7.6 C
New York
Minggu, November 30, 2025

Buy now

spot_img

Ketika Data Berbicara Pincang Karena Kepentingan Pribadi

Sudah tahu hingar bingar BLT saat ini? Sebenarnya, BLT dirancang sebagai tali penolong: hadir dari pemerintah untuk menopang langkah warga miskin yang sedang terperosok dalam kesulitan.

Tapi ternyata di lapangan, kisahnya sering berubah menjadi drama yang rasanya terlalu pahit untuk ditonton ulang.

Di banyak daerah, data kemiskinan menjadi arena yang tidak lagi suci. Mereka yang seharusnya menerima—rumah reyot, dapur seperti menghembus angin dingin, dan dompet yang nyaris kosong—justru tersisih dari daftar.

Sementara yang tercatat sebagai penerima… tampak seperti aktor yang salah audisi: rumah kokoh, motor mengilap, bahkan ada yang usahanya ramai setiap hari.

Di Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya, bukti-buktinya berseliweran seperti angin yang membawa bau ketidakadilan. Ada yang memamerkan bantuan sambil duduk di teras rumah megah.

Ada pula video pengakuan, “Saya warga miskin, berhak dapat bantuan,” sambil latar rumahnya tak mengisyaratkan sedikit pun kemiskinan.

Dan ketika ditelusuri, rupanya ada “jalur khusus”—teman aparat desa, saudara pejabat kecil, atau kerabat pengurus RT. Lingkar kecil yang menentukan siapa layak dan siapa tidak, meski kenyataan berkata sebaliknya.

Yang paling menyedihkan bukan hanya soal uang bantuan yang meleset sasaran. Yang lebih perih adalah hilangnya rasa adil. Seolah kemiskinan bisa dituliskan, bukan dirasakan. Seolah cukup dengan menandatangani selembar formulir, seseorang bisa menyamar menjadi miskin demi segepok rupiah.

Padahal di luar sana, banyak keluarga benar-benar membutuhkan: yang harus memilih antara membeli beras atau membayar listrik, yang makan bergantung pada belas kasih tetangga, yang tidur dengan atap bocor tetapi tetap tersenyum.

BLT seharusnya menjadi jembatan. Tetapi ketika data dikotori nepotisme, jembatan itu hanya mengantar sebagian orang—yang sebenarnya tak perlu diantar sama sekali. Yang benar miskin justru menunggu di seberang, tak pernah dijemput.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles