Infoindscript.com – Kediri, 22 Oktober 2025
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, belajar, dan mengakses informasi. Dunia literasi pun mengalami pergeseran, dari halaman kertas menuju layar gawai. Di tengah derasnya arus informasi global ini, hadirnya Gerakan Literasi Islami menjadi upaya penting untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, moral, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat modern. Literasi Islami bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang memahami, menginternalisasi, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan.
Gerakan Literasi Islami di era digital berfungsi sebagai jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan kebutuhan generasi masa kini. Ia berupaya menghidupkan kembali semangat membaca dan menulis dengan niat ibadah, memperkuat karakter umat, serta menjadi sarana dakwah yang relevan di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan penuh distraksi.
Literasi Islami sebagai Fondasi Peradaban
Dalam sejarah Islam, literasi memiliki posisi yang sangat luhur. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca, sebuah tanda bahwa pengetahuan merupakan dasar kemajuan peradaban. Para ulama terdahulu menulis ribuan kitab yang menjadi rujukan keilmuan di berbagai bidang: dari teologi, filsafat, kedokteran, hingga sastra. Hal ini menunjukkan bahwa literasi adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan umat Islam menuju kemajuan.
Namun, di tengah kemudahan era digital, minat membaca dan menulis justru mengalami tantangan serius. Banyak generasi muda yang lebih tertarik pada konten instan dibandingkan bacaan mendalam. Di sinilah Gerakan Literasi Islami hadir untuk mengembalikan semangat menulis dan membaca yang bermakna, bukan sekadar konsumsi informasi, tetapi juga internalisasi nilai. Literasi Islami mengajarkan bahwa setiap kata yang ditulis dan dibaca dapat menjadi amal jariyah bila diniatkan untuk kebaikan.
Tantangan Literasi Islami di Era Digital
Era digital membawa peluang besar, tetapi juga tantangan yang kompleks. Di satu sisi, dunia maya memberikan ruang luas bagi penulis, dai, dan penggerak literasi untuk menyebarkan pesan kebaikan secara cepat dan luas. Namun di sisi lain, maraknya informasi yang menyesatkan, ujaran kebencian, serta budaya instan menjadi ancaman bagi kemurnian pesan dakwah.
Banyak generasi muda yang memiliki akses tak terbatas terhadap informasi, tetapi belum memiliki kemampuan literasi digital yang kuat. Mereka bisa dengan mudah membaca, tetapi belum tentu mampu menelaah kebenaran dan nilai dari informasi yang diterima. Oleh karena itu, gerakan literasi Islami perlu hadir bukan hanya untuk mengajarkan menulis dan membaca, tetapi juga membimbing masyarakat agar bijak, kritis, dan beretika dalam bermedia digital.
Selain itu, tantangan lain yang muncul adalah bagaimana mengemas nilai-nilai keislaman dengan gaya komunikasi yang menarik dan sesuai dengan karakter generasi digital. Bahasa yang ringan, visual yang menarik, dan konten yang relevan menjadi kunci agar pesan literasi Islami dapat diterima lebih luas.
Strategi Menguatkan Gerakan Literasi Islami
Untuk memperkuat Gerakan Literasi Islami di era digital, dibutuhkan strategi yang terarah dan kolaboratif. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperkuat Edukasi Literasi Digital Islami
Penggerak literasi, guru, hingga penulis perlu mendapatkan pelatihan tentang cara menulis dan menyebarkan konten Islami yang sesuai dengan etika dakwah digital. Mereka juga harus memahami cara menggunakan media sosial, blog, atau platform digital sebagai sarana menyebarkan ilmu dan inspirasi dengan tanggung jawab moral. - Kolaborasi Pentahelix
Gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi ini memungkinkan literasi Islami berkembang dalam berbagai bentuk: pelatihan di sekolah, penerbitan buku, kampanye digital, hingga kegiatan sosial berbasis literasi. - Meningkatkan Kapasitas Penulis dan Trainer Literasi
Para penulis dan trainer perlu terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Mereka dapat menjadi fasilitator yang tidak hanya menulis, tetapi juga melatih generasi muda untuk menulis dengan nilai dan makna. - Mendorong Produksi Konten Islami Berkualitas
Di tengah lautan informasi digital, kualitas menjadi pembeda. Tulisan, video, atau infografis bernuansa Islami perlu dikemas secara profesional dan menarik agar mampu menyaingi konten populer yang beredar di dunia maya. - Menumbuhkan Budaya Literasi di Lembaga Pendidikan dan Komunitas
Sekolah, kampus, dan komunitas Islam dapat menjadi pusat kegiatan literasi. Melalui kegiatan seperti workshop menulis Islami, kajian literasi, dan kampanye baca buku, gerakan ini dapat ditanamkan sejak usia dini hingga dewasa.
Dampak Literasi Islami bagi Masyarakat
Gerakan Literasi Islami membawa dampak positif yang luas. Pertama, ia membantu membangun karakter individu yang berpikir kritis namun tetap berlandaskan nilai-nilai spiritual. Kedua, literasi Islami menumbuhkan kesadaran sosial bahwa menulis dan membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah yang bernilai pahala. Ketiga, gerakan ini memperkuat ukhuwah (persaudaraan) antara penulis, pembaca, dan lembaga yang peduli terhadap pengembangan ilmu dan akhlak.
Di era digital yang sering kali menimbulkan kejenuhan, stres, dan disinformasi, literasi Islami hadir sebagai oase yang menenangkan. Melalui tulisan yang mengandung nilai moral dan keteduhan spiritual, masyarakat diajak untuk kembali pada esensi ilmu yang bermanfaat dan menumbuhkan ketenangan jiwa.
Penutup
Menguatkan Gerakan Literasi Islami di era digital adalah tugas bersama. Setiap individu, penulis, pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat umum, memiliki peran dalam menanamkan semangat menulis dan membaca yang bernilai kebaikan. Dunia digital seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai Islam, melainkan menjadi sarana untuk menyebarkannya dengan cara yang bijak dan penuh hikmah.
Melalui kolaborasi, komitmen, dan konsistensi, Gerakan Literasi Islami dapat menjadi kekuatan besar yang membentuk masyarakat cerdas, berakhlak, dan berdaya spiritual tinggi. Sebab pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga perjalanan ruhani untuk memahami kehidupan, memperbaiki diri, dan menebar manfaat bagi sesama.***


