(Ringkasan Penjabaran Ibu Sari Sundari, Ketua Bapeka Jawa Barat 2025 – 2030)
Di tengah tantangan globalisasi, media sosial, dan serbuan budaya luar, keluarga tetap menjadi pilar pertama dan utama dalam menciptakan peradaban yang mulia.
Inti keluarga yang kuat terletak pada kebersamaan ayah, ibu, dan anak — dimana setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ketahanan, bukan hanya ibu sebagai penengah semata.
Peran ibu sebagai individu tak terpisah dari keluarga: ketika ibu sehat secara fisik, batin, dan akal, dia akan melahirkan keluarga yang lebih berkualitas. Namun, ibu juga perlu memperbaiki diri dan tidak boleh selalu dipaksakan “tidak boleh capek atau sakit” — dia juga manusia yang merasakan lelah.
Di hari ibu 2025 ini mari kita gunakan tagline “ibu sehat dan bahagia, lahirkan keluarga tangguh” sebagai bukti pentingnya kesejahteraan ibu.
Ilmu menjadi kunci utama untuk mengatasi kekacauan dalam keluarga, termasuk memahami nilai-nilai yang tercantum dalam Al-Quran tentang sikap anak terhadap orang tua dan hubungan suami-istri.
Tanpa ilmu, mudah terjadi degradasi nilai moral, adiksi gadget yang menjauhkan yang terdekat, dan masalah seperti tekanan ekonomi, kesehatan mental, eksploitasi seksual, serta materialisme yang merusak fondasi keluarga. Bahkan, anak-anak mudah terjebak informasi salah tentang feminisme, seks bebas, atau bahkan love scamming karena kurangnya bimbingan dari keluarga.
Program di sekolah memainkan peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai keluarga sejak dini. Guru bukan hanya mengajar akademik, tapi juga membimbing anak-anak tentang kesehatan reproduksi, usia perkawinan yang layak, cara berkomunikasi dengan pasangan, dan pentingnya keluarga yang sehat — menjadikan sekolah sebagai jembatan antara pendidikan formal dan kehidupan sehari-hari.
Untuk menjawab semua tantangan ini, dibutuhkan upaya komprehensif melalui pengarus utamaan keluarga — strategi kebijakan yang mengintegrasikan perspektif pembangunan keluarga ke dalam semua sektor: pemerintah dengan peraturan daerah dan programnya (seperti PKH, Posyandu, Kampung KB Ceria), tokoh masyarakat, organisasi, media, dunia usaha, dan terutama guru di sekolah.
Ya, semua pihak bekerja bersama agar keluarga tetap utuh, menjalankan fungsinya sebagai inkubator sumber daya manusia berkualitas yang akan membawa kebaikan untuk bangsa, negara, dan agama.
Dengan semuanya ini, kita harap bisa mewujudkan keluarga yang tangguh — yang mampu menghadapi apapun ujian dan tetap menjadi landasan kuat bagi peradaban yang mulia.


