3.8 C
New York
Jumat, Februari 20, 2026

Buy now

spot_img

Nur Sahadi Amir: Bertumbuh Bersama Kata, Bertumbuh Bersama IIDN

Nur Sahadati Amir—yang akrab dikenal dengan nama pena Nunu Amir—adalah seorang ASN yang kini berdomisili di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia bergabung dengan Ibu-ibu Doyan Nulis sejak 2011, saat masih tinggal di Makassar. IIDN adalah komunitas pertama yang ia ikuti, dikenalkan oleh Kak Niar setelah mereka saling berinteraksi di blog masing-masing. Niat awalnya sederhana: ingin belajar menulis dan menambah teman. Namun yang ia dapatkan jauh melampaui harapan. Di komunitas ini, ia bukan hanya belajar merangkai kata, tetapi juga belajar bertumbuh sebagai pribadi.

Sebelum bergabung, Nunu sudah menulis di blog, tetapi IIDN membuatnya melangkah lebih jauh. Ia mulai menerbitkan buku, baik antologi maupun buku solo berjudul Membuat Blog dengan 3 Platform, yang menjadi kebanggaan tersendiri karena itu adalah karya solonya yang pertama. Ia juga terlibat dalam buku kolaborasi Ngeblog dari Nol bersama Mbak Widyanti Yuliandari dan Mbak Alfa.

Perjalanan menulisnya diwarnai berbagai pengalaman membanggakan, seperti memenangkan lomba blog semi-SEO tentang aksesibilitas penyandang disabilitas di Makassar dan juara lomba blog on the spot. Meski sempat berada di fase sangat sibuk—bekerja sebagai ASN, kuliah malam, hingga kursus bahasa Inggris—ia tidak benar-benar berhenti menulis. Medianya saja yang berubah: dari blog ke laporan kantor, dari artikel ke skripsi dan tesis. Baginya, menulis adalah bagian dari hidup.

Bergabung dalam kepengurusan IIDN Makassar pada 2013–2015, lalu IIDN Pusat Divisi Blog sejak 2019 hingga 2025, membuka banyak pintu. Pengalaman berorganisasi itu memperluas jejaring dan memperkaya portofolionya, bahkan menjadi salah satu nilai tambah ketika ia mendaftar beasiswa LPDP dan dinyatakan lulus pada 2022.

IIDN bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang kesempatan. Di komunitas ini ia menemukan kolaborasi, kehangatan, dan rasa memiliki. Dari yang awalnya merasa minder dan membandingkan diri dengan orang lain, kini ia mengaku tingkat percaya dirinya melonjak drastis—meski tetap menyisakan sedikit ruang untuk terus berkembang.

Ada satu kisah yang begitu membekas di hatinya, tentang seorang anak disabilitas bernama Andika di sebuah panti asuhan di Makassar. Dari tulisannya di media sosial, bantuan untuk membeli kursi roda pun mengalir. Saat itu ia menyadari, tulisan bisa menjadi jembatan kebaikan. Ia pun pernah menulis dalam diam, dari air mata, tentang patah hati dan kekecewaan—meski tak pernah dipublikasikan. Menulis menjadi ruang aman untuk mengurai luka, terutama saat ia menghadapi quarter life crisis dan kehilangan ayahnya. Dunia menulis membantunya keluar dari rasa hampa dan zona nyaman yang membelenggu.

Hari ini, menulis bagi Nunu adalah ungkapan hati dan pikiran. Ia ingin suatu hari menulis memoar di usia 40 tahun, berbagi perjalanan hidup, pengelolaan mental, dan capaian yang telah ia raih. Ia bertahan di IIDN karena rasa terima kasih dan keinginan untuk terus bertumbuh bersama. Ketakutannya adalah jika tulisannya keliru atau menyakiti, maka doanya sederhana: semoga selalu dibimbing untuk menulis hal-hal yang positif dan bermanfaat.

Jika kelak anak atau cucunya membaca karya-karyanya, ia berharap mereka menangkap pesan tentang kesabaran, rasa syukur, dan keberanian menikmati proses. Lima belas tahun bersama IIDN bukan sekadar angka baginya, melainkan perjalanan dari seorang gadis introvert menjadi perempuan dewasa yang percaya diri—dan semua itu dimulai dari keberanian untuk menulis.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles