3.6 C
New York
Jumat, Januari 16, 2026

Buy now

spot_img

NAISAR Forest Garden: Tempat di Mana Alam dan Karya Penulis Indonesia Bersatu

NAISAR Forest Garden, yang akan segera berdiri di lahan seluas 1.000 m² di Bandung, menghadirkan nilai unik: mengenalkan para penulis Indonesia melalui kawasan-kawasan yang diberi nama mereka beserta sejarahnya, menjadikannya destinasi eduwisata menarik bagi sekolah-sekolah untuk mendekatkan generasi muda pada sastra dan alam sekaligus.

Kawasan-Kawasan yang Mengenang Tokoh Sastra seperti nama-nama di bawah ini:

Kawasan Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) adalah salah satu penulis prosa terbesar Indonesia, pernah dinominasikan untuk Hadiah Nobel Sastra.

Karyanya seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah mengangkat tema perjuangan kemerdekaan, identitas bangsa, dan kritik sosial terhadap kolonialisme.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon trembesi dan kayu jati, simbol ketahanan dan kekuatan yang sesuai dengan semangat perjuangan dalam karyanya.

Kawasan N.H. Dini

N.H. Dini (1936-2018) adalah pelopor sastra feminis Indonesia. Karya-karyanya seperti Hati yang Damai, Pintu Terlarang, dan Namaku Hiroko mengeksplorasi kehidupan perempuan dengan sudut pandang tajam.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon mangga, menjadi simbol keindahan, keberanian, dan buah hasil perjuangan.

Kawasan Chairil Anwar

Chairil Anwar (1922-1949) adalah tokoh penting Angkatan 45 dan pelopor puisi modern Indonesia, dijuluki “Si Binatang Jalang” dari puisinya Aku. Karyanya seperti Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam penuh semangat perjuangan dan gaya bebas.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Rumput liar di wilayah peternakan domba yang mencerminkan semangat bebas dan tumbuh gagah meskipun di tempat apapun.

Kawasan Pipiet Senja

Pipiet Senja (Etty Hadi Wati Arief) lahir di Sumedang pada tahun 1957, penulis produktif dengan lebih dari 200 karya yang mencakup novel, puisi, cerpen, dan sastra anak.

Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda, mendirikan Penerbit Pipiet Senja, serta aktif mempromosikan sastra meskipun menderita Thalasemia.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Lidah buaya melambangkan daya tahan kuat.

Kawasan Tere Liye

Tere Liye (Darwis) lahir di Lahat pada tahun 1979, penulis ternama sekaligus akuntan. Debutnya dengan Hafalan Shalat Delisa pada 2005, telah merilis lebih dari 50 karya seperti seri Bumi dan Hujan, banyak diadaptasi menjadi film dengan tema keluarga, cinta, dan fantasi.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon kelapa dan pisang mencerminkan keragaman dan imajinasi yang kaya dalam karyanya.

Kawasan Asma Nadia

Asma Nadia (Asmarani Rosalba) adalah penulis, penerbit, dan pendiri Forum Lingkar Pena serta komunitas Bisa Menulis, kini menjabat CEO KBM for Kids.

Ia telah mengunjungi lebih dari 570 kota untuk kuliah dan pernah mengikuti Iowa International Writing Program, dengan karya terkenal seperti seri Surga yang Tak Dirindukan.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon sirih, kunyit, jahe, serta jenis tanaman obat lainnya melambangkan kebersamaan, kesehatan, dan kesucian yang menjadi tema dalam karyanya.

Kawasan Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa lahir pada tahun 1970, dosen Universitas Indonesia yang beberapa kali masuk daftar “500 Muslim paling berpengaruh di dunia”.

Ia telah menulis lebih dari 80 karya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, seperti Ketika Mas Gagah Pergi dan Bukavu, serta merupakan salah satu pendiri Forum Lingkar Pena.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Tanaman obat seperti jahe, temu lawak, dan daun sirih merah, melambangkan kontribusinya terhadap kemaslahatan masyarakat.

Kawasan Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa akan disatukan dalam satu kawasan sebagai sebuah penanda mereka kakak beradik yang eksis.

Kawasan Indari Mastuti

Indari Mastuti lahir di Bandung pada 9 Juli 1980, alumnus Universitas Pasundan yang telah menerbitkan lebih dari 350 karya berupa buku dan ebook.

Ia memulai karir pada tahun 1996 dengan artikel di majalah Gadis, menjadi penulis Grasindo pada 2005, dan mendirikan Indscript Creative yang telah membina lebih dari 3.000 penulis di Indonesia dan beberapa negara dunia.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Sayuran organik seperti kangkung, bayam, bayam Brazil, dan berbagai jenis sayuran lainnya melambangkan kontribusinya dalam mengembangkan literasi dan kesejahteraan masyarakat.

Kawasan Ahmad Tohari

Ahmad Tohari lahir pada 13 Juni 1948, sastrawan dan budayawan dengan karya monumental Ronggeng Dukuh Paruk yang telah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan diangkat menjadi film Sang Penari.

Karyanya menggambarkan kehidupan pedesaan dan tradisi budaya Indonesia.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Jagung yang mencerminkan suasana pedesaan yang menjadi latar banyak karyanya.

Kawasan W.S. Rendra

W.S. Rendra (1935-2009) dijuluki “Penyair Merak”, merupakan penyair, dramawan, dan sutradara teater.

Ia mendirikan Bengkel Teater pada tahun 1967, dengan karya terkenal seperti Blues untuk Bonnie dan Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta yang sarat kritik sosial.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon beringin dan rumput gajah, menyambut semangat kreatifnya dalam dunia teater dan seni pertunjukan.

Kawasan Mochtar Lubis

Mochtar Lubis (1922-2004) adalah penulis sekaligus wartawan dengan karya seperti Senja di Jakarta dan Harimau! Harimau! yang mengangkat konflik manusia dan isu moral.

Ia juga dikenal sebagai salah satu pelopor pers independen di Indonesia.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon mahoni dan berbagai jenis jambu air melambangkan kedalaman pemikiran dan kejernihan prinsip dalam karyanya.

Kawasan Marah Rusli

Marah Rusli (1889-1968) adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka, dikenal dengan karyanya Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai yang menjadi klasik sastra Indonesia dan menggambarkan perjuangan perempuan melawan belenggu tradisi.

Ia juga bekerja sebagai dokter hewan hingga pensiun.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Bunga melati merah, pohon cempaka, dan tanaman pacar air, melambangkan cinta dan keteguhan hati yang menjadi tema utama karyanya.

Kawasan Ayu Utami

Ayu Utami lahir di Bogor pada 21 November 1968, penulis dan aktivis perempuan yang debut dengan novel Saman yang memenangkan sayembara penulisan roman terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998.

Karyanya seperti Bilangan Fu mengangkat tema seksualitas, politik, dan agama, serta ia mendirikan komunitas Utan Kayu.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Berbagai jenis pohon kelapa gading mencerminkan gaya kreatif yang unik dan beragam.

Kawasan Umar Kayam

Umar Kayam (1932-2002) adalah penulis, budayawan, dan akademisi, pelopor Angkatan 66 yang mengajar sebagai guru besar di Universitas Gadjah Mada.

Karyanya seperti Para Priyayi dan kumpulan esainya yang dimuat di media massa mengangkat tema budaya dan identitas bangsa.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon trembesi, pohon sawo, dan bunga kantan, melambangkan kedalaman pemikiran dan hubungan erat dengan budaya Jawa.

Kawasan Ajip Rosidi

Ajip Rosidi (1938-2022) adalah penyair, penulis, dan aktivis budaya Sunda dengan karya seperti Kumpulan Puisi Ajip Rosidi dan Bunga Rampai Karya Ajip Rosidi.

Ia memperjuangkan keberadaan sastra daerah dan nasional, serta aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon kecapi, kembang sepatu, dan tanaman temulawak, mencerminkan akar budaya Sunda dan perhatiannya terhadap kesehatan masyarakat.

Kawasan HB Jassin

HB Jassin (1917-2000) dijuluki “Bapak Kritik Sastra Indonesia”, merupakan kritikus sastra, penyair, dan penulis dengan karya seperti Kesusasteraan Indonesia Modern dan Profil Sastra Indonesia yang membangun landasan ilmu kritik sastra di Indonesia.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon pinus, tanaman lidah mertua, dan bunga matahari, melambangkan kedisiplinan pemikiran dan pandangan yang luas terhadap dunia sastra.

Kawasan Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) adalah penulis, penyair, dan pemikir, salah satu pendiri majalah Pudjangga Baru.

Karyanya seperti Layar Terkembang dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck menjadi klasik sastra Indonesia yang mengangkat tema modernisasi dan identitas bangsa.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon waru melambangkan wawasannya yang luas dan semangat kemajuan bangsa.

Kawasan Dee Lestari

Dee Lestari lahir di Jakarta pada tahun 1976, merupakan penulis, penyanyi, dan pencipta lagu dengan karya seperti seri Supernova dan Rectoverso yang menggabungkan unsur fantasi, cinta, dan isu sosial.

Banyak karyanya diadaptasi menjadi film atau serial televisi.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon manggis, bunga anggrek berbagai jenis, dan tanaman alpukat, mencerminkan gaya karyanya yang menyatu berbagai bidang seni dan keragaman tema yang diangkat.

Kawasan Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono (1940-2020) adalah penyair dan akademisi terkemuka dengan karya seperti DukaMu Abadi dan Mata Pisau yang dikenal dengan keindahan bahasa dan kedalaman makna. Ia juga mengajar di Universitas Indonesia dan banyak menerima penghargaan.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon beringin, bunga lili, dan tanaman lavender, mencerminkan keindahan puisinya dan kedalaman makna yang terkandung dalam setiap baitnya.

Kawasan Mira W

Mira W lahir di Jakarta pada tahun 1972, penulis sastra anak dan remaja dengan karya seperti Bintang yang diadaptasi menjadi film sukses.

Karyanya penuh dengan semangat optimisme dan nilai pendidikan, serta ia aktif dalam mempromosikan literasi anak.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Bunga matahari, pohon pepaya, dan tanaman kacang panjang, mencerminkan semangat optimisme dan kesegaran yang menjadi ciri khas karyanya.

Kawasan Y.B. Mangunwijaya

Y.B. Mangunwijaya (1929-1999) adalah arsitek, pendeta, dan penulis dengan karya seperti Burung-Burung Manyar dan Arok Dedes yang mengangkat tema sejarah, budaya, dan spiritualitas. Karyanya juga mencerminkan visi arsitekturnya yang ramah lingkungan.

Jenis tanaman yang akan ditanam: Pohon pinus, tanaman pakis, dan berbagai jenis tanaman liar lokal, mencerminkan visi arsitekturnya yang menyatu dengan alam dan kekayaan budaya Indonesia.

Nama-nama penulis ini akan terus berkembang sesuai kebutuhan sehingga membuat NAISAR Forest Garden cocok sebagai Eduwisata untuk sekolah-sekolah karena setiap kawasan akan dilengkapi dengan papan informasi yang menjelaskan profil dan kontribusi penulis, serta hubungan antara karya mereka dengan jenis tanaman yang ditanam.

Siswa dapat belajar tentang sejarah sastra Indonesia sambil memahami pentingnya menjaga alam, melalui aktivitas seperti menanam bibit, membaca karya penulis di bawah naungan pohon, dan berdiskusi tentang pesan moral dalam tulisan-tulisan tersebut.

Melalui konsep ini, NAISAR Forest Garden berharap dapat menjadi jembatan antara cinta pada sastra dan cinta pada alam, serta menyebarkan semangat literasi kepada generasi mendatang.

#NAISARForestGarden #Eduwisata #SastraIndonesia #PenulisIndonesia #CintaAlam #Literasi #Bandung #PenulisSenior #Agroforestry

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles