
Tidak terasa libur sekolah hampir usai. Sebagian sekolah bahkan ada yang sudah mulai aktif pembelajaran. Tentunya hal ini bukan menjadi penghambat untuk terus bersemangat, bukan?
Apa pun itu, liburan yang sudah terlewati pasti meninggalkan pengalaman tersendiri; baik bagi yang melakukan perjalanan maupun yang berdiam diri di rumah.
Biasanya, saat melakukan perjalanan kita tidak melewatkan wisata kuliner. Bahkan tidak sedikit yang sengaja bepergian jauh demi menikmati kegiatan satu ini. Wisata kuliner jadi hal yang paling ditunggu karena alasan rindu untuk mencicip makanan khas suatu daerah yang pernah dikunjungi.
Pesatnya sebaran informasi melalui media sosial juga turut mendukung pemburu kuliner, baik yang kekinian maupun panganan jadul. Salah satu kuliner jadul yang kian sulit ditemui sekarang adalah kue Tapel. Jajanan tradisional dari kota Cirebon ini sekilas menyerupai Kerak Telor khas Betawi.
Namun, bedanya kue Tapel bercita rasa gurih serta manis. Kue Tapel berasal dari kata ” tape” yang bermakna tempel karena cara memasaknya yang ditempelkan pada wajan panas tanpa minyak. Makanan yang terbuat dari adonan tepung beras, ketan, parutan kelapa, pisang, dan gula merah ini memiliki tekstur yang renyah di luar namun lembut dan lumer di dalam.
Seiring perkembangan jaman, pembuat kue Tapel semakin berkurang. Tidak heran jika Anda bepergian ke kota Udang ini hanya sedikit yang masih menjajakannya.
Salah satu pembuat kue Tapel di Cirebon yang masih bertahan hingga kini adalah Ibu Lena Oktavia. Beliau adalah generasi ke empat yang masih melestarikan keberadaan kue Tapel di daerah Pekalangan Utara, Cirebon. Usaha kue Tapel ini sudah dirintis selama 50 tahun. Dengan resep turun temurun warisan keluarga, Ibu Lena masih mempertahankan rasa kue yang otentik. Tidak hanya itu, Beliau juga masih memasak berbahan kayu bakar dan menggunakan batok kelapa dalam teknik pengolahannya. Untuk seporsi kue Tapel biasa dijual dengan harga sekitar tujuh ribu rupiah.
Penasaran bagaimana cara membuatnya? Langah pertama yang Anda siapkan adalah pastikan bara api sudah menyala. Penggunaan kayu bakar akan memberikan aroma tersendiri pada hasil masakan. Lalu siapkan wajan. Setelah itu masukan adonan tepung beras yang telah bercampur parutan kelapa dalam wajan. Kemudian tambahkan ketan, pisang serta irisan gula merah. Ratakan bahan-bahan tersebut dengan cara ditekan menggunakan batok kelapa atau sendok. Tunggu sekitar tiga menit.
Setelah permukaan kue terlihat garing, lipat menjadi setengah lingkaran. Kue Tapel pun siap dinikmati.
Itulah perkenalan singkat kue Tapel, jajanan sederhana namun perlu keahlian untuk membuatnya seperti halnya Kerak Telor. Dunia kuliner selalu mengalami perkembangan yang signifikan. Ada yang murni resep pribadi, ada pula yang mengadopsi resep lain lalu kemudian dimodifikasi.
Soal enak atau tidak, semua tergantung pada selera masing-masing. Namun, alangkah bijaknya jika kita juga menjadi bagian yang melestarikan warisan budaya. Karena selalu ada cerita, nilai sejarah di balik keberadaannya.
Seperti pie susu khas Bali yang dilatar belakangi sebagai sebuah oleh-oleh praktis, ringan dan tahan lama tetapi menyimpan kenangan manis saat siapa pun berkunjung ke Bali. Atau Bandeng Presto Juwana khas Semarang – hidangan berbahan dasar ikan bandeng yang dapat dinikmati secara utuh dari ekor hingga kepala bahkan dengan durinya – yang menggambarkan rumitnya lika-liku kehidupan yang harus terus dijalani dengan sabar dan tekun karena selalu ada limpahan berkah setelahnya.


