Bank Sampah Bersinar baru 11 tahun bergerak di bidang tata kelola sampah dan kami pun terus mempelajari cara kelola sampah setepat mungkin bahkan secepat mungkin, maka Bank Sampah Bersinar merasa beruntung saat Ibu Hanifa mengajak BSB mengunjungi untuk belajar langsung dari lapangan — ke TPA Legok Nangka yang berlokasi di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.
Memiliki luas tanah kurang lebih 82.5 hektare ditargetkan melayani kawasan Bandung Raya dan sekitarnya (Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut) dengan kapasitas layanan ~2.000 ton per hari.
Tempat itu bukan sekadar lokasi pembuangan akhir, melainkan cermin dari persoalan bangsa yang begitu kompleks: sistem pengelolaan yang belum optimal, kesadaran masyarakat yang masih rendah, serta rantai panjang permasalahan lingkungan yang tak kunjung putus.
Begitu turun dari kendaraan, aroma menyengat langsung menyapa. Gunungan sampah menjulang, di antara kepulan asap tipis dari pembakaran liar.
Namun di balik semua itu, ada kehidupan. Para pemulung sibuk memilah, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan seolah waktu berhenti di sana — di tengah perjuangan antara bertahan hidup dan menjaga bumi.
Sebagai mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup di Kalimantan, Bu Hanifa memahami benar peta besar persoalan ini. “TPA adalah tempat terbaik untuk belajar realitas,” katanya sambil menatap jauh ke tumpukan sampah yang seperti tak berujung. “Karena dari sinilah kita tahu, bahwa mengatasi sampah bukan hanya soal teknologi, tapi soal kesadaran manusia.”
Kunjungan ke TPA ini menjadi titik refleksi bagi BSB setelah melihat bagaimana banyak daerah masih bergantung pada sistem buang-timbun tanpa pengelolaan lanjutan. Tidak ada pemilahan, tidak ada pemberdayaan. Padahal di balik setiap botol plastik dan sisa makanan itu, tersimpan potensi ekonomi dan sosial yang luar biasa — jika dikelola dengan cara yang benar.
Dari sanalah, perjalanan menuju Bank Sampah Bersinar terasa seperti bab baru dalam pembelajaran. BSB menyadari bahwa BSB bukan hanya tempat mengelola sampah, tapi juga tempat menata harapan. Di BSB, sampah punya nilai. Data punya peran. Dan manusia menjadi pusat perubahan.
Melihat perbedaan nyata itu, Bu Hanifa menegaskan bahwa TPA bukan akhir, melainkan awal dari transformasi. “Kita harus belajar dari TPA, tapi jangan berhenti di sana. Kita harus melangkah menuju sistem seperti Bank Sampah Bersinar — tempat di mana sampah bukan lagi musuh, tapi sumber kebaikan.”
Perjalanan itu meninggalkan pesan mendalam: bahwa untuk menyalakan gerakan besar, kita semua harus berani belajar dari tempat yang paling kotor — karena justru dari sanalah lahir kesadaran yang paling murni.


