Infoindscript.com – Rangkasbitung, 19 Desember 2025
Burnout adalah yang sering kali dialami oleh pegawai akibat tekanan pekerjaan yang berkelanjutan. Istilah ini diperkenalkannya pada tahun 1974, yang menggambarkannya sebagai kelelahan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang menuntut secara emosional. Di era modern, fenomena burnout semakin mendapat perhatian karena dampaknya yang luas terhadap kesejahteraan individu dan keberhasilan organisasi. Sebagai contohnya, seorang pegawai di sebuah perusahaan rintisan teknologi mungkin menghadapi tekanan untuk menyelesaikan proyek dalam waktu singkat. Sambil terus menghadapi tuntutan inovasi, dengan jam kerja yang panjang dan target yang ambisius. Pegawai tersebut dapat merasa kelelahan baik secara fisik maupun mental. Hal ini menggambarkan betapa rentannya individu terhadap burnout ketika tuntutan kerja tidak dimbangi dengan dukungan yang memadai.
Faktor Burnout di Kalangan Pegawai
Sebelum membahas lebih jauh mengenal pendekatan manajemen SDM untuk menangani burnout. Penting untuk terlebih dahulu mengindentifikasi faktor-faktor pemicunya. Dengan memahami akar permasalahan ini, organisasi dapat merancang strategi yang lebih tepat sasaran dalam mencegah dan menangani burnout di lingkungan kerja. Berikut ini adalah beberapa faktor utama yang sering pemicu burnout:
1. Beban Kerja yang Berlebihan
Pegawai yang terus menerus dihadapkan pada tuntutan kerja yang tinggi, terbatasnya waktu istirahat, rentan untuk mengalami burnout. Beban kerja yang tidak seimbang sering kali mengalami stres kronis.
2. Kurangnya Dukungan dari Atasan
Minimnya komunikasi dan dukungan emosional dari atasan dapat membuat pegawai merasa tidak dihargai atau terisolasi, sehingga meningkatkan risiko kelelahan emosional.’
3. Ketidakjelasan Peran
Ketika pegawai tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang tanggung jawab mereka atau menerima arahan yang bertentangan, mereka dapat merasa frustasi dan kewalahan.
4. Lingkungan Kerja yang Tidak Kondusif
Konflik antar rekan kerja, kurangnya penghargaan, atau budaya kerja yang toxic dapat menciptakan tekanan tambahan yang berkontribusi pada burnout.
5. Kurangnya Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi
Jam kerja yang panjang dan ekspetasi untuk selalu tersedia, bahkan diluar jam kerja, dapat mengganggu kehidupan pribadi pegawai dan menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
Dampak Burnout
Burnout memiliki dampak negatif yang signifikan, baik pada individu maupun organisasi. Pada tingkat individu burnout dapat menyebabkan:
-
Gangguan Kesehatan Mental
Pegawai yang mengalami burnout sering menghadapi masalah seperti depresi, kecemasan, dan kehilangan motivasi. Burnout juga bisa menurunkan rasa percaya diri dan memicu perasaan putus asa.
-
Gangguan Fisik
Stres yang kronis akibat burnout dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik, seperti tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, insomnia, dan sistem imun yang melemah. Dalam jangka panjang hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung.
-
Penurunan Kinerja
Burnout mengurangi konsentrasi, kemampuan pengembalian keputusaan, dan kreativitas. Pegawai yang mengalami burnout cenderung membuat kesalahan lebih banyak dan memiliki produktivitas yang lebih rendah.
-
Penurunan Kepuasan Kerja
Burnout n kali membuat pegawai kehilangan minat terhadap pekerjaan mereka, merasa tidak puas, dan kurang terlibat dalam tugas sehari-hari.
Pendekatan Manajemen SDM untuk Mengatasi Burnout
Untuk mengatasi burnout secara efektif, tempat kerja perlu mengadopsi pendekatan manajemen SDM yang komprehensif. Langkah-langkah berikut dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dan mendukung karyawan dalam menghadapi tantangan pekerjaan mereka yaitu:
1. Menerapkan Program Kesejahteraan Pegawai
Tempat bekerja dapat menyediakan program kesehatan mental, seperti konseling psikologis, sesi mindfulness, dan pelatihan manajemen stres, untuk membantu pegawai mengelola tekanan kerja.
2. Pengelolaan Beban yang Efektif
Atasan harus memastikan distribusi pekerjaan yang adil dan memberikan fleksibilitas kepada pegawai, seperti opsi kerja jarak jauh atau jam fleksibel untuk mengurangi tekanan.
3. Meningkatkan Komunikasi dan Dukungan
Atasan perlu secara aktif mendengarkan kekhawatiran pegawai dan memberikan umpan balik yang konstruksif. Forum diskusi terbuka dapat membantu mendeteksi potensi masalah lebih awal.
4. Memberikan Pengakuan dan Penghargaan
Memberikan penghargaan atas pencapaian pegawai, baik dalam bentuk finansial maupun non-finansial. Dapat meningkatkan rasa dihargai dan mengurangi risiko burnout.
5. Mendorong Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi
Organisasi dapat mempromosikan kebijakan cuti yang fleksibel, dan memastikan bahwa pegawai tidak diharapkan untuk bekerja. Hal ini bisa membantu pegawai menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
6. Melakukan Pelatihan Kepemimpinan
Pemimpin yang peka terhadap kesejahteraan pegawai berperan penting dalam mencegah burnout. Pelatihan kepemimpinan yang fokus pada empati, komunikasi, dan pengelolaan konflik dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Penutup:
Fokus kerja pemicu burnout pegawai meliputi beban kerja berlebih, kurang kontrol, kurang dukungan, lingkungan toxic, peran yang tidak jelas, ketidakadilan, minim apresiasi, stagnasi karier, serta isu eksternal seperti masalah keluarga. Pendekatan SDM mengatasinya dengan program kesejahteraan mental, pengelolaan beban kerja, komunikasi yang efektif, pengakuan, keseimbangan kerja- hidup pribadi, dan pengembangan kepemimpinan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan sportif


