Ada satu hal yang selalu membuat saya takjub setiap kali bersama Dian Aryanti, founder Ciomy. Bukan hanya karena bisnisnya yang melesat luar biasa hingga menembus pasar internasional, tapi karena metamorfosa dirinya — perjalanan panjang yang membuat saya saat ini ingin terus belajar banyak darinya.
Saya mengenal beliau bukan hanya sebagai sahabat perjuangan, tapi juga sebagai sosok yang berubah begitu signifikan dari waktu ke waktu.
Beliau tumbuh menjadi perempuan yang bukan hanya kuat di bisnis, tapi juga matang secara spiritual, lembut dalam empati, dan teliti dalam memahami manusia.
Beliau selalu memandang setiap pelanggan bukan sekadar angka penjualan, tetapi sebagai individu yang datang dengan harapan, masalah, dan cerita. Selalu ada pendekatan personal. Selalu ada ketelitian dalam membaca kebutuhan. Selalu ada keinginan memberi manfaat sebanyak mungkin.
Dari beliau saya belajar bahwa bisnis bukan hanya soal strategi, tapi soal hati yang bekerja pelan-pelan, menyerap, mengamati, dan memahami. Bahwa solusi terbaik lahir dari kemampuan melihat lebih dalam—lebih halus dari yang tampak.
Saya sering memikirkan metamorfosanya: bagaimana ia membangun bisnis sebagai jalan dakwah, bagaimana ia bertumbuh dalam ilmu dan spiritualitas, hingga bagaimana Allah membuka pintu rezeki begitu luas baginya. Tak heran kini Ciomy menjadi brand yang viral, kuat, dan tetap penuh keberkahan.
Jujur saja, saya merasa perjalanan saya pun ikut terdorong. Ada bagian dari diri saya yang ingin mengikuti jejaknya — bertumbuh tanpa henti, memperkuat dakwah melalui karya, dan menggunakan bisnis sebagai wasilah kebaikan.
Masya Allah, metamorfosa seorang Dian Aryanti bukan hanya inspirasi—tapi cermin dan saya bersyukur pernah dan masih berjalan bersamanya di jalan perjuangan ini.


