Hari ini saya bersyukur karena Allah pertemukan saya dengan sebuah perjalanan baru — perjalanan menuju pemulihan diri secara utuh.
Berangkat dan pulang dengan menggunakan Shejek membuat saya lebih terbantu pergi kemana-mana secara syar’i sehingga kini janjian kemanapun sepanjang wilayah Bandung menjadi sangat mudah.
Atas undangan teh Enur saya hadir di acara Metanoiac Self Healing, sebuah ruang belajar yang dirancang untuk menuntun manusia kembali mengenali dirinya, hatinya, dan Tuhannya.
Acara ini akan diselenggarakan pada 1–2 November 2025 di Posters Hotel MICE, Bandung, difasilitasi oleh dua sosok luar biasa: Pak Ir. M. Karebet Widjajakusuma dan Bunda Dewi Diana Sopiah.
Sejak lama saya mendengar nama Pak Karebet dari sahabat saya tercinta, Dian Arianti, pemilik Ciomy. Beliau sering bercerita tentang betapa dalamnya ilmu sang guru.
Maka hari ini, saya pun ingin berguru — dengan hati yang siap menerima, pikiran yang dikosongkan, dan diri yang ikhlas untuk belajar.
Saya percaya, self-healing bukan sekadar kegiatan relaksasi atau penyembuhan luka batin. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan spiritual untuk kembali pulang ke dalam diri dan kepada Allah.
Mengosongkan hati berarti memberi ruang bagi cinta yang hakiki; mengosongkan pikiran berarti membiarkan hikmah masuk tanpa hambatan; mengosongkan diri berarti menyiapkan wadah untuk diisi oleh cahaya-Nya.
Saya ingin menjalani setiap tahapannya dengan penuh kesadaran dan cinta. Karena di sanalah letak keajaiban proses penyembuhan diri — bukan dalam teori, tapi dalam rasa yang dirasakan dan iman yang tumbuh.
Setiap jiwa berhak sembuh, setiap hati berhak tenang, dan setiap langkah menuju kesadaran adalah bagian dari ibadah.
Hari ini, saya ingin melangkah dengan niat yang jernih — untuk menyembuhkan, untuk memahami, dan untuk mencintai dengan lebih dalam. Karena saya percaya, ketika hati, pikiran, dan diri dikosongkan dengan penuh keikhlasan, di sanalah Allah akan menanamkan cinta sejati yang sesungguhnya.


