Suatu hari ketika saya melakukan one-to-one dengan beberapa member, mereka berkata dengan ringan,
“Saya merasa sudah kenal Ibu dari postingan-postingan di grup.”
Saya tersenyum.
Padahal saya tahu betul, di grup itu tulisan saya tidak selalu ramai.
Tidak selalu banyak yang membalas.
Tidak selalu penuh komentar.
Tidak selalu terlihat “wah”.
Kadang bahkan terasa seperti menulis ke ruang kosong.
Tapi ternyata… tulisan itu bekerja diam-diam.
Ia tidak ribut.
Ia tidak menuntut validasi.
Ia tidak perlu tepuk tangan.
Namun ia menyusup pelan-pelan ke dalam pikiran orang.
Membangun persepsi.
Membangun rasa kenal.
Membangun trust.
Dan saya semakin percaya — menulis memang bekerja dengan caranya sendiri.
Bisa jadi satu postingan yang setiap hari kita lakukan tidak menghasilkan respons apa pun. Tidak ada like. Tidak ada komentar. Tidak ada pesan masuk.
Tapi ia tetap bekerja.
Karena menulis adalah investasi.
Ia seperti menanam pohon.
Hari ini kita tanam.
Besok belum tentu tumbuh.
Tapi akar sedang bekerja di bawah tanah.
Itulah sebabnya di Nulis Jadi Duit, saya selalu mengajak semua member untuk menulis sesuai dengan profesinya. Bukan asal menulis. Bukan sekadar curhat. Tapi menulis yang selaras dengan positioning.
Karena lambat laun, tulisan itu akan bekerja membangun profesinya sendiri.
Saya mengalaminya.
Sebagai seorang penulis, ketika saya membangun branding sebagai pengusaha di bidang furniture, saya menggunakan tulisan. Saya ceritakan prosesnya. Saya tuliskan perjalanannya. Saya bagikan ceritanya sebagai storytelling.
Dan tanpa saya sadari, klien-klien Indscript Creative akhirnya tahu bahwa saya memiliki bisnis lain.
Hasilnya?
90% klien Ammar Kaayu adalah klien Indscript Creative.
Para klien yang awalnya saya tuliskan biografinya.
Yang saya dampingi menulis bukunya.
Yang saya bantu menyusun legacy-nya.
Akhirnya menjadi klien furniture kami.
Dan bukan proyek kecil-kecil.
Langsung B2B.
Mengapa?
Karena trust sudah terbangun jauh sebelum transaksi terjadi.
Tulisan itu yang membangun jembatan.
Menulis terus memberi dampak bagi perusahaan yang saya miliki.
Demikian juga ketika saya membangun Naisar Forest Garden.
Saya hanya menulis.
Tentang proses belajar.
Tentang gagal tanam.
Tentang mencoba.
Tentang membaca isu krisis pangan 2030.
Tentang mimpi hutan pangan.
Ternyata mereka yang membaca diam-diam… diam-diam pula menambahkan kepercayaan satu per satu.
Ada yang meminta saya meng-handle hektaran tanahnya karena menganggap saya ahli di bidang perkebunan.
Padahal?
Saya masih belajar.
Saya pun masih menggali tanah sendiri dengan penuh rasa ingin tahu.
Rupanya mereka membaca tulisan saya tentang forest garden.
Mereka melihat konsistensi.
Mereka melihat keseriusan.
Mereka melihat arah.
Dan lagi-lagi… tulisan bekerja lebih dulu daripada saya menjual diri.
Sampai hari ini saya belum mengambil kerja sama penggarapan tanah. Saya masih fokus belajar menggarap tanah sendiri. Karena saya tahu, proses ini juga bagian dari cerita yang sedang saya tulis.
Dan mungkin, suatu hari nanti, cerita ini akan bekerja lagi dengan caranya sendiri.
Jadi jika hari ini tulisanmu terasa sepi…
jangan berhenti.
Karena bisa jadi,
ada seseorang di luar sana yang sedang membaca diam-diam,
dan suatu hari berkata,
“Saya merasa sudah kenal Anda.”


