Setiap detik dalam 24 jam hidup kita sejatinya adalah ibadah. Dari mata terbuka hingga kembali terpejam, semua adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah. Demikian kata guru saya, Teh Mia
Alhamdulillah, hari ini saya kembali bertemu guru sholehah, Teh Mia.
Allah izinkan saya menghadiri Holaqoh—sebuah majelis yang menerapkan konsep SMA: Senang Membaca Al-Qur’an dan Senang Menghafal Al-Qur’an.
Masya Allah… ini adalah pertama kalinya saya benar-benar mengikuti kegiatan menghafal Al-Qur’an dan ternyata, menghafal itu bukan tentang kemampuan luar biasa—tetapi tentang kembali meluruskan hati.
Teh Mia menyampaikan tiga langkah dasar untuk menghafal Qur’an:
• Berdoa dan meluruskan niat bahwa hafalan ini hanya untuk Allah.
• Meminta doa orang-orang salih, karena doa mereka menjadi pintu keberkahan.
• Istiqamah dan ikhtiar, dimulai dari yang sederhana—bahkan satu baris ayat pun sudah cukup asalkan dilakukan terus-menerus.
Satu hal yang paling menggugah hati saya adalah ketika Teh Mia berkata, “Allah tidak meminta Anda menjadi yang paling cepat. Allah hanya melihat seberapa besar kesungguhan Anda.”
Dan benar… menghafal itu bisa dimulai dari hal kecil: membaca ayat yang ingin dihafal sebelum salat, lalu membacanya di dalam salat, lalu mengulanginya setiap waktu. Perlahan, ayat itu akan tinggal di hati.
Teh Mia juga mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an pun harus dilakukan dengan romantis: Tenangkan hati, dekap Al-Qur’an, dekatkan diri, berdoa dulu… baru membaca karena Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi dialog cinta antara hamba dan Tuhannya.
Tiga syarat ibadah juga kembali ditegaskan—
• Lillahi ta’ala,
• Sesuai tuntunan yang diajarkan,
• Mengharap ridha Allah semata.
Masya Allah… hari ini saya diingatkan bahwa siapa yang dekat dengan Al-Qur’an, maka Allah sendiri yang akan menjaganya dan sesungguhnya, inilah cara paling indah untuk menjadikan seluruh 24 jam hidup kita sebagai ibadah yang hidup.


