Kalau saya selalu bilang bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, maka ketika saya bertemu Bu Sempa, saya justru melihat betapa banyak “kebetulan” yang bersusun rapi di hidup beliau.
Kebetulan yang terlalu tepat, terlalu indah, dan terlalu terarah… sampai saya merasa bahwa beliau adalah salah satu hamba yang Allah beri keistimewaan berupa keberuntungan yang beruntun. Masya Allah.
Beberapa jam berbincang dengan beliau di Villa Selayang, lalu berpindah ke the Olive —yang dikelola oleh anaknya, Abang Lazuardi—membuka banyak perspektif baru untuk saya. Bukan hanya tentang hospitality, bukan hanya tentang bisnis keluarga, tapi terutama tentang peran seorang komisaris yang ikut saya diskusikan pada beliau.
Ya, karena beliau adalah Komisaris Savoy Homan, saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya. Apalagi, tahun 2026 nanti saya pun akan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada profesional, dan mulai berperan sebagai komisaris di Indscript maupun Ammar Kaayu.
Jawaban Bu Sempa benar-benar meneguhkan hati saya: “Komisaris tetap harus punya goal paling besar untuk perusahaan. Dia harus memastikan arah besarnya tidak melenceng. Meeting tetap wajib. Arahan tetap harus diberikan. Komisaris itu bukan berhenti bekerja—hanya berbeda cara bekerja.”
Kalimat itu seperti membuka gerbang baru di kepala saya. Apa yang beliau sampaikan memberikan arahan bagi saya bagaimana saya dapat menjalankan amanah baru ini, sambil tetap menjadi jembatan emas bagi dua perusahaan saya: Indscript dan AmmarKaayu.
Saya pulang dengan hati penuh rasa syukur. Pertemuan ini—yang berawal dari voucher yang sudah expired—justru berubah menjadi pintu pembelajaran besar untuk masa depan saya.
Sekali lagi saya sadar: Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua sudah disusun Allah dengan desain paling indah, untuk membawa kita kepada orang-orang yang tepat, pada waktu yang paling tepat. Masya Allah. Alhamdulillah.


