“Assalamualaikum, Teteh…”
Begitu ia memulai pesannya—penuh takzim, hangat, dan tulus.
Mariyati Gazali masih mengingat betul bagaimana awal perjalanannya bersama Komunitas Nulis Jadi Duit (NJD). Semua bermula di akhir tahun 2024, ketika tanpa sengaja ia melihat Teh Indari Mastuti melintas di beranda Facebook, menawarkan bahwa menulis bisa menghasilkan cuan.
Ia tersenyum sendiri saat mengingatnya.
“Ha ha, saya memang sedang berpikir mencari tambahan dari rutinitas sebagai guru.”
Kalimat demi kalimat yang disampaikan dengan penuh semangat dan energi itu mengetuk hatinya. Tanpa banyak pertimbangan, ia memutuskan bergabung.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus di awal.
Bimbingan pertama yang ia ikuti langsung dipresentasikan oleh Teh Indari. Alih-alih merasa percaya diri, ia justru merasa kewalahan. Ia menyadari satu hal penting: menulis itu bukan sekadar bisa, tetapi harus dilatih.
Ia mulai merasa kecil.
Merasa bahwa grup NJD berisi orang-orang hebat, sementara dirinya belum mampu mengimbangi.
Awal tahun 2025, ia membaca buku Melangit karya Teh Indari. Ia ingin sekali mereviewnya, tetapi keberanian itu belum muncul. Ia lebih banyak menyimak. Membaca. Mengikuti setiap tulisan yang mengalir di grup.
Ia menikmati proses itu.
Mengikuti tulisan-tulisan Pak Dafi, Pak Sinal, Bu Nurul, dan banyak nama lain yang menurutnya sudah sangat bagus. Diam-diam, ia belajar dari guliran kalimat mereka.
Sampai akhirnya kesempatan itu datang.
Ketika ada tawaran menulis dalam Antologi Merdeka Berpikir, Merdeka Beraksi, ia memberanikan diri bergabung. Didampingi oleh Mbak Dian, lahirlah tulisannya berjudul “Memilih yang Terbaik.”
Itu bukan sekadar tulisan. Itu adalah titik balik.
Setelah itu, ia kembali berpartisipasi dalam Antologi Indonesia: Perjuangan dan Inspirasi Anak Negeri, lalu yang terbaru Allah Tak Pernah Jauh, Hanya Aku yang Lupa.
Perlahan, satu demi satu langkah kecil ia tapaki. Ia percaya, pada waktunya Allah akan mengizinkannya semakin pandai merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna dan menginspirasi—seperti para penulis yang ia kagumi.
Secara finansial, ia mengakui belum merasakan hasil langsung. Padahal, niat awalnya memang mencari tambahan penghasilan. Namun ternyata, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar cuan.
Ia mendapatkan pengalaman.
Ilmu yang bermanfaat.
Persaudaraan yang hangat.
Semangat yang terus menyala.
Menulis di sela kesibukan sebagai guru bukanlah hal mudah. Tetapi justru di sanalah ia menemukan nilai yang sesungguhnya.
Ilmu yang ia peroleh di NJD sangat membantu profesinya. Dalam menyusun soal untuk murid, menulis kurikulum madrasah, mengedit administrasi, hingga merangkai kalimat saat berbicara—semuanya terasa lebih terarah dan sistematis.
NJD baginya bukan hanya komunitas menulis.
Ia adalah ruang peningkatan kapasitas diri.
Ia merasa lebih terlatih menyusun kata.
Lebih terkendali dalam memimpin diri.
Lebih matang dalam berinteraksi dengan rekan profesi.
Pada akhirnya, ia menyimpulkan dengan sederhana namun dalam:
“Menulis adalah bentuk refleksi diri yang memberi kepuasan batin, dan insyaAllah akan berdampak bagi sesama.”
Dengan penuh harap, ia memohon doa agar di tahun-tahun mendatang Allah memampukannya menulis lebih baik lagi—melahirkan karya yang bernilai dan, siapa tahu, juga berduit.
Perjalanannya mungkin belum spektakuler.
Belum viral.
Belum menghasilkan angka besar.
Tetapi ia telah memulai.
Dan sering kali, keberanian untuk memulai adalah kemenangan pertama seorang penulis.


