Setiap kali saya bertemu Bu Fifie Raharja, saya selalu merasa seperti sedang duduk di depan sebuah peta besar—peta mimpi, peta perjalanan, peta cinta pada Sunda dan pada Indonesia.
Ada titik-titik yang dulu terasa jauh, kini mulai terhubung satu per satu dan saya paham, bahwa inilah kekuatan seorang perempuan yang hidupnya sepenuhnya dipersembahkan untuk kebermanfaatan.
Saya mengenal Bu Fifie sejak sekitar tahun 2014-an. Awalnya hanya sebatas klien—hubungan profesional seperti biasanya. Tapi pelan-pelan, tanpa saya sadari, kami melangkah terlalu jauh untuk disebut sekadar rekan kerja.
Kami tumbuh menjadi sahabat perjuangan. Sahabat dalam cita-cita yang sama: menghadirkan dampak bagi masyarakat Sunda dan Indonesia.
Dari dulu saya melihat sinar itu di matanya. Sinar tentang budaya. Sinar tentang manusia. Sinar yang kemudian ia wujudkan melalui Yayasan Solusi Bersinar Indonesia. Dari program disabilitas, rumah Ruth, Bank Sampah Bersinar, hingga Kelas Bersinar yang kini sudah diikuti lebih dari 100 murid.
Setiap langkahnya seperti kepingan puzzle yang memang sedang Tuhan susun dan semua kepingan itu akhirnya mengerucut menjadi satu mimpi besar bernama Kampung Bersinar.
Sebuah kampung yang tidak lahir tiba-tiba, tetapi muncul dari perjalanan panjang, dari rekam jejak, dari kerja-kerja sosial yang diam-diam memperkuat pondasinya setiap tahun.
Kampung Bersinar ini akan menjadi ruang baru bagi para penambang kota—mereka yang bekerja keras dari pagi hingga sore, tapi sering kali luput dari perhatian banyak orang.
Di Kampung Bersinar, mereka tetap bekerja seperti biasa. Namun malam harinya, alih-alih pulang ke rumah untuk melepaskan lelah, mereka justru akan naik panggung. Menjadi artis teater Sunda. Menghidupkan budaya, sambil menghidupkan harapan.
Membayangkannya saja bulu kuduk saya berdiri. Sungguh, ini bukan hanya program. Ini sebuah gerakan. Ini pemantik masa depan.
Kemarin, ketika bertemu dengan tim Ciomy, percikan ide itu semakin mengembang dan berbinar. Ciomy yang bergerak ke berbagai titik wisata, ternyata bisa menjadi salah satu kontribusi penting bagi terwujudnya Kampung Bersinar. Ada jalur, ada peluang, ada titik temu yang begitu jelas. Dan itulah mengapa saya percaya, mimpi ini bukan lagi “jika”, tapi “kapan”.
Saya merasa terhormat bisa mendampingi Bu Vivi dalam perjalanan ini—perjalanan panjang yang penuh energi kebaikan karena bagi saya, kecintaannya pada Sunda dan Indonesia bukan hanya cerita, tapi magnet. Magnet yang membuat siapa pun ingin ikut berjalan di sampingnya.
Dan seperti biasa, saya selalu berdoa:
Semoga semua ikhtiar ini menjadi jalan cahaya.
Semoga setiap langkah menjadi saksi bahwa kita sedang berupaya sebaik-baiknya untuk menebar manfaat.
Semoga Kampung Bersinar benar-benar bersinar karena dari sinilah cerita baru akan segera dimulai.


