2.1 C
New York
Sabtu, Februari 21, 2026

Buy now

spot_img

Dari Reaktor ke Rak Buku: Arie Widowati, Menyalakan Cahaya Nuklir Lewat Kata

Saya selalu percaya, tidak ada perjalanan menulis yang benar-benar kebetulan. Semua ada jejaknya. Semua ada takdirnya.

Arie Widowati adalah salah satu bukti bahwa jalan literasi bisa tumbuh dari ruang yang tak pernah kita duga.

Ia bergabung dengan Komunitas Nulis Jadi Duit pada April 2024. Katanya sederhana, promosi NJD lewat begitu saja di beranda Instagram-nya. Tidak direncanakan. Tidak dicari. Tapi terasa seperti panggilan.

Saat itu, ia ingin kembali aktif menulis setelah lebih dari satu tahun vakum. Ia fokus bekerja sekaligus merawat almarhum suami tercinta. Ada jeda panjang dalam hidupnya. Ada luka. Ada kelelahan. Tapi juga ada kerinduan yang tak padam pada dunia kata.

Padahal, jika bicara soal menulis, Bu Arie bukan orang baru.

Sejak 2007, ia sudah akrab dengan dunia literasi. Kariernya justru menarik—berawal sebagai peneliti nuklir, lalu dengan sadar memilih pindah ke jalur non-teknis: dokumentasi ilmiah, perpustakaan, humas, jurnal, laporan, hingga pengelolaan web instansi. Keputusan yang sempat dipastikan ulang oleh SDM: “Sudah yakin pindah jalur?”

Dan ia menjawab mantap: sudah.

Ia menemukan kenyamanan di dunia informasi. Di ruang yang menghubungkan riset serius dengan bahasa yang bisa dipahami banyak orang.

Ia menyusun layout Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia. Ia merangkum laporan triwulan dan tahunan menjadi buku pertanggungjawaban anggaran negara. Ia menjadi pemandu kunjungan dari pelajar hingga tamu luar negeri. Ia menjadi kontributor Majalah Nutec. Ia mengemas penelitian para ilmuwan menjadi narasi yang lebih komunikatif.

Diam-diam, kemampuan menulisnya terasah.

Diam-diam, mimpinya tumbuh.

Kemampuannya semakin matang ketika BATAN Bandung berada di bawah kepemimpinan Bapak Jupiter. Di masa itu, kariernya di bidang kehumasan meningkat pesat. Ia sering diajak bertemu pejabat lintas instansi. Dari pertemuan-pertemuan itulah ia belajar menangkap gagasan, menyaring informasi, dan merangkumnya secara tajam.

Setiap Jumat, para kepala bidang diwajibkan membuat resume kegiatan. Dan Bu Arie bertugas menyatukan semua laporan itu menjadi satu narasi mingguan yang utuh. Bukan sekadar kumpulan data, melainkan cerita tentang gerak institusi.

Ia juga dipercaya menjabat sebagai Kepala Subbag Persuratan Kepegawaian dan Dokumentasi Ilmiah (PKDI). Di posisi itu, ia mendalami kehumasan, administrasi, dan manajemen dokumen secara lebih luas.
Ketika jabatan struktural ditiadakan, ia kembali ke jabatan teknis sebagai Pengembang Teknologi Nuklir Ahli Madya. Namun justru di sinilah titik uniknya. Atasan barunya, Prof. Muhayatun, tidak memintanya kembali sepenuhnya ke laboratorium. Ia diminta mengamati pekerjaan di lab, lalu menuliskannya dalam bahasa populer.

Dari reaktor ke resume.

Dari laboratorium ke literasi.

Ekspektasinya saat bergabung dengan NJD jelas: ia ingin menulis teknologi nuklir dengan bahasa yang lebih membumi. Ia ingin ilmunya tidak berhenti di ruang laboratorium, tetapi menjangkau publik.

Buku solonya, Bedah Manfaat Teknologi Nuklir, membuatnya disebut-sebut sebagai ahli nuklir. Ia tersenyum rendah hati. Katanya, ia hanya rajin membaca makalah para peneliti dan menyampaikannya kembali dengan bahasa yang lebih sederhana.

Namun bukankah di situlah kekuatan menulis? Persepsi dibangun lewat konsistensi.

Ia juga aktif menulis buku antologi: tentang perjuangan, parenting, religiusitas, dan refleksi hidup. Dalam buku religius, ia mengaku semakin sering membuka hadis dan terjemahan Al-Qur’an. Menulis membuatnya semakin dekat dengan Allah.

Bagi saya, ini bukan sekadar branding. Ini bonding. Dengan diri. Dengan Tuhan.

Secara finansial, ia masih membangun pondasi. Fokusnya saat ini memperkuat positioning: mengubah buku fisik menjadi e-book, memperluas jangkauan, memperbesar distribusi.
Masalahnya hanya satu: waktu.

Namun satu kalimatnya selalu terngiang:
“Menulis bagi saya adalah sarana pengembangan diri menjadi versi terbaik saya.”
Menulis membuatnya berpikir lebih sistematis, lebih strategis, lebih luas. Ia sadar, lewat tulisan ia bisa membangun kepercayaan tanpa harus selalu hadir secara fisik.

Kini ia punya target besar: menjadi penulis profesional yang banyak mendapat order perusahaan untuk menuliskan profil dan promosi mereka.

Ketika saya bertanya, jika Milad NJD diadakan offline, apakah ia akan hadir?

Jawabannya tegas: “Siap hadir dong.”

Saya percaya itu.

Karena Arie Widowati bukan sekadar hadir sebagai peserta.
Ia hadir sebagai cahaya.
Cahaya literasi.
Cahaya kebermanfaatan.
Cahaya yang terus menyala, bahkan setelah purnabakti.
Dan satu hal yang pasti:
Ilmu yang tidak ditulis akan berhenti.
Ilmu yang ditulis akan berlari.

Dan Bu Arie memilih membuat ilmunya berlari. Jauh. Lebih jauh lagi.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles