Satu hal yang benar-benar membesar dalam kegiatan Metanoiac Self-Healing adalah kesadaran untuk menjaga hati agar tidak sombong karena ternyata, di dalam kesombongan sekecil apa pun, tersembunyi jarak antara kita dan Allah.
Dalam proses ini, saya belajar bahwa tanda-tanda hati yang rendah dan tawadu itu begitu indah: tidak merasa punya kedudukan, mau menerima kebenaran, tidak mengejar jabatan, gemar menolong, santun dalam berbicara, mudah berterima kasih, ringan meminta maaf dan memaafkan, serta tidak berlebih-lebihan dalam apa pun.
Ketika saya melihat ke dalam diri, ternyata masih banyak ruang di hati yang belum bersih dari rasa ingin diakui, dari kesombongan halus yang seringkali tak disadari dan di situlah Allah mengajari saya dengan cara yang sangat lembut—melalui ujian finansial dan bisnis.
Allah mencabut sebagian nikmat dan pencapaian yang dulu saya banggakan. Tapi justru dari sana, saya menemukan rasa syukur yang jauh lebih dalam. Masya Allah… ternyata kehilangan itu bukan hukuman, tapi jalan pulang.
Saya mulai bersyukur karena dari masalah dalam bisnis, lahirlah banyak ide yang Allah ilhamkan. Saya jadi berpikir tentang swasembada pangan, dan kini punya kebun kecil di rumah. Dari sana saya bisa memanen bunga telang, bawang daun, bayam Brazil, hingga Belimbing. Saya belajar memasak sendiri, menjadi lebih mandiri secara pangan, dan merasakan nikmat sederhana yang sering terlupakan. Saya juga bersyukur karena masalah finansial mempertemukan saya kembali dengan banyak penulis lama Indscript, kami bersilaturahmi lagi, saling menyemangati, dan menemukan energi baru dalam menulis. Bisnis pun kini menjadi lebih sistematis—ada Instagram khusus untuk penjualan, ada sales manager, dan semua berjalan dengan niat memperbaiki diri, bukan sekadar mencari hasil.
Dan di hari kedua ini, dalam sesi kedua Metanoiac Self-Healing, saya tersentuh begitu dalam oleh penjelasan lembut Bunda Dewi. Beliau menjelaskan bahwa berusaha menjadi taat itu tidak mudah. Kadang kita jatuh, terseret ego, tergoda dunia, tapi justru di situlah latihan sejati itu berlangsung. Semakin Bunda Dewi berbicara dengan kelembutan dan ketenangan, semakin terasa bahwa setiap kata beliau menusuk hati saya.
Saya semakin yakin dengan apa yang disampaikannya bahwa janji Allah itu benar. Bahwa ketika kita benar-benar ingin kembali, Allah akan sambut dengan kasih yang tak terhingga.
Pesan Bunda Dewi pun begitu menggetarkan: “Hiduplah dengan rumus Allah, bukan dengan rumusmu sendiri. Dan senanglah melatih diri.” Kalimat itu sederhana, tapi menghantam kesadaran terdalam saya.
Selama ini, saya sering kali memakai rumus sendiri—logika bisnis, rencana manusia, strategi duniawi. Namun ternyata, rumus Allah jauh lebih lembut, lebih pasti, dan lebih menenangkan.
Terima kasih, Metanoiac Self-Healing, untuk setiap cahaya yang Kau hadirkan di hati kami. Hari kedua ini bukan hanya tentang belajar memulihkan diri, tapi tentang belajar percaya penuh pada Allah—dengan cara yang benar, dengan hati yang benar, dan dengan cinta yang benar karena akhirnya saya sadar,
Allah tidak pernah pergi dan apa yang terjadi dalam hidup saya karena Allah cinta, maka saya pun harus membesarkan rasa cinta saya pada-Nya.


