3.6 C
New York
Kamis, Januari 15, 2026

Buy now

spot_img

Upaya Memulihkan Kognitif Anak Pasca Bencana: Panduan untuk Orang Tua dan Relawan

Infoindscript.com – Jepara, 20 Desember 2025

Bencana Alam seperti tanah longsor, banjir, gempa, kebakaran dan kecelakan besar dapat mengganggu rasa aman dan jiwa anak. Tidak hanya menyebabkan cedera fisik dan juga kehilangan materi, dampak lainnya adalah mempengaruhi sisi psikologis anak, kemampuan berfikir, kemampuan untuk fokus dan mengingat serta berbahasa. Secara tidak langsung mempengaruhi sisi kognitif anak.

Disini peran orang tua dan relawan sangat diperlukan untuk menyambung dan menciptakan lingkungan yang aman, stimulasi yang tepat bagi anak korban bencana. Artikel ini akan membahas tentang upaya pemulihan kognitif anak pasca korban bencana yang bisa dilakukan oleh orang tua maupun relawan.

Memahami Dampak Bencana pada Kognitif Anak

Tidak hanya masalah materi dan fisik, bencana juga berdampak pada sisi kognitif anak. Reaksi psikologis dan kognitif yang umumnya terjadi adalah mudah lupa, sulit untuk berkonsentrasi, penurunan kemampuan berkomunikasi, mengalami kebingungan dan perubahan kecepatan dalam berpikir.

Meskipun dampak ini bergantung dari berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat keparahannya. Seperti layaknya usia, kedekatan dengan kejadian atau peristiwa, dukungan emosional yang tersedia hingga kondisi kesehatan mental korban pra bencana. Tidak hanya korban bencana, kondisi seperti ini juga berlaku pada anak yang sering terpapar kekerasan dalam jangka waktu yang lama dan berulang.

Berikut adalah beberapa dampak bencana ditinjau dari sisi kognitif korban musibah bencana.

·      Dominasi Memori Negatif

Anak-anak yang menjadi korban bencana mampu menceritakan musibah atau bencana dengan sangat jelas dan traumatis, seolah-olah bencana tersebut baru saja terjadi (flashbulb memory). Namun, dibalik lancarnya anak-anak korban bencana dalam menceritakan peristiwa tersebut, mereka mengalami kesulitan dalam mengingat momen-momen positif, tenang dan bahagia.

·      Mengalami Ancaman Psikologis

Menurut data dari pusat krisis psikologi pasca bencana, 70% anak korban bencana mengalami post traumatic stress disorder (PTSD). Sebuah kecemasan berat yang biasanya dialami pada 3 bulan pertama pasca bencana yang erat kaitannya dengan kegagalan otak dalam memproses memori secara normal.

Maka penting bagi orang tua dan relawan untuk membantu anak-anak korban bencana dalam mengingat dan membangun ingatan positif untuk memberi fondasi  dalam membangun resiliensi, identitas diri dan juga harapan.

Sebuah kemampuan untuk bangkit, beradaptasi dan pulih secara positif dari sebuah kesulitan, trauma dan tekanan hidup. Menjadi lebih tangguh, lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup bukan sekadar bertahan untuk hidup.

Upaya Pemulihan Kognitif Anak Pasca Bencana

Tujuan dari pemulihan kognitif adalah untuk membantu otak anak mengarsipkan ingatan negatif dan traumatis ke dalam masa lalu dan mulai aktif dalam membangun kembali bank memori positif mereka. Berikut adalah langkah terstruktur yang bisa dilakukan.

1.      Stabilkan Emosi Anak Terlebih Dahulu

Hal pertama yang penting untuk dilakukan dalam upaya pemulihan kognitif anak pasca bencana adalah dengan membuat anak merasa aman terlebih dahulu. Mulai dari kenyamanan fisik hingga keamanan seperti kebutuhan dasar yang harus terpenuhi terlebih dahulu layaknya makanan, pakaian, tempat tidur hingga tempat yang aman.

Selanjutnya adalah dengan membangun rutinitas yang konsisten. Mulai dari membuat jadwal yang sederhana guna membantu memprediksi suatu keadaan. Sebagai contoh membuat jadwal kegiatan seperti bangun, sarapan, bermain, tidur siang dan kegiatan lainnya. Hal ini berguna untuk membangun stabilitas, Latihan kognitif karena otak masih dalam mode bertahan.

2.      Pendekatan Trauma Informed

Pendekatan ini berguna untuk mengetahui sejauh mana efek trauma yang dialami anak sehingga dapat menghindari pemicunya dan memberikan kontrol pada anak. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan dukungan jika anak ingin bercerita dan tidak memaksa jika anak tidak mau bercerita.

Perhatikan pula pemicunya seperti suara keras, bau-bau tertentu atau topik yang bisa memicu flashback kejadian. Sedangkan untuk mengembalikan rasa kontrol anak, orang tua atau relawan bisa memberikan anak pilihan kecil seperti memilih warna krayon  atau mainan yang diinginkan.

3.      Pendekatan Reklamasi Memori

Prinsip dasar dari pendekatan reklamasi memori ini adalah memicu kembali ingatan atau memori indah sebelum bencana menggunakan pemicu sensorik yang aman. Pendekatan ini bisa dilakukan dengan cara meminta anak menggambar kenangan terbaik atau terindah mereka sebelum bencana terjadi. Bisa juga dengan mendengarkan musik kesukaan dan mencium aroma-aroma yang menenangkan. Disamping itu pula aktivasi dan stimulasi sensorik yang positif bisa membantu otak dalam mengasosiasikan lingkungan dengan rasa aman.

4.      Penataan Ulang Kognitif

Trauma yang dialami anak bisa membuat anak memiliki pola pikir negatif yang membuat mereka terikat pada ketakutan. Metode ini bertujuan untuk mengubah pola pikir tersebut menjadi lebih memberdayakan.

Orang tua atau relawan bisa membantu mengubah narasi negatif menjadi narasi yang lebih positif atau netral. Sebagai contoh anak yang mengatakan, “ aku takut dengan suara yang keras” bisa diubah menjadi “Alhamdulillah, aku selamat karena aku bersembunyi di tempat yang aman.”

Tujuan dari resiliensi ini adalah untuk menggeser fokus anak dari rasa kehilangan pada keberhasilan untuk bertahan hidup (survival).

5.      Keterlibatan Aktif Orang Terdekat

Orang terdekat terutama orang tua berperan penting sebagai jangkar emosional seperti memperlihatkan rasa tenang dalam menghadapi kondisi dan tantangan, responsif dan juga konsisten dalam melakukan tindakan upaya pemulihan. Adapun relawan berperan atau bertindak sebagai fasilitator stimulasi dan sebagai penghubung ke layanan profesional bila diperlukan.

Kesimpulan

Itulah beberapa cara atau metode yang bisa dilakukan guna memulihkan kognitif anak pasca bencana. Dibutuhkan kerjasama dari guru, tokoh masyarakat, relawan, orang tua, komunitas dan semua sumber daya yang ada agar upaya pendampingan dan pemulihan bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Dan yang perlu dicatat adalah upaya pemulihan ini berlangsung secara bertahap. Terkadang mengalami kondisi yang naik dan terkadang mengalami penurunan. Maka perlu untuk mencatat setiap perkembangan kecil yang ada.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles