Kalau ditanya, seberapa penting AI untuk penulis?
Jawabannya: penting banget!
AI hari ini bukan lagi sekadar alat bantu tulis-menulis, tapi sudah menjadi creative partner bagi para penulis yang ingin berkembang.
Bukan hanya untuk membuat naskah lebih cepat selesai, tapi juga untuk mengolah ide, membuat visualisasi, hingga mempromosikan karya dengan cara yang lebih menarik.
Saya kasih contoh yang sangat menginspirasi — Ibu Arie Widowati, seorang purnabakti peneliti nuklir dari BRIN. Usianya tidak lagi muda tapi semangat belajarnya luar biasa.
Setelah mengenal AI, beliau mulai menggabungkan pengalaman panjangnya dengan kecanggihan teknologi.
Ibu Arie adalah penulis buku “Saat Aku Tahu Allah Tak Pernah Pergi.”
Awalnya, buku ini hanya berupa teks dan beberapa foto pribadi. Tapi setelah beliau mempelajari cara kerja AI, semuanya berubah.
Beliau mulai “mengotak-ngatik” foto-foto lamanya — mulai dari perjalanan di Mekah, hingga momen-momen berharga di masa lalu — lalu mengolahnya dengan bantuan AI menjadi visual baru yang indah dan bernilai emosional tinggi.

Hasilnya?
Foto-foto itu kini menjadi mock-up buku, materi promosi digital, dan bahkan visual pendukung storytelling yang memperkuat pesan bukunya.
Bayangkan, bagaimana sebuah buku bisa “hidup” di mata pembaca karena penulisnya mampu memanfaatkan AI dengan tepat.

Dari sinilah saya makin yakin:
Ketika penulis paham cara menggunakan AI, maka dunia kepenulisannya akan jauh lebih dinamis. AI bukan untuk menggantikan penulis, tapi untuk mengangkat nilai karya penulis itu sendiri — baik dari sisi ide, penulisan, desain, maupun strategi promosi.
AI adalah sahabat baru para penulis yang ingin terus bertumbuh dan ketika penulis mau belajar bersahabat dengan AI, maka batas kreativitasnya tidak lagi ada.



