5 C
New York
Senin, Desember 1, 2025

Buy now

spot_img

Sumpah Pemuda 2025: “Semangat Persatuan dari Sejarah Hingga Kini”

infoindscript.com – Jakarta, 28 Oktober 2025

Dari Sejarah ke Jaman Kini

28 Oktober 1928, di Gedung Volksraad, Kota Tua Jakarta (Batavia) pusat pemerintahan kolonial Belanda saat itu, dekat Kali Besar para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul. Mereka berbeda bahasa, suku, dan latar belakang, tapi punya satu tujuan: “bersatu untuk masa depan bangsa”. Dari pertemuan itulah lahirlah ikrar monumental:
“Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.”

Teks asli Sumpah Pemuda diambil dari hasil Kongres Pemuda II yang diadakan pada 27–28 Oktober 1928 di Jakarta (saat itu Batavia)

Teks Asli  (1928)

Poetoesan Congres

Poemoeda-Poemoeda Indonesia

Kami poetra dan poetri Indonesia,
mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia,
mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia,
mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Relevansi hingga kini

Sumpah Pemuda bukan sekadar cerita lama di buku sejarah. Hingga hari ini, hampir 97 tahun kemudian, semangat itu tetap relevan. Dunia sudah berubah: media sosial, teknologi, dan arus informasi hadir di genggaman semua orang. Tantangannya bukan lagi kolonialisme fisik, tapi perpecahan sosial, disinformasi, dan kurangnya kesadaran persatuan. Namun pesan pemuda 1928 tetap sama: persatuan adalah kunci, dan setiap generasi punya peran untuk menjaganya.

Refleksi sejarah

Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran bahwa perbedaan bukan penghalang, tapi kekuatan. Saat itu, Indonesia masih dijajah Belanda. Pemuda dari berbagai daerah menyadari tanpa persatuan, cita-cita kemerdekaan akan sulit tercapai.

Generasi 1928 berjuang dengan cara:

  • Menyatukan organisasi pemuda dari berbagai daerah, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Celebes, dan lain-lain.
  • Membangun kesadaran kebangsaan melalui diskusi, debat, dan publikasi.
  • Menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan meski sehari-hari mereka berbicara dengan bahasa daerah masing-masing.

Tokoh-tokoh Sumpah Pemuda

Beberapa tokoh penting yang berperan dalam Kongres Pemuda II dan pengikraran Sumpah Pemuda antara lain: Mohammad Yamin, Wage Rudolf Supratman, Chairul Saleh, Soegondo Djojopoespito, serta perwakilan pemuda dari berbagai organisasi. Pemikiran Ki Hajar Dewantara juga menginspirasi banyak peserta meski ia tidak hadir secara langsung. Sumpah Pemuda adalah hasil konsensus kolektif para peserta kongres, sehingga merupakan kerja sama banyak pemuda dari berbagai daerah.

Pengikraran dan peringatan tahunan

Usaha-usaha ini menghasilkan pengikraran Sumpah Pemuda secara resmi di Kongres Pemuda II, yang digelar di Gedung Volksraad, Jakarta (dahulu Batavia) dan sejak itu setiap 28 Oktober diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”. Perjuangan mereka membuktikan bahwa persatuan lahir dari kesadaran, kerja nyata, dan tekad untuk menyatukan visi bangsa.

Pelajaran dari sejarah

Pelajaran penting yang bisa diambil: bangsa yang kuat bukan hanya soal ekonomi atau politik, tapi juga bangsa yang bisa menghargai perbedaan dan bersatu dalam visi bersama. Nilai ini tetap relevan di era modern.

Suara generasi muda

Generasi muda sekarang punya cara unik untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda. Media sosial, komunitas kreatif, gerakan literasi digital, hingga aksi lingkungan menunjukkan bahwa persatuan bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk.

Beberapa contoh nyata :

  • Pemuda mengadakan kampanye anti-hoaks dan literasi media di Instagram, YouTube, atau TikTok.
  • Komunitas lokal mengajak warga lintas suku untuk kolaborasi proyek seni, budaya, atau sosial.
  • Start-up sosial memanfaatkan teknologi untuk mempererat solidaritas dan memudahkan kerja sama komunitas.
  • Pemuda dari berbagai kota berkolaborasi dalam proyek lingkungan dan edukasi untuk menguatkan kesadaran nasional.

Relevansi pesan kontemporer

Di era modern, Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa identitas nasional adalah aset penting. Bahasa Indonesia tetap menjadi alat pemersatu, sementara keberagaman budaya, agama, dan adat adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga.

Pesan modern dari Sumpah Pemuda juga menekankan tindakan nyata, seperti:

  • Bijak dalam penggunaan media digital: jangan menyebarkan hoaks atau menimbulkan konflik.
  • Aktif di komunitas: ikut kegiatan sosial, lingkungan, atau pendidikan.
  • Menghargai perbedaan: suku, bahasa, budaya, dan pandangan politik.
  • Kolaborasi lintas daerah: memanfaatkan teknologi untuk menyatukan ide dan aksi positif bagi bangsa.

Tips praktis menghidupkan semangat

Untuk membuat semangat persatuan terasa nyata, setiap orang bisa melakukan beberapa langkah sederhana:

  1. Kolaborasi Digital – buat proyek kreatif atau kampanye positif dengan teman dari kota atau daerah lain.
  2. Berbagi Budaya – pelajari bahasa daerah teman, ikut pertunjukan seni lokal, atau dokumentasikan tradisi unik di kampung halaman.
  3. Aksi Sosial dan Lingkungan – ikut kegiatan sosial atau program komunitas untuk memperkuat solidaritas.
  4. Literasi dan Edukasi – baca buku sejarah, ikut diskusi, atau menulis artikel tentang nilai kebangsaan agar wawasan tetap luas.

97 tahun sudah berlalu sejak Sumpah Pemuda diikrarkan, tapi maknanya tetap segar : bersatu itu penting, dan setiap generasi punya peran. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan digital, kita tetap bisa meneruskan semangat itu dengan cara kreatif, kolaboratif, dan inspiratif.

Sumpah Pemuda bukan hanya sejarah, tapi tantangan dan kesempatan bagi semua generasi. Bersatu dalam keberagaman, menjaga bahasa dan budaya, serta berkontribusi nyata bagi bangsa adalah cara kita berkata kepada dunia:

“Indonesia itu hebat, dan kita semua siap menjaganya!”

Dengan semangat itu, persatuan bukan sekadar slogan, tapi gaya hidup untuk semua golongan, dari yang muda hingga tua, dari kota hingga desa. Dan percayalah, persatuan itu memang keren!

 

Daftar Pustaka :
• Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dokumen dan Pidato-Pidato Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978.
• Pringgodigdo, A. K., dan H. Sulistyo. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
• Museum Sumpah Pemuda. Arsip Kongres Pemuda II, 1928. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
• Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Sejarah dan Naskah Sumpah Pemuda. Jakarta: Kemendikbudristek, edisi digital.

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles