Dalam perjalanan rumah tangga saya bersama istri, saya sering merenung tentang asal penciptaan perempuan.
Bukan dari tulang tengkorak—karena istri bukan makhluk yang harus dipuji berlebihan.
Bukan dari tulang kaki—karena dia bukan untuk diinjak atau disakiti.
Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk kiri, dekat dengan jantung. Seakan ingin mengingatkan saya: “Di sinilah letak tugasmu, jaga hatinya, lembutkan, dan bimbing dengan doa.”
Dulu, istri saya keras. Sikapnya spontan, reaksinya cepat, dan kadang membuat saya naik emosi. Tapi meski istri banyak salah, itu bukan alasan untuk menyalahkannya, itu justru tanda bahwa Allah sedang menitipkan amanah untuk saya perbaiki sebab tugas suami memang membimbing, bukan mengadili.
Tugas suami adalah menuntun, bukan memukul mental. Merangkul, bukan mendebat.
Saya belajar memulai dari tiga hal yaitu:
Pertama, doa.
Doa yang konsisten, doa yang memintakan hidayah untuk istri karena hati hanya bisa berubah bila Allah yang membalikannya.
Kedua, keteladanan. Cara saya memperlakukan istri, orang tua, dan anak-anak menjadi madrasah yang paling mudah ia lihat kadang istri tidak luluh oleh kata-kata, tapi luluh oleh contoh yang nyata.
Ketiga, dakwah dengan hikmah. Bercerita, berdialog, menyampaikan ayat dan hadis dengan lembut—tanpa menggurui.
Ketika setiap kali istri salah, belajar bertanya pada diri sendiri:
“Apakah saya belum cukup jelas? Apakah saya yang kurang teladan?”
Pertanyaan itu meredam emosi saya, membuat hati saya lebih lembut.
Saya teringat kisah Rasulullah ketika marah kepada Aisyah hingga wajah beliau memerah.
Namun beliau mendekat, lalu berkata, “Aisyah, pejamkan matamu.” Ketika Aisyah memejamkan mata, Rasul memeluknya dan berkata, “Yā ḥumairā… sesungguhnya marahku hilang ketika aku memelukmu.”
Itulah teladan terbesar bagi saya bahwa perempuan bukan untuk dimenangkan perdebatan akalnya, tetapi disentuh hatinya.
Hari ini, saya melihat perubahan dalam diri istri saya—perlahan, lembut, seperti hidayah yang turun setetes demi setetes bukan karena saya hebat, tapi karena Allah menjawab doa-doa itu.
Dan saya sadar…
Ketika seorang suami menjaga amanah ini dengan benar, Allah sendiri yang akan menjaga hati perempuan yang dititipkan di samping rusuknya.


