infoindscript.com – Jepara, 17 Januari 2026
Biaya hidup yang semakin tinggi, menjalani banyak pekerjaan atau peran menjadi sebuah pilihan. Tak jarang seseorang memiliki lebih dari satu pekerjaan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagai contoh seorang karyawan yang juga berperan sebagai freelancer, konten kreator, digital marketing dalam satu waktu yang sama.
Banyak yang berfikiran bahwa multi role membuat seseorang semakin produktif. Namun, dibalik kesibukan itu semua terdapat adanya risiko shadow career yang membuat seseorang menjauh dari tujuan karir yang diimpikannya. Tanpa adanya strategi yang tepat, multi role ini justru bisa membuat seseorang menjauh dari karir impiannya.
Mengenal Apa Itu Shadow Career
Perlu dipahami bahwa seseorang yang terjebak dalam shadow career adalah seseorang yang berada dalam karir yang tidak diinginkannya. Jauh dari karir yang diimpikannya. Mereka justru sibuk dengan berbagai pekerjaan yang justru menjauhkan dari pekerjaan atau karir Impian mereka.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Mulai dari tidak adanya masa depan yang jelas dari karir impian tersebut, menuruti kehendak orang tua yang menginginkan untuk berkarir pada pekerjaan yang lebih menjanjikan masa depan dan banyak alasan lainnya.
Sebagai contoh seseorang yang memiliki karir Impian sebagai seorang illustrator namun pada kenyataannya justru bekerja sebagai desain grafis. Pekerjaannya ini justru menyita banyak waktu sehingga effort untuk meraih atau bekerja sebagai illustrator sebagai tujuan utamanya teralihkan.
Meski pekerjaan ilustrator dan desain grafis masih dalam satu lingkup yang sama tapi sudah beda arah dan tujuannya. Banyaknya peran yang diambil bisa menjauhkan seseorang dari pekerjaan impiannya. Inilah yang disebut dengan shadow career.
Shadow career dalam jangka panjang juga bisa berdampak pada stagnasi karir utama. Skill utama jadi tidak berkembang, jenjang karir tidak naik dan arah professional pun menjadi kabur. Dari sisi psikologis juga memicu adanya mental burnout.
Mengapa Multi Role Rentan Menjadi Shadow Career
Ilusi bahwa semakin banyak peran dianggap semakin sukses menjadi jebakan untuk masuk ke dalam lubang shadow career. Disamping itu pula multi role sangat rentang berubah menjadi shadow career karena beberapa hal, diantaranya:
1. Tekanan Sosial
Pertama karena adanya tekanan sosial untuk selalu terlihat sibuk dan produktif. Punya banyak kesibukan berarti dianggap produktif sedangkan mereka yang hanya bersantai dianggap tidak produktif dan hanya membuang-buang waktu.
2. FOMO Adanya Peluang
Selanjutnya fomo terhadap berbagai peluang yang datang. Hanya meng-iya-kan tanpa melakukan seleksi terlebih dahulu. Menerima semua pekerjaan yang ada dan sulit untuk berkata “tidak” atau menolaknya.
Hal ini bisa terjadi karena adanya tekanan finansial, sulitnya mencari side job dan masih banyak lagi. Sebisa mungkin cobalah untuk selektif terhadap peluang yang ada sehingga tidak mengganggu fokus untuk meraih pekerjaan Impian.
3. Tidak Adanya Arah Tujuan
Tidak ada yang salah dengan multi role. Hanya saja banyak yang mengambil multi role tanpa arah dan tujuan, tanpa peta karir yang jelas. Akibatnya setiap kesempatan diambil tanpa mempertimbangkan relevansinya terhadap tujuan untuk mendapatkan karir Impian. Pada akhirnya “kesibukkan” menjadi tujuan utamanya. Bukan sebagai alat untuk bertumbuh dan berkembang untuk mencapai karir Impian.
Strategi Menjalani Multi Role dengan Sehat
Mengambil banyak peran atau multi role bukanlah suatu yang salah. Apalagi jika kebutuhan finansial keluarga masih kurang. Hanya saja perlu strategi yang efektif agar multi role yang diambil bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan tidak menjauhkan dari tujuan karir utama.
1. Menentukan Karir Utama Secara Sadar
Langkah pertama yang penting dilakukan adalah dengan menentukan atau mendefinisikan karir utama. Karir utama inilah yang nantinya akan menjadi fondasi identitas profesional dan tujuan jangka panjang.
Jika karir utama sudah ditentukan dengan jelas maka peran lain dapat ditempatkan sebagai pendukung bukan sebagai pengalih fokus. Kesadaran dalam memilih karir utama ini penting karena sangat membantu dalam mengambil sebuah peran.
2. Memastikan Setiap Role Memiliki Nilai Strategis
Pastikan setiap role yang diambil memiliki nilai strategis dalam jangka menengah atau jangka panjang. Apakah peran itu memberikan nilai tambah berupa jaringan professional, skill baru, peningkatan reputasi atau sekadar pengalaman yang relevan. Jika role tersebut tidak memiliki nilai strategis, besar kemungkinan hanya menambah kesibukan tanpa adanya arah yang jelas.
3. Mengelola Waktu dan Energi
Manajemen waktu saja tidak cukup untuk memastikan seseorang menjalankan semua peran dengan baik. Butuh manajemen energi juga karena setiap peran memiliki atau membutuhkan energi yang berbeda.
Ada pekerjaan yang terlihat kecil tapi membutuhkan energi yang besar seperti membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan juga mental yang kuat. Disisi lain ada juga pekerjaan yang membutuhkan energi fisik yang besar.
Dengan memahami batas energi pribadi yang dimiliki setidaknya dapat mengatur prioritas peran mana yang paling berdampak dan mengurangi peran yang hanya melelahkan namun minim dampak.
4. Lakukan Evaluasi Secara Berkala
Jangan lupa untuk tetap melakukan evaluasi terhadap multi role. Apakah role atau peran tersebut masih relevan dengan tujuan karir utama atau sudah tidak selaras. Jika memang peran yang diambil sudah tidak selaras maka “berhenti” menjadi pilihan yang tepat. Bukan sebuah kegagalan namun sikap ini menunjukkan kedewasaan dalam mengelola karir.
Multi role yang sehat itu setidaknya mampu mendukung atau menunjang karir utama dan menunjukkan progres yang nyata baik dari sisi kompetensi, tanggung jawab bahkan pengakuan secara professional.
Multi role yang sehat itu juga saling mendukung bukan saling berebut perhatian atau fokus. Disamping itu pula yang perlu dipahami adalah masih tersedianya ruang untuk belajar, beristirahat, refleksi bukan hanya sekadar mencari kesibukan semata agar terlihat lebih produktif.
Penutup
Multi role bukanlah sebuah hal yang menghambat dalam karir, jika tahu mana multi role yang mendukung dan mana yang harus ditinggalkan. Dalam artian memang harus memilih jenis multi role yang tepat dan melakukan evaluasi.
Tanpa adanya kesadaran dan strategi, multi role bisa menjebak seseorang dalam shadow career yang hanya akan membawa kepada kesibukkan semata, kelelahan dan tidak bertumbuh. Pada akhirnya akan bertemu pada sebuah titik, bukan seberapa banyak multi role yang dijalani melainkan seberapa besar dampak multi role tersebut membawa diri kita lebih dekat pada versi diri yang ingin kita capai.


