3.6 C
New York
Selasa, Februari 17, 2026

Buy now

spot_img

Dari Sampah Menjadi Berkah: Kisah KWT Aster Srikandi Bersama Bank Sampah Bersinar

Sejak tahun 2015, semangat menjaga lingkungan tumbuh di Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Di bawah kepemimpinan Maryam M. A. Tahir, berdirilah satu unit Bank Sampah Bersinar bernama KWT Aster Srikandi.

Awalnya, latar belakangnya sederhana namun mendesak: kepedulian terhadap lingkungan. Saat itu, sampah masih banyak dibuang ke TPS liar, bahkan langsung ke TPA tanpa proses pemilahan. Kondisi ini memicu keresahan sekaligus kesadaran bahwa harus ada perubahan dari tingkat warga sendiri.

Bank Sampah Bersinar kemudian hadir mendampingi sejak 2015. Perlahan, sistem mulai dibangun. Warga diedukasi untuk memilah sampah dari rumah. Tidak lagi semua dibuang, tetapi dipisahkan sesuai jenisnya dan “ditabung”.

Saat ini, terdapat sekitar 25–30 nasabah aktif yang rutin menyetorkan sampah. Jenis sampah yang paling banyak disetor antara lain botol plastik, kardus, duplek, aneka plastik, Tetra Pack, beling, hingga wadah telur. Semua yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini memiliki nilai ekonomi.

Tabungan dari sampah ini dibagikan minimal setahun sekali. Namun fleksibel — jika ada anggota yang membutuhkan dana, tabungan bisa diambil kapan saja. Bahkan bisa ditukar langsung dengan sembako.

 KWT Aster Srikandi Bersama Bank Sampah Bersinar

Dampak Ekonomi yang Nyata

Bagi para anggota, program ini bukan sekadar soal kebersihan. Ia berdampak langsung pada ekonomi keluarga.

Rata-rata tabungan yang bisa dikumpulkan warga dalam satu periode berkisar antara Rp200.000 hingga Rp1.000.000. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat berarti untuk tambahan belanja rumah tangga, tabungan Lebaran, hingga kebutuhan mendesak.

Bahkan ada kisah yang lebih menggetarkan hati. Beberapa nasabah menabung sampah dengan niat khusus: untuk biaya umroh dan dana kurban. Sampah yang dulu dibuang tanpa makna, kini menjadi jalan ibadah.

Perubahan Perilaku yang Menginspirasi

Dampak terbesar bukan hanya pada nominal tabungan, tetapi pada perubahan perilaku.

Warga yang sebelumnya membuang sampah begitu saja, kini terbiasa memilah. Sampah organik dari dapur tidak lagi terbuang percuma, tetapi dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman pekarangan melalui kegiatan PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

Lingkungan menjadi lebih bersih. Kesadaran meningkat. Bahkan sebagian sampah didonasikan untuk kas RT sebagai bentuk gotong royong.

Program ini menjadi inspirasi bahwa perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten.

 KWT Aster Srikandi Bersama Bank Sampah Bersinar

Dari Lingkungan ke Ketahanan Pangan

Gerakan seperti yang dilakukan KWT Aster Srikandi sejalan dengan visi ekonomi sirkular dan ketahanan pangan berbasis komunitas. Sampah tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi sumber daya.

Inilah bukti bahwa ketika masyarakat diberi edukasi dan ruang untuk bergerak, mereka mampu menciptakan solusi sendiri. Bank Sampah Bersinar bersama unit-unit seperti KWT Aster Srikandi membuktikan bahwa keberlanjutan lingkungan dan ketahanan ekonomi bisa berjalan beriringan.

Dari Cipagalo, kita belajar satu hal penting:
Sampah bukan akhir dari sesuatu.
Ia bisa menjadi awal dari perubahan.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles