“Setiap mimpi yang ditulis adalah doa yang sedang mencari jalannya menuju langit.”
Pada Jumat, 21 November 2025, suasana hangat memenuhi ruangan sederhana di Kedai Gaza, Bandung. Hari itu, Gerakan Literasi Islami kembali digelar, sebuah kegiatan yang bukan hanya menghadirkan ilmu, tetapi juga menghadirkan harapan. Di hadapan anak-anak yatim Imah Seuri asuhan Kang Zae Hanan, Indari Mastuti berdiri berbagi kisah hidupnya. Sebuah kisah yang bukan sekadar cerita, tetapi pelita bagi anak-anak yang tengah belajar memupuk mimpi.
Sejak kecil, Indari sudah akrab dengan tulisan. Usianya baru delapan tahun ketika ia mulai membawa buku kecil ke mana-mana, mencatatkan apa pun yang dirasakannya. Ia sensitif, mudah menangis, dan justru dari situlah kekuatan itu lahir. Segala rasa: sedih, bahagia, kecewa, dimarahi, ia tuangkan menjadi rangkaian kata.
Membaca membuatnya bahagia. Dari kebahagiaan itu tumbuh sebuah keinginan sederhana: “Aku ingin menjadi penulis.” Di kelas 4 SD, ia menuliskannya di buku harian. Ia ingin karyanya dibaca orang lain, ingin membuat hati orang lain terang, sebagaimana buku menerangi masa kecilnya.
Namun, hidup tidak selalu manis. Ketika ia duduk di kelas 2 SMP, ayahnya jatuh sakit. Masa itu penuh kekurangan. Uang jajan sering kali tak cukup. Ketika ia mengadu, ayahnya berkata pelan, “Kamu punya sesuatu yang bisa kamu jual… tulisanmu.”, Kalimat sederhana itu menjadi pesan terakhir yang membekas sebelum sang ayah kehilangan kemampuan berbicara.
Indari tumbuh sebagai remaja yang mengurus ayahnya hingga akhir hayat, memandikan, menggunting kuku, menemani, dan menuliskan semua luka dan cintanya. Kesedihan yang melekat justru menuntunnya menemukan arah. Ketika masuk SMA, ia mulai bertanya: bagaimana tulisan bisa menjadi sumber penghasilan?
Dengan mesin tik tua milik tantenya, ia menulis artikel pertamanya: *“7 Cara Melepas Stres.”* Artikel itu dikirimkan ke Majalah Gadis. Beberapa waktu kemudian, honor pertamanya datang: Rp150.000. Dengan penuh bangga ia perlihatkan pada ayahnya, yang hanya mampu meneteskan air mata. Momen itu menjadi bukti bahwa tulisannya benar-benar bernilai.
Ia terus menulis, mengirim ke berbagai media, dan menjadikan mimpinya sebagai bahan bakar hidup. Ia menyebut dirinya “anak kecil dengan seribu satu mimpi.” Apapun yang diinginkan—rumah, mobil, masuk TV, menjadi pengusaha—semuanya ia tuliskan. Ia percaya mimpi tidak boleh diam di hati; mimpi harus dituliskan agar kelak bisa disyukuri ketika terwujud.
Di tengah kegiatan Gerakan Literasi Islami, Indari mengajak anak-anak Imah Seuri untuk menulis sepuluh mimpi. Ada yang ingin menjadi dokter, qori internasional, atlet voli, hingga memiliki tas kuning lucu. Tidak ada mimpi yang terlalu kecil atau terlalu besar. Semuanya sah, semuanya berharga.
Namun ia mengingatkan bahwa mimpi memerlukan tiga pilar utama: *niat karena Allah, doa yang konsisten, dan ikhtiar yang disiplin.* Ia menguatkan anak-anak dengan ayat Al-Qur’an:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Dan sebuah hadits yang mempertegas pentingnya usaha:
“Ikatlah dulu untamu, kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Mimpi bukan hanya ditulis lalu ditunggu. Mimpi harus dipupuk dengan sholat tepat waktu, belajar sungguh-sungguh, menjaga pergaulan, dan memilih langkah terbaik. Tidak ada atlet yang ahli tanpa latihan. Tidak ada dokter tanpa perjuangan panjang. Tidak ada penulis tanpa tulisan yang terus diasah.
Di akhir sesi, anak-anak membaca mimpi mereka satu per satu. Ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin populer, ada yang ingin membeli iPhone, ada yang ingin umroh bersama keluarga. Indari tersenyum, karena ia melihat dirinya sendiri di mata anak-anak itu.
Seorang gadis kecil yang dulu hanya memiliki mimpi… kini berdiri sebagai bukti bahwa mimpi yang dituliskan dengan niat, doa, dan ikhtiar tidak akan pernah sia-sia.
Hari itu, Gerakan Literasi Islami bukan hanya acara. Ia menjadi kisah tentang harapan, tentang keberanian bermimpi, dan tentang keyakinan bahwa masa depan dapat ditulis, sama seperti kata-kata yang dulu ditulis Indari di buku kecilnya. Ia menjadi saksi bahwa mimpi yang ditulis, lalu dilangitkan dalam doa, tidak pernah gagal menemukan jalannya.
#GerakanLiterasiIslami #ImahSeuri #IndariMastuti #MotivasiMenulis #AnakYatimBerdaya #MimpiAnakIndonesia #KedaiGazaBandung #LiterasiUntukSemua #BeraniBermimpi #StorytellingInspiratif


