau tidak tinggal diam. Ia menghasilkan beberapa buku antologi, menulis harian, membuat quote, hingga menyusun modul kajian. Salah satu karya yang paling berdampak baginya adalah buku antologi tentang mendidik anak serta buku solo perdananya yang kini hampir selesai—tinggal satu bab lagi.

Ia bercerita, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan ketika mampu menuangkan ide dan ilmu ke dalam bentuk buku solo. Rasa syukur. Rasa percaya diri. Rasa bahwa dirinya ternyata mampu.

Dan saya selalu bilang, percaya diri itu bukan datang dari pujian. Percaya diri datang dari proses yang dijalani.

Sebagai seorang Islamic Talent and Life Mapping Coach, beliau mulai menggunakan tulisannya sebagai penguat personal branding. Ia memasang status tentang bukunya, menjualnya, bahkan membagikannya sebagai hadiah. Ia memahami satu hal penting: tulisan yang konsisten dan selaras dengan positioning akan membangun trust.

Dan benar saja, kepercayaan itu tumbuh. Bahkan peluang kerja sama pun datang. Seorang teman dekat menawarkan diri membantu menjual buku dan e-book miliknya. Tulisan yang dulu hanya ada di kepala, kini mulai menjadi aset bisnis.

Ia memahami bahwa buku dan e-book adalah produk jangka panjang. Sekali ditulis, bisa dijual berulang kali. Passive income bukan sekadar teori. Ia sudah mulai merasakannya, meski masih di tahap awal.

Namun perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Baginya, yang paling sulit adalah konsisten terhadap waktu dan merapikan ide-ide yang berseliweran di kepala menjadi tulisan yang utuh. Ide banyak. Aktivitas juga banyak. Tapi di situlah kedewasaan seorang penulis diuji.

Menulis membuatnya lebih sistematis. Lebih strategis. Lebih percaya diri saat menyampaikan konsep. Dan yang paling penting, orang-orang di sekitarnya mulai melihat kapasitasnya dengan cara yang berbeda.

Jika saya merangkum Maria Ulfa dalam satu kalimat, saya akan mengatakan: ia adalah perempuan yang sedang belajar menjadikan setiap kalimat sebagai jalan pahala.

Karena baginya, menulis bukan sekadar skill. Menulis adalah keahlian yang harus dikuasai. Menulis membuatnya lebih percaya diri, lebih dipercaya, dan ia berharap setiap kalimat baik yang ia tulis menjadi ampunan dari Allah serta pahala yang terus mengalir selama tulisan itu bermanfaat.

Ia punya target yang jelas. Setiap tahun satu buku. Minimal tiga e-book. Dalam tiga sampai lima tahun ke depan, ia ingin penghasilan dari buku dan e-book mencapai 100 juta rupiah per tahun.

Mimpi yang konkret dan saya selalu menghargai mimpi yang ditulis dengan angka.
Ketika saya bertanya, satu kata apa yang menggambarkan perjalanannya di NJD? Ia menjawab dengan penuh semangat: “Amazing.”

Saya tersenyum.

Karena bagi saya, yang lebih amazing bukan hanya perjalanannya. Tapi keberaniannya untuk memulai, bertahan, dan terus menulis meski waktu terbatas dan ide sering terasa berantakan.

Jika Milad NJD digelar di Bandung atau Jakarta, ia berkata, “Insyaallah.”

Dan saya tahu, perempuan seperti Maria Ulfa tidak hanya datang untuk hadir. Ia datang untuk terus tumbuh karena pada akhirnya, menulis memang bukan sekadar tentang buku.

Menulis adalah tentang siapa diri kita ketika semua proses itu membentuk kita dan Maria Ulfa sedang menulis bukan hanya buku. Ia sedang menulis ulang dirinya.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles