Hari ini saya kembali belajar bersama Teh Mia, sosok yang Allah hadirkan sebagai salah satu pendamping perjalanan ruhani saya.
Saya sering merasa banyak sekali kekurangan dalam diri—bacaan Al-Qur’an yang belum bagus, hafalan yang masih sedikit, pemahaman yang masih dangkal. Namun Teh Mia selalu berkata lembut, “Pahala itu berlimpah bagi orang yang mau bersungguh-sungguh.” Kalimat itu seperti pintu yang membuka hati saya setiap kali hampir merasa tidak mampu.
Materi hari ini tentang mahabatullah, kecintaan mendalam kepada Allah.
Kecintaan yang melahirkan komitmen pada syariat, keberanian menentukan orientasi hidup hanya kepada Allah, dan keteguhan untuk terus berjalan walau tertatih.
Dari cinta itu, seluruh amal terasa bercahaya. Hati menjadi terang, meski badan kadang menanggung letih. Inilah buah dari mencintai Allah.
Dalam proses meraih cinta itu, Teh Mia mengingatkan saya agar tidak berhenti memohon,
“Ya Allah, luruskan niatku hanya karena-Mu.” Bahkan untuk meluruskan niat pun kita harus meminta pertolongan Allah. Dari niat yang lurus, lahirlah ibadah yang khusyuk—bukan sekadar kewajiban, tapi karena rindu. Sedikit demi sedikit, kebiasaan baik muncul, menuntun langkah-langkah kecil saya menuju Allah.
Rasanya seperti Allah menuntun langsung, seakan berbisik, “Teruslah mendekat, Aku bimbing.” Saya ingin bersungguh-sungguh merindukan Allah. Ingin menjadikan seluruh hidup—keluarga, karya, bisnis—hanya untuk-Nya. Dan perjalanan ini terasa begitu indah karena saya tidak menempuhnya sendirian.
Saya dikelilingi circle yang selalu mengingatkan, menguatkan, dan menuntun saya kembali kepada Allah. MasyaAllah… semoga kerinduan ini terus tumbuh, dan semoga setiap langkah membawa saya semakin dekat kepada Rabb yang Maha Mencintai.


