Namanya Amalia Maurizka. Tinggal di Rangkasbitung. Aktivitas utamanya hari ini sederhana namun penuh makna: menulis.
Ia bergabung dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis pada Januari 2026. Masih sangat baru, tetapi jejaknya sudah terasa. Ketika ditanya bagaimana pertama kali mengenal komunitas ini, ia masih mengingatnya dengan jelas. Ia datang dengan satu tujuan: mencari ilmu dan pertemanan. Harapannya pun sederhana, ingin bisa menulis dengan lancar.
Namun rupanya, yang ia temukan jauh lebih besar dari sekadar kelancaran merangkai kata.
Sebelum bergabung, Amalia sudah menulis. Bahkan ia telah menerbitkan buku solo. Dunia menulis bukan hal baru baginya, tetapi komunitas menghadirkan rasa yang berbeda. Setelah bergabung, perubahan paling terasa dalam dirinya adalah satu kata: bahagia.
Hingga kini, ia telah melahirkan tiga karya:
Sabar Tiada Batas
Tangguh
Merangkai Cahaya dari Puing Kegagalan
Dari ketiganya, buku antologi Tangguh menjadi yang paling berkesan. Baginya, kisah-kisah di dalamnya penuh inspirasi, bukan hanya untuk pembaca, tetapi juga untuk dirinya sendiri.
Ia menyukai tema kehidupan. Karena hidup, dengan segala jatuh bangunnya, adalah sumber cerita yang tak pernah habis.
Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus. Ia pernah kehabisan ide. Pernah merasa ingin berhenti. Pernah overthinking saat menerima komentar yang tidak menyenangkan. Bahkan ada fase ketika ia kehilangan harapan untuk meraih masa depan.
Namun justru di situlah menulis menjadi penyelamat.
“Ketika menulis, seperti menemukan jalan menuju sukses.”
Beberapa tulisannya lahir dari air mata. Tentang kehidupan. Tentang luka. Tentang bangkit dari perkataan yang tidak baik. Ia memilih berusaha dan berdoa sampai bisa berdiri kembali.
Menulis baginya hari ini bukan lagi sekadar hobi. Menulis adalah pembuka rezeki. Ia pernah merasakan hasil finansial dari karya-karyanya. Bisa membeli sesuatu dari hasil menulis—hal kecil yang memberi kebanggaan besar.
Kepercayaan dirinya pun tumbuh. Ia merasa semakin mandiri dan semakin bersemangat.
Di komunitas, sosok yang paling menginspirasi perjalanannya adalah Bunda Indari Mastuti. Ia merasa Ibu-ibu Doyan Nulis bukan sekadar komunitas, tetapi keluarga. Tempat yang saling memberi semangat. Tempat di mana ia merasakan kasih sayang dari orang-orang yang awalnya asing.
Momen paling tak terlupakan baginya adalah saat kopdar—berkumpul bersama melepas rindu. Kebersamaan itu menjadi penguat langkah.
Dampak terbesar komunitas dalam hidupnya? Hidup terasa lebih memiliki tujuan yang tepat.
Ia punya mimpi. Ingin menulis quote. Ingin melahirkan e-book. Ingin terus berkembang. Ketakutan terbesarnya adalah kegagalan dalam menulis. Tetapi doanya sederhana: semoga selalu diberi kelancaran.
Jika suatu hari anak atau cucunya membaca karya-karyanya, ia berharap tulisan itu menjadi kenangan. Jejak hidup yang bisa diceritakan kembali.
Jika ia bisa berbicara kepada dirinya sepuluh tahun lalu, mungkin ia akan berkata: jangan ragu. Jangan takut. Menulislah lebih cepat. Karena menulis bukan hanya tentang kata, tetapi tentang menemukan kembali diri sendiri.
Bagi Amalia Maurizka, Ibu-ibu Doyan Nulis adalah keluarga yang saling memberi semangat. Dan selama semangat itu ada, ia akan tetap bertahan. Tetap menulis. Tetap merangkai cahaya, bahkan dari puing kegagalan.


