6.7 C
New York
Rabu, Februari 18, 2026

Buy now

spot_img

Tutty Amalia Idat: Speak Up, dan Data Pun Bersuara

Sejak tahun 2024, Tutty Amalia Idat bergabung dengan Komunitas Nulis Jadi Duit (NJD). Tanggal dan bulan pastinya mungkin terlupa, tetapi momen dan dampaknya tak pernah ia lupakan. Keputusan itu lahir dari satu keinginan sederhana namun kuat: mengasah kemampuan menulis agar lebih terarah, lebih ilmiah, dan lebih berdasar teori.

Padahal, hubungannya dengan menulis sudah terjalin sejak lama. Sejak SMP, ia terbiasa menulis di buku harian. Awalnya hanya ruang pribadi untuk menuangkan rasa. Namun ketika memasuki dunia kerja sebagai seorang statistisi di Badan Pusat Statistik (BPS), menulis berubah menjadi kebutuhan profesional.

Bagi seorang statistisi, angka-angka tak cukup hanya dihitung. Data harus “dibunyikan”. Data harus diberi makna. Data harus diubah menjadi insight yang bisa dipahami dan digunakan. Di sinilah menulis menjadi jembatan.

Awalnya, ia menulis untuk kebutuhan internal BPS: publikasi survei dan sensus, executive summary, lomba karya tulis Hari Statistik Nasional, hingga membantu pimpinan menyiapkan bahan paparan. Namun ada rasa yang belum puas. Ia mulai mengirim artikel ke surat kabar. Dan ketika tulisannya dimuat, semangatnya meledak. Sejak itu, menulis menjadi kegiatan harian yang tak bisa ia tinggalkan—sudah mandarah daging.

Qadarullah, saat sedang scrolling Instagram, ia menemukan iklan Komunitas Nulis Jadi Duit. Ia bergabung dengan ekspektasi sederhana: mendapatkan ilmu menulis yang mumpuni. Namun titik keyakinan itu benar-benar menguat saat pertama kali bertemu Teh Indari Mastuti di Zoom meeting. Cara belajar yang gamblang dan terarah membuatnya yakin: ini jalur yang tepat.

Sejak bergabung, karya-karyanya terus bertumbuh. Ia menulis di berbagai buku antologi seperti Pelukan Ayah, Pesan untuk Anakku, Merdeka Berpikir, Merdeka Beraksi, Indonesia: Perjuangan dan Inspirasi Anak Negeri, hingga Indonesia Cerdas. Puncaknya adalah buku solo berjudul “Speak Up! Saatnya Kamu Bersinar Lewat Kata.”

Buku inilah yang paling berdampak. Bukan hanya secara personal, tetapi juga profesional. Ia membawa buku itu ke mana-mana. Ia sounding di berbagai grup WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Hasilnya? Kata “Speak Up!” melekat pada dirinya. Bahkan ia mendapat julukan baru: Teh Tutty Speak Up.

Lebih dari sekadar branding, buku itu membuka panggung profesional baru. Ia diundang oleh sebuah universitas untuk membawakan materi “Speak Up with Data”—mengaitkan keberanian bersuara dengan profesinya sebagai statistisi. Di internal BPS, ia dipercaya menjadi narasumber Gerakan Literasi Statistik.

Tulisan telah memperkuat posisinya sebagai Kepala BPS Kabupaten Serang. Dengan kemampuan membaca data dan menuangkannya dalam bahasa yang runtut dan komunikatif, klien dan pengguna data semakin percaya kepadanya. Ia tidak hanya menyajikan angka, tetapi memberikan arah.

Secara finansial, ia merasakan dampaknya dan sangat bersyukur. Ia menyadari tulisan bisa menjadi aset bisnis. Bahkan sempat terpikir membuka pelatihan berbasis bukunya. Tantangannya satu: waktu. Konsistensi dan disiplin membagi fokus antara pekerjaan kantor dan potensi bisnis pribadi masih menjadi pekerjaan rumah.

Namun secara personal, perubahan yang ia rasakan luar biasa. Ia menjadi lebih sabar, lebih peka, lebih empatik. Menulis membantunya berpikir lebih sistematis dan strategis. Baginya, pemimpin yang menulis adalah pemimpin yang tidak egois—karena ia terbiasa berempati dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.

“Menulis bagi saya adalah menyenangkan dan harus berdampak,” ujarnya.

Komunitas Nulis Jadi Duit baginya adalah rumah kedua. Tempat bertumbuh, tempat belajar rendah hati, karena di sana ia menyadari banyak penulis hebat lainnya. Tempat saling menguatkan.

Pesannya untuk para profesional yang ragu menulis sederhana namun kuat:
“Tulis saja dulu tanpa harus sempurna. Saat menulis, jadilah penulis, bukan editor.”

Dalam 3–5 tahun ke depan, ia memiliki mimpi besar: mendirikan sekolah “Speak Up!”

Satu kata untuk perjalanannya di NJD?
Incredible.
Dan ketika milad NJD digelar offline di Bandung atau Jakarta, ia menjawab mantap:
Insyaa Allah hadir.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles