5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Langkah Kecil Menebar Cahaya Literasi Islami di SDN 112 Pamoyanan

Pagi itu, Kamis 13 November 2025, langit Bandung masih berembun lembut ketika saya melangkah menuju rumah Teh Indari, yang sekaligus menjadi kantor Indscript Creative. Udara pagi yang segar terasa seperti menyambut semangat baru dalam diri saya—hari itu saya mendapat tugas istimewa: menjadi narasumber Gerakan Literasi Islami (GLI) di SDN 112 Pamoyanan Bandung.

Awalnya saya mengira akan ditemani langsung oleh Teh Indari, sosok inspiratif di balik lahirnya banyak penulis sekaligus founder dari Gerakan Literasi Islami (GLI) ini. Namun ternyata, beliau sedang ada kegiatan lain dan dengan penuh percaya diri menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada saya. “Bu Arie pasti bisa melakukannya sendiri,” ujarnya sambil tersenyum menenangkan. Ucapan sederhana itu terasa seperti bahan bakar semangat yang membakar sedikit rasa gugup yang diam-diam muncul, meskipun kegiatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi saya sejak masih aktif bekerja.

Sebelum berangkat, saya sempat menyerahkan dua buku antologi terbaru saya kepada Teh Indari, yaitu “Perempuan Tangguh” yang memuat karya terakhir almarhumah Pipiet Senja dan “Cahaya yang Tak Pernah Padam”,  kumpulan kisah inspiratif para penulis dalam rangka mengenang sosok Pipiet Senja, seorang tokoh literasi senior sekaligus penyintas thalasemia yang baru saja berpulang empat puluh hari lalu. Kedua buku itu bukan sekadar karya, melainkan simbol semangat literasi yang ingin saya tularkan kepada para siswa nanti: bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, melainkan juga tentang menebarkan makna dan mengabadikan kehidupan.

Sesampainya di SDN 112 Pamoyanan Bandung, suasana sudah ramai oleh suara riang anak-anak yang tengah menyanyikan lagu-lagu semangat pagi. Dari ujung gang, tawa mereka terdengar seperti melodi penyambutan. Saya disambut hangat oleh para guru dan siswa yang penuh antusiasme—energi positif yang langsung menghapus rasa canggung saya.

Kegiatan dibuka oleh Ibu Nieta Puji Astuti, Kepala Sekolah SDN 112 Pamoyanan. Dengan senyum hangat, beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran tim dari Indscript yang membawa program GLI ke sekolah mereka. “Semoga anak-anak kami bisa semakin mencintai membaca dan menulis,” ujarnya penuh harap.

Saat tiba giliran saya berbicara di depan para siswa, saya mengawali dengan pertanyaan sederhana:

“Kegiatan apa yang pertama kali kalian lakukan saat membuka mata di pagi hari?”

Sontak, halaman sekolah penuh dengan celetukan kecil para siswa, berebut ingin menjawab. Ada yang berkata “mengucap syukur”, ada yang “langsung bantu ibu”, “membereskan tempat tidur”, bahkan ada yang jujur menjawab “main HP sebentar, Bu” yang disambut tawa teman-temannya.

Saya kemudian mengajak mereka untuk menuliskan rasa syukur yang mereka rasakan pagi itu. “Tuliskan tiga hal yang membuat kalian bahagia hari ini,” kata saya. Mereka mulai menunduk, serius menulis di lembaran buku mereka, sebuah pemandangan yang menyejukkan hati. Setelah itu, kami lanjut dengan menulis harapan hari ini, sebagai latihan sederhana menanamkan semangat positif sejak pagi.

Di sesi berikutnya, kami membahas cita-cita. Saya bertanya, “Apa impian kalian? Dan bagaimana kalian berusaha mencapainya?” Jawaban mereka sungguh beragam, ada yang ingin menjadi guru, dokter, hingga pemain sepak bola terkenal. “Saya mau jadi ustadz biar bisa ngajarin banyak orang,” kata seorang siswa dengan polos namun penuh tekad.

Menjelang akhir sesi, saya memberi tantangan kecil sebagai tugas literasi mereka, menulis tentang cita-cita mereka, alasan di balik pilihan itu, dan langkah kecil apa yang sudah mereka lakukan hari ini untuk mewujudkannya.

Kegiatan GLI hari itu ditutup dengan penyerahan buku dari Indscript dan dari saya untuk perpustakaan sekolah. Sebagai balasan, para siswa menyanyikan lagu ucapan terima kasih yang membuat suasana semakin hangat.

Sebelum pulang, saya sempat berbincang dengan guru koordinator literasi sekolah. Kami berdiskusi tentang bagaimana menumbuhkan budaya membaca dan menulis di kalangan siswa dengan cara yang menyenangkan. Karena sejatinya, literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang mengenal diri, mengasah empati, dan merancang masa depan melalui tulisan.

Hari itu saya pulang dengan hati penuh syukur. Di wajah-wajah ceria siswa-siswi SDN 112 Pamoyanan, saya melihat masa depan literasi yang bersinar. Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari gerakan besar, menumbuhkan generasi penulis muda yang berjiwa islami, cerdas, dan penuh empati.

Karena dari satu kata yang ditulis dengan hati, bisa lahir ribuan inspirasi.

#GerakanLiterasiIslami #IndscriptCreative #SDN112Pamoyanan #CintaMembaca #CintaMenulis #AnakHebatBerprestasi #LiterasiIslami #MenulisItuIbadah #GuruInspiratif #MasaDepanCemerlang

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles