Sebuah Sinopsis buku Antologi “Perempuan Tangguh–Dari Luka Menjadi Cahaya” karya 30 orang penulis, yang diterbitkan oleh CV Elfa Mediatama.
Ada kalanya luka tidak sekadar menyakitkan, tetapi juga menyala, menyalakan semangat hidup, menghidupkan empati, dan menuntun jiwa menuju cahaya. Dari semangat itulah lahir buku Perempuan Tangguh: Dari Luka Menjadi Cahaya, sebuah antologi yang memeluk pembacanya dengan kisah-kisah nyata dan reflektif tentang perempuan, luka, dan kebangkitan.
Buku ini bukan hanya kumpulan tulisan, tetapi warisan terakhir dari almarhumah Pipiet Senja, seorang penulis senior Indonesia yang dikenal luas sebagai pejuang literasi dan penyintas thalasemia sejak kecil. Meski tubuhnya lemah, semangatnya tak pernah padam. Ia menulis hingga akhir hayat, menjadikan pena sebagai napas, dan kisah sebagai bentuk pengabdian.
Gagasan buku ini berawal dari percakapan hangat Pipiet Senja dengan rekan-rekan penulis lain. Ia ingin menghadirkan karya yang bukan hanya menyuarakan kesedihan perempuan, tetapi juga keberanian mereka untuk bangkit. “Banyak kisah inspiratif yang bisa kita tulis sebagai pencerahan kepada masyarakat,” ucapnya. “Penulis jika jeli melihat, maka akan selalu menemukan cahaya dari setiap kejadian” lanjutnya.
Sayangnya, takdir berkata lain. Pipiet Senja berpulang ke hadirat Allah SWT pada 29 September 2025, sebelum sempat menuliskan prolog untuk buku ini. Namun, setiap halaman dalam antologi ini terasa seperti kelanjutan dari kalimat yang belum sempat ia tulis, karena semangatnya tetap hidup dalam karya para perempuan yang menulis bersamanya.
Melalui Perempuan Tangguh, kita diajak menyelami perjalanan batin perempuan yang pernah terluka, tetapi memilih untuk berdiri kembali.
Ada kisah seorang perempuan paruh baya yang menatap ruang sidang dengan tenang, bukan lagi dengan air mata. Ia tak lagi menuntut keadilan dari manusia, melainkan dari hatinya sendiri. Dalam kesunyian, ia menemukan kekuatan untuk memaafkan, dan di situlah penyembuhan bermula.
Kisah lain bercerita tentang seorang perempuan muda yang ditinggalkan di ambang pernikahan. Dunia seolah runtuh, tetapi ia memilih menulis, mengubah kesedihan menjadi kalimat, dan kehilangan menjadi pelajaran. Ia menyadari bahwa cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk pelukan, melainkan dalam keberanian untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu.
Dari pesisir timur, seorang ibu sederhana melahirkan anaknya di tengah badai, sementara suaminya tak pernah kembali dari laut. Ia menamai bayinya Arif, nama yang diucapkan sang suami sebelum pergi. Di tengah kehilangan, ia menemukan makna baru tentang harapan: bahwa setiap akhir selalu membawa kelahiran baru.
Ada pula kisah seorang perempuan yang kembali menemukan Tuhan setelah hidupnya hancur. Ia menulis, “Tidak semua yang hilang harus dicari, karena sebagian kehilangan justru menuntun kita pulang.” Kalimat itu menjadi inti dari buku ini, bahwa ketangguhan bukan berarti tak pernah jatuh, tetapi selalu berani untuk pulang ke diri sendiri.
Di bawah bimbingan almarhumah Pipiet Senja, para penulis dalam buku ini menulis dengan hati. Mereka menumpahkan luka menjadi kata, menjahit kenangan menjadi makna, dan menghadirkan cahaya dari sudut-sudut hidup yang mungkin pernah gelap.
Membaca buku ini seperti mendengarkan sahabat lama bercerita — tulus, mengalir, dan penuh empati.
Buku Perempuan Tangguh: Dari Luka Menjadi Cahaya menjadi simbol keberlanjutan semangat Pipiet Senja, bahwa menulis adalah bentuk penyembuhan, berbagi adalah bentuk kekuatan, dan setiap perempuan memiliki cahaya yang tak akan padam meski badai datang.
Bagi siapa pun yang sedang berjuang, buku ini adalah pelukan hangat dan pengingat lembut: bahwa ketangguhan bisa lahir dari berbagai cara, dan cahaya sejati sering kali bersumber dari luka yang pernah kita terima.
#PerempuanTangguh #DariLukaMenjadiCahaya #CahayaDariLuka #PipietSenja #WarisanLiterasi #AntologiPerempuan #KisahInspiratif #HealingJourney #KekuatanPerempuan #MenulisUntukPenyembuhan
Judul Buku: Perempuan Tangguh, Dari Luka Menjadi Cahaya Penerbit: CV Elfa Mediatama Penulis: Pipiet Senja dkk. (30 penulis) Cetakan Pertama, Oktober 2025 14 cm x 20 cm, 378 hlm.


