7.6 C
New York
Minggu, November 30, 2025

Buy now

spot_img

Menulis untuk Menata Hati, Mengelola Sampah untuk Menjernihkan Pikiran

Hari ini, saya mendapatkan kesempatan istimewa menjadi dosen tamu di Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

Bersama saya hadir sosok luar biasa, Ibu Fifie Rahardja, Owner dari Bank Sampah Bersinar, yang selama ini menjadi sahabat gerakan dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli — bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada keseimbangan diri.

Dalam sesi ini, saya berbagi tentang manfaat menulis dan journaling — sebuah aktivitas sederhana, namun berdampak besar bagi kesehatan mental dan kestabilan emosi.

Indari Mastuti di Universitas Jenderal Achmad Yani

Saya bertanya kepada mahasiswa yang hadir, “Siapa yang rutin melakukan journaling?”
Dari sekitar tiga puluh peserta, hanya satu tangan yang terangkat.

Ketika saya tanya bagaimana rasanya menulis jurnal, ia menjawab dengan polos, “Saya merasa senang aja kalau baca lagi tulisan journal saya.”

Jawaban sederhana itu begitu bermakna. Dari satu responden saja, saya bisa menarik sebuah kesimpulan kecil: belum banyak orang yang menggunakan menulis sebagai cara untuk menetralisir perasaan.
Padahal, journaling bukan hanya tentang menulis, tapi tentang menyembuhkan diri sendiri.

Melalui Gerakan Literasi Islami, kami sedang melakukan kampanye Journaling untuk Gen Z.

Harapannya, journaling bisa menjadi kebiasaan yang menumbuhkan kesadaran diri, menjaga kestabilan emosi, dan membantu generasi muda memahami arah hidupnya dengan lebih baik.

Dan hari ini, pembahasan kami menjadi semakin menarik karena saya hadir bersama Ibu Fifie Rahardja. Kami menemukan bahwa ternyata literasi dan pengelolaan sampah memiliki hubungan yang sangat erat.

Fifie Rahardja di Unjani

Orang yang terbiasa mengelola sampah dengan baik — memilah, mengolah, dan menjaga kebersihan lingkungannya — biasanya memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik.

Mengapa?
Karena cara kita memperlakukan sampah sering kali mencerminkan cara kita memperlakukan masalah dalam hidup.
Bila kita terbiasa menunda, membuang sembarangan, atau menyepelekan hal kecil, biasanya kita pun melakukan hal yang sama terhadap emosi dan persoalan pribadi.

Maka ketika literasi (menulis) bertemu dengan pengelolaan sampah (kesadaran diri), terciptalah keseimbangan antara kebersihan hati dan kebersihan lingkungan. Dua hal ini saling menguatkan, saling menyembuhkan, dan saling menumbuhkan.

Masya Allah, betapa indahnya ketika menulis menjadi sarana menata hati, dan memilah sampah menjadi jalan menjernihkan pikiran.

Keduanya adalah bentuk ibadah harian jika dilakukan dengan niat karena Allah.
Inilah semangat kami dalam Gerakan Literasi Islami — menyebarkan ilmu, menyentuh hati, dan membersihkan bumi.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles