0.7 C
New York
Rabu, Desember 10, 2025

Buy now

spot_img

Gerakan Literasi Islami Goes to SMKS PGRI 1 Kota Sukabumi: Menghidupkan Kembali Semangat Menulis di Tengah Dominasi Gadget

Infoindscript.com – Kediri, 11 November 2025

Pagi ini, 11 November 2025, perjalanan dimulai sejak pukul enam. Jarak yang tak begitu jauh, sekitar dua kilometer, ditempuh selama kurang lebih tiga puluh menit. Meski medan sudah dikenal, perjalanan tetap terasa seperti penelusuran baru, seolah sedang mencari arah menuju semangat yang ingin dihidupkan: semangat literasi di kalangan siswa SMKS PGRI 1 Kota Sukabumi.

Setibanya di lokasi sekitar pukul 06.45, suasana sekolah sudah ramai. Sebanyak 200 siswa telah berkumpul di aula, didominasi oleh siswi perempuan. Rasa ingin tahu terpancar dari mata mereka, meski sebagian masih sibuk dengan layar gadget di tangan. Inilah tantangan besar pendidikan masa kini: bagaimana literasi bisa tumbuh di tengah arus digitalisasi yang begitu kuat.

Para guru di sekolah pun mengakui hal yang sama. Kini, hampir seluruh proses belajar berbasis digital. Materi pelajaran dikirim melalui Google Drive, dan pembelajaran disampaikan lewat PowerPoint yang diakses dari ponsel. Perlahan, kebiasaan membuka dan membaca buku mulai tergantikan oleh layar digital. Minat membaca menurun, seiring semakin mudahnya informasi didapat tanpa harus membuka halaman demi halaman buku.

Namun, pagi itu berbeda. Melalui kegiatan Gerakan Literasi Islami Goes to School, yang dihadiri perwakilan penulis dari Indscript Creative, Ibu Hera Apriyani, semangat menulis kembali dihidupkan. Materi tentang jurnaling kebahagiaan dibawakan dengan cara yang ringan dan dekat dengan keseharian para siswa.

Pesan sederhana disampaikan: “Menulis adalah cara mengenal diri. Mulailah dari hal kecil: nama, tanggal lahir, atau kisah masa kecil yang ingin kamu ingat kembali.”
Perlahan, para siswa mulai meletakkan gadget mereka. Mereka mulai menulis, menenggelamkan diri dalam kata-kata.

Awalnya, suasana terasa canggung. Ketika diminta membacakan hasil tulisannya, tak satu pun tangan terangkat, semua menunduk, malu-malu. Namun perlahan keadaan berubah. Saat Ibu Hera mengadakan giveaway buku karya beliau sendiri, antusiasme mulai tumbuh. Judul buku yang dibagikan terasa begitu dekat dengan keseharian mereka, tentang rasa gagal, tentang perasaan tidak percaya diri. Dari situ, tangan-tangan mulai terangkat, dan satu per satu keberanian pun muncul. Cerita-cerita yang semula terpendam akhirnya mengalir keluar dengan tulus.

Dari situ, terlihat bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tapi juga keberanian mengekspresikan diri. Salah satu guru bahkan meneteskan air mata saat menyampaikan kesannya setelah kegiatan.

Baru kali ini, Bu, anak-anak mau benar-benar menulis. Biasanya kalau diminta menulis atau membaca buku, mereka enggan. Tapi hari ini mereka bergerak.”

Momen itu menjadi pengingat bahwa semangat literasi bisa tumbuh kembali, asalkan ada pendekatan yang menyentuh hati. Literasi Islami tidak hanya mengajarkan cara menulis, tetapi juga mengajarkan makna hidup: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan akan kemana kita menuju.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda sekolah, melainkan sebuah upaya membangun kesadaran dan akhlak melalui tulisan. Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, literasi menjadi jangkar agar generasi muda tidak kehilangan arah.

Semoga langkah kecil yang dilakukan di SMKS PGRI 1 Kota Sukabumi ini menjadi awal dari gerakan besar untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap menulis, membaca, dan memahami makna kehidupan. Sebab dari literasi lahir kesadaran, dan dari kesadaran tumbuh akhlak yang kuat, membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.***

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles