Di sebuah sudut desa, perubahan itu tidak datang dengan gegap gempita. Ia hadir perlahan, lewat rapat kader posyandu.
Nama beliau Iim Halimah. Ketua BSU Sejahtera, salah satu unit Bank Sampah Bersinar yang mulai didampingi sejak Januari 2025.
Awalnya sederhana.
Dalam sebuah rapat koordinasi kader posyandu di desa, hadir perwakilan dari Bank Sampah Bersinar (BSB) yang mensosialisasikan pentingnya pemilahan sampah. Dari sana, benih kesadaran mulai tumbuh. Bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus “dikepruk dan dibuang”, tetapi sesuatu yang bisa dipilah, ditimbang, dan ditabung.
Sejak saat itu, BSU Sejahtera berdiri.
Saat ini ada sekitar 15 ibu aktif yang menjadi nasabah. Jumlah yang mungkin tidak besar, tetapi dampaknya terasa nyata.
Jenis sampah yang paling banyak disetorkan pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Plastik boncos, Plastik bening, Kardus, Gelas dan botol air mineral, Kaleng, besi, Duplek, Minyak jelantah,
Kertas, hingga perabotan rumah tangga yang sudah tak terpakai
Sampah yang dulu hanya menumpuk di sudut rumah, kini berubah menjadi angka dalam buku tabungan.
Pembagian tabungan secara serentak memang baru pertama kali dilakukan. Sebelumnya, beberapa anggota memilih langsung mengambil uang setiap kali setor. Fleksibel, sesuai kebutuhan.
Dan kebutuhan itu nyata.
Rata-rata tabungan yang terkumpul dalam satu periode berkisar antara Rp190.000 hingga Rp400.000. Bagi sebagian orang mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi para ibu di BSU Sejahtera, angka itu sangat berarti. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan dapur sehari-hari—beras, lauk, minyak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Lebih dari sekadar nominal, yang berubah adalah perilaku.
“Yang tadinya sampah digebros, sekarang dipilah.”
Kalimat sederhana, tetapi revolusioner.
Dulu, sampah langsung dicampur dan dibuang begitu saja. Sekarang, warga mulai sadar memilah dari rumah. Plastik dipisahkan. Kardus dikumpulkan. Jelantah disimpan. Bahkan perabotan rusak pun tidak langsung dibuang.
Dampak terhadap kebersihan lingkungan pun mulai terlihat. Ada peningkatan setiap bulan. Warga semakin percaya diri dan mulai aktif bertanya, “Kapan mau setor ke BSB?”
Ada semangat yang tumbuh. Ada rasa memiliki.
Kisah paling inspiratif menurut Ibu Iim bukan tentang angka besar, melainkan tentang perubahan cara pandang.
“Sampah yang tadinya tidak berharga, sekarang jadi ada nilai uangnya. Jadi pada rajin ngumpulin di rumah masing-masing.”
Sampah yang dulu dianggap beban, kini menjadi peluang.
Yang dulu dibuang tanpa pikir panjang, kini disimpan dengan penuh harap.
BSU Sejahtera mungkin baru berjalan sejak Januari 2025. Anggotanya baru 15 orang. Tetapi perubahan perilaku adalah fondasi besar bagi masa depan.
Karena sesungguhnya, transformasi lingkungan selalu dimulai dari kesadaran kecil di rumah masing-masing. Dan di BSU Sejahtera, kesadaran itu sudah mulai tumbuh.


