Infoindscript.com-Bogor, 28 Oktober 2025
Di era digital yang serba cepat, membaca buku di tempat umum sering kali terlihat seperti kebiasaan langka. Padahal, kebiasaan sederhana ini punya dampak besar bagi peningkatan literasi masyarakat. Ketika seseorang membuka buku di taman, kafe, atau halte bus, ia sedang mengirim pesan diam tentang pentingnya membaca — tanpa perlu berkata apa pun.
Fenomena itu mengingatkan kita pada perubahan besar dalam kebiasaan literasi — membaca di tempat umum kini bukan hanya aktivitas pribadi, melainkan juga potret budaya yang berubah.
Membaca Buku di Tempat Umum: Cermin Kebiasaan Literasi
Dulu, membaca buku di tempat umum adalah pemandangan yang lazim. Kita bisa menemukan orang membaca koran di warung kopi, novel di kereta, atau buku pelajaran di taman kota. Kini, pemandangan itu kian jarang terlihat, tergantikan oleh orang yang sibuk dengan gawai.
Padahal, membaca di ruang publik punya makna sosial yang kuat. Saat seseorang membaca di hadapan publik, seolah-olah mengingatkan: “Masih ada dunia lain selain layar.” Kebiasaan ini bukan hanya soal menikmati bacaan, tetapi juga tentang memberi contoh nyata bahwa budaya literasi masih hidup.
Bahkan penelitian menyebutkan, tindakan sederhana seperti membaca di depan umum dapat memicu efek psikologis positif — baik bagi pembaca maupun orang di sekitarnya. Orang lain yang melihat akan merasa terinspirasi, penasaran, atau bahkan terdorong untuk mulai membaca kembali.
Membaca Buku di Tempat Umum sebagai Gerakan Literasi Harian
Gerakan literasi tak selalu harus besar dan formal. Ia bisa dimulai dari langkah kecil, seperti membaca buku di tempat umum setiap hari. Misalnya, membuka satu bab buku saat menunggu pesanan kopi datang, atau membaca dua halaman sebelum bus tiba.
Kebiasaan kecil ini dapat menumbuhkan rasa nyaman dan membangun ekosistem literasi di ruang publik. Bayangkan jika setiap orang membawa satu buku ke tempat umum. Taman-taman akan lebih hidup dengan suasana tenang, halte bus menjadi ruang belajar spontan, dan kafe bukan hanya tempat nongkrong, tetapi juga tempat menumbuhkan ide.
Selain itu, membaca di tempat umum juga memperluas ruang refleksi pribadi. Ketika seseorang membaca di tengah keramaian, ia belajar fokus dan memahami isi buku lebih dalam. Ini menjadi bentuk mindfulness — kesadaran penuh terhadap setiap kata yang dibaca, tanpa gangguan notifikasi atau media sosial.
Nilai Spiritual dan Sosial dalam Membaca di Ruang Publik
Dalam perspektif Islam, membaca adalah perintah pertama yang turun kepada Rasulullah SAW — “Iqra” (Bacalah). Artinya, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah dan pencarian makna hidup.
Ketika kita membaca buku di tempat umum, kita tidak hanya memperkaya diri sendiri, tetapi juga menebar inspirasi kepada orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menjadi bentuk dakwah literasi — menyampaikan pesan kebaikan tanpa harus berbicara.
Contohnya, seorang ibu yang membaca buku parenting di taman dapat menarik perhatian orang tua lain untuk ikut belajar. Seorang pelajar yang membaca buku motivasi di bus bisa membuat penumpang lain penasaran dengan isi bukunya. Dari sinilah, literasi menjadi gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Cara Sederhana Menormalisasi Kebiasaan Membaca di Tempat Umum
Berikut beberapa langkah kecil yang bisa mulai dilakukan untuk membiasakan diri membaca di ruang publik — sederhana, tetapi berdampak:
-
Bawa buku ke mana pun pergi.
Jadikan buku bagian dari tas harian, seperti ponsel atau dompet.
-
Mulai dari waktu singkat.
Baca lima sampai sepuluh menit sambil menunggu sesuatu.
-
Pilih buku ringan dan menarik.
Buku dengan bab pendek atau kutipan inspiratif lebih mudah dibaca di ruang publik
-
Jadikan rutinitas.
Semakin sering dilakukan, semakin terbentuk kebiasaan dan rasa percaya diri untuk membaca di depan orang lain.
Penutup
Menormalisasi membaca buku di tempat umum bukan hal sulit. Ia bisa dimulai dari satu orang yang berani membuka halaman di tengah hiruk pikuk kota. Dari satu pembaca, bisa lahir seribu inspirasi baru bagi orang lain.
Ketika ruang publik diisi dengan orang-orang yang membaca, kita sedang menanam benih literasi yang akan tumbuh menjadi peradaban berilmu. Jadi, bawalah buku hari ini — buka, baca, dan biarkan halaman-halaman itu berbicara kepada dunia.


