Saya datang ke ruang ini sebagai undangan. Bukan dengan kebaya, bukan pula dengan atribut sempurna. Namun dengan hati yang lapang dan rasa syukur yang penuh.
Hari ini, BIPEKA DPW PKS Jawa Barat menghadirkan peringatan Hari Ibu dengan cara yang berbeda—hangat, berbudaya, dan menyentuh nurani.
Di ruang ini, perempuan-perempuan hadir membawa cerita, doa, dan harapan.
Ada yang datang sebagai ibu, ada yang datang sebagai pejuang, ada pula yang datang sebagai pembelajar kehidupan.
Saya mungkin tidak mengenakan kebaya seperti yang dianjurkan. Namun saya merasa sangat beruntung bisa berada di sana.
Beruntung karena diundang.
Beruntung karena disertakan.
Beruntung karena dipertemukan dengan gagasan-gagasan baik tentang perempuan, keluarga, dan peradaban terutama akan hadir Ibu Siti Muntamah, Wakil Ketua Komisi V DPRDJawa Barat dan Ibu Sari Sundari, Ketua Bipeka.
Di ruang ini saya kembali diingatkan: bahwa makna seorang perempuan tidak diukur dari apa yang melekat di tubuhnya,
tetapi dari nilai yang hidup di dalam hatinya.
Saya akan menyimak, merenungi, dan akan pulang dengan perasaan yang utuh.
Tentang perempuan yang berdaya tanpa kehilangan kelembutan.
Tentang ibu yang kuat tanpa harus memaksa diri selalu sempurna.
Tentang kebersamaan yang tidak menilai, tetapi menerima.
Terima kasih telah mengundang saya ke ruang kebaikan ini.
Meski tanpa kebaya, saya ingin pulang dengan kehormatan sebagai perempuan.
Meski sederhana, saya merasa dilibatkan dalam sesuatu yang bermakna dan hari ini, saya tahu:
saya tidak sekadar hadir—saya beruntung.


