Memasuki Bogor sore kemarin, selepas maghrib, saya spontan memposting di grup komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis Bogor.
Saya meminta maaf karena tidak bisa menyelenggarakan KOPDAR resmi—agenda saya di Bogor memang padat sekali. Namun saya menuliskan satu kalimat pembuka pintu: “Kalau ada yang ingin hadir ke lokasi saya, silakan. Bismillah, semua atas izin Allah.”
Suasana riuh di grup ketika tahu saya ada di kota Bogor tapi semua atas izin Allah untuk bisa bertemu di luar rencana saya di Bogor. Saya benar-benar tidak menunggu siapa pun. Mendadak sekali.
Tapi begitulah, ketika Allah menggerakkan hati seseorang, tidak ada yang kebetulan. Dua penulis Indscript datang: Cindy dan Yulia.
Yulia, penulis prestatif yang sudah bersama saya sejak 2020. Dialah yang dulu sering mendampingi saya ketika berkegiatan di wilayah Jabodetabek, yang mengurus IIDB Bogor, juga yang terus menulis dengan loyalitas dan ketekunan.
Dalam pertemuan, Yulia bercerita bagaimana skill menulis, public speaking, hingga pengalaman mendampingi saya, membuka pintu baru dalam hidupnya. Kini Yulia juga menapaki karier baru di posisi strategis di sebuah perusahaan besar. Masya Allah.
Cindy datang dengan mata berkaca-kaca. Ketika memeluk saya, ia berkata bahwa tidak pernah menyangka bisa bertemu langsung dengan saya. Video call kami beberapa waktu lalu saja sudah membuat semangatnya melonjak. Ia berharap pertemuan hari ini menambahkan energi baru untuk karier kepenulisannya.
Obrolan kami sederhana, tapi penuh makna. Kami berbicara tentang hidup, perjalanan, proses saya dalam perusahaan, hingga keputusan-keputusan besar yang harus saya ambil demi keberlangsungan Indscript. Mereka mungkin tidak menyangka begitu banyak fase jatuh-bangun yang saya lalui.
Namun satu hal yang saya tekankan kepada mereka—dan kepada diri saya sendiri: _Apa pun yang terjadi dalam hidup ini, kita harus tetap tegak melangkah._ karena setiap langkah yang tegak, selalu ada Allah yang menguatkan.


